Me And My Step Brother

Me And My Step Brother
Smilling?


__ADS_3

Aku suka mendengar detak jantungnya ketika tidur di dadanya.


Aku juga suka perlakuan lembutnya, belainnya, derai nafasnya dan bau tubuhnya.


Bibirnya merupakan candu yang dapat membuatku terbuai untuk menginginkan lagi dan lagi.


Permainan lembutnya seolah mengatakan aku ini istimewa dan tak ingin melukaiku, namun juga tak membuatku menderita.


Membuatku melupakan; jika apa yang kami lakukan ini salah.


Aku ingin menyebutkan namanya dalam pel*p*sanku.


Tapi aku tak bisa melakukannya, karena aku tahu- jika aku melakukannya, hubungan terlarang ini akan berakhir. Karena aku dan dia memiliki sebuah ikatan.


Ikatan yang membuatku tak bisa memilikinya, meski aku tahu jika ia juga menginginkanku.


Sebuah ikatan yang di hubungkan tali kekeluargaan.


Karena aku dan dia adalah...,


Saudara.


🌸🌸🌸

__ADS_1


β€œHei! Adik tiri jelekku.” panggil Arnold kala kita sudah berada di restoran cepat saji.


β€œ apa? Kakak tiri buruk rupaku.” balasku. Sambil mengacungkan garpuku. Tampak Arnold yang menampilkan mimik pura- pura terkejut sambil menurunkan garpuku.


β€œ bagaimana jika kau bekerja di perusahaanku.” ucap Arnold.


β€œ apa maksud kakak adalah perusahaan tempat kakak bekerja?” tanyaku.


β€œ yap.”


β€œ memangnya bisa?” heranku.


β€œ memangnya tidak bisa?” balasnya menirukan mimik wajahku.


β€œ benarkah bisa?” ucapku kurang yakin.


β€œ kau mau atau tidak?” ucap Arnold- tampaknya ia tak suka berbasa- basi.


β€œ tidak, terima kasih.” ucapku memilih mengiris sossis dengan sauce barbecue milikku.


β€œ WHAT! WHY?” ucap Arnold terkejut mendengar jawaban ku.


β€œ kau tahukan aku memiliki kekurangan?” ungkapku mengingatkan kembali.

__ADS_1


β€œ kau memang tidak sempurna, namun itu bukan sebuah alasan untuk tidak bekerja- maksudku di sebuah perusahaan.” ucap Arnold yang dengan cepat mengubah maksud ucapannya- karena ia tahu aku juga bekerja, meski hanya melalui sebuah aplikasi daring.


β€œ ya, kau benar. Namun, mungkin ada alasan mengapa perusahaan tak mau menerima ku.


Jika hanya karena aku memiliki orang dalam- aku bisa masuk ke dalam perusahaan mu- itu sama saja dengan mereka tak mengakui ku; pantas- namun tetap menerima ku karena dirimu. Dan aku tak suka seperti itu! Aku ingin masuk karena usahaku sendiri- karena aku yang pantas untuk masuk ke perusahaan itu dan bukan karena hal curang seperti itu.”ungkap ku. Arnold hanya terdiam namun sekali lagi ia memandangku dengan tatapan yang berbeda dari biasanya.


β€œ lagi pula, aku yakin masih banyak orang yang lebih pantas dan berhak bekerja di perusahaan dari pada aku.” lanjutku.


β€œ kau benar.” ucap Arnold tersenyum.


🌸🌸🌸


Setelahnya, kami memilih langsung pulang kerumah.


Dan saat pulang, tampak hari sudah gelap dan aku memutuskan langsung beristirahat setelah membersihkan tubuhku.


Aku selalu mematikan lampu ketika tidur. Meski memiliki claustrophobia, aku takkan bisa tidur jika tidak tidur dalam gelap. Bahkan biasanya aku selalu tertidur tanpa menggenakan sehelai kain pun kecuali selimut yang menutupi semua tubuhku. Aku merasa lebih nyaman seperti itu. Bahkan saat hari sedang dingin sekalipun, aku tak terbiasa memakai jacket. Aku lebih suka memakai selimut yang lebih tebal dari pada memakai apapun di tubuhku.


Aku bahkan terbiasa tak menggenakan apapun setelah mandi. Membiarkan air di tubuhku mengering sendiri di terpa kipas angin- baru setelah kering aku akan memakai pakaianku. Mungkin ini kebiasaan? Atau mungkin mendarah daging? Entah dari mendiang mama ku atau dari papa ku. Kenapa aku bisa mengatakan hal itu? karena kakak kandung ku memiliki kebiasaan yang sama. Ia bahkan kerap hanya menggenakan pengaman segitiga untuk menutupi kebanggannya setelah sepulang sekolah dan tak menggenakan apapun lagi- dulu.


Dan tak ada perasaan risih sama sekali dari kami, aku yang seorang wanita juga terbiasa melihat kakak kandungku seperti itu. Toh, dia adalah saudara kandungku, tak mungkin juga memiliki pikiran yang macam- macam terhadapku.


Namun semua kebiasaan itu terpaksa tidak aku lakukan karena aku tak tinggal sendirian di dalam rumah. Hanya jika aku yang secara tak sengaja menjatuhkan pakaianku hingga basah- membuatku terpaksa keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk yang menutupi tidak sampai setengah tubuhku. Yang membuatku heran adalah, Arnold yang melihatnya hanya tersenyum. Seolah menunggu sesuatu. Dan kurasa aku akan mengerti maksud dari sesuatu yang di tunggunya itu.

__ADS_1


__ADS_2