Medicinal Spirit

Medicinal Spirit
episode 35 : penipu yang menjual obat palsu


__ADS_3

"Disaat diriku mulai pasrah terhadap kondisi kesehatan putriku, datang nona Su Luxie yang mengulurkan tangannya untuk membantuku."


"Pada saat dikegelapan pasar gelap, aku terhuyung-huyung diderasnya hujan hanya untuk mencari sesuatu yang bisa menyembuhkan sakit langka yang diidap oleh putriku."


"Aku sudah mencari kesana dan kemari, namun, nihil! Aku hanya bisa duduk dikegelapan sambil menangis dengan kondisi putriku saat itu."


"Aku pikir pada kegelapan akan timbul sesuatu yang berbahaya, namun siapa sangka?! Dari arah depan terlihat sebuah cahaya terang yang mulai menghampiriku."


"Aku menyangka itu adalah seorang malaikat. Namun, ternyata itu adalah nona Su Luxie yang datang dengan payungnya. Dia menghampiriku dan kemudian mengulurkan tangan padaku."


"Dengan ragu aku mengambil uluran tangan itu dan kemudian mengikuti semua yang dia katakan padaku. Aku seperti telah di hipnotis olehnya kala itu."


"Tapi... pada momen itu aku mulai tersadar, aku bisa melihat kondisi putriku yang kembali membaik seperti sedia kala."


"Aku mulai menangis pada saat itu. Aku benar-benar berterima kasih dan berhutang budi. Pada saat itu, aku dan putriku berkomitmen untuk mengabdi pada nona Su Luxie."


"Bahkan saat ini, aku tetap mengabdikan diriku padanya."


Guru Lim membenak dari lubuk hatinya yang paling dalam. Dengan senyuman nya itu, dia melihat Su An'yang dan Su Tiao, sedang meratapi taman bunga yang sangat indah dipandang mata.


Dirinya begitu senang, karena bisa melayani anggota keluarga Su Luxie, sang nona penyelamat miliknya.


Disaat guru Lim yang sedang disibukkan dengan menemani Su An'yang dan Su Tiao melihat-lihat sekitar akademi. Disisi yang berbeda, justru Su Luxie sedang menghabiskan waktu bersama Merlyn disuatu tempat yang asing.


Mereka berjalan-jalan disebuah pusat pasar Xiao timur yang sangat terkenal diberbagai kalangan. Saat itu, pemandangan benar-benar sangat mengembirakan bagi Su Luxie.


Suasananya yang ramai, berisik dan bahkan meriah. Su Luxie tentunya sangat suka pada suasana tersebut.


Berbeda sekali yang dirasakan oleh Merlyn. Merlyn justru terlihat seperti sedang tertekan karena suara berisik yang telah menganggu pendengaranya. Namun, apa yang harus dia lakukan? Dia rasa, dia tidak perlu melakukan apa-apa. Cukup diam tanpa membuat ekspresi sedikitpun.


Disisi kiri terlihat kios seseorang yang sedang menjual berbagai ramuan dan hasil pil sulihan. Mata Su Luxie mulai tertuju pada kios tersebut.


"!" Namun, aneh jika dirinya terlihat terkejut saat melihat pada ramuan-ramuan didepan matanya.


Apa yang sebenarnya terjadi? Su Luxie memicingkan matanya dan menatap sinis pada penjual ramuan itu.


"Seorang penipu seharusnya mati saja!" Gumam Su Luxie begitu pelan sehingga mungkin suaranya tidak terdengar oleh siapapun.


"*Bagaimana ada orang yang tega menjual obat-obatan palsu ini?! Jika itu barang, mungkin akan dimaklumi. Tapi, ini obat!"


"Konyol! Mereka ingin membuat seseorang mati dengan obat mereka*!" Benak Su Luxie.


Dirinya memandang dengan sinis kepada penjual obat tersebut, sehingga Merlyn angkat bicara atas diamnya Su Luxie.


"Apa yang kau pikirkan, nona? (mengapa ekspresi wajahmu seperti itu, siapa yang mengusikmu?!)" Tanya Merlyn dengan nada yang mulai mengintimidasi sekitar.


Su Luxie menoleh masih dengan raut wajah kesalnya.


"Tidak." Jawab Su Luxie.


"?!" Merlyn terlihat kebingungan.


Mengapa Su Luxie terlihat sedang kesal tapi saat ditanya malah tidak menjawab? Itulah yang dipikirkan Merlyn saat itu.


"Tidak? Tapi... kau terlihat sedang kesal." Kata Merlyn masih kebingungan.


Su Luxie kembali menoleh pada Merlyn.


"Bisa kau borong semua obat-obatan yang ada disana. Aku cukup terganggu melihatnya!" Kata Su Luxie dengan nada suara datar seperti terlihat sangat kesal.

__ADS_1


"?"


"Apa nona kesal karena melihat orang lain bisa menjual obat didepannya? Kurasa, tidak sesederhana itu." Benak Merlyn melihat pada obat-obat yang dimaksut oleh Su Luxie.


"Baik, nona." Jawabnya.


Dengan patuh Merlyn mulai berjalan menuju kios itu. Seperti biasa, sebuah ekspresi nya yang datar dia mulai mengeluarkan sebuah kantungan yang berisikan beberapa koin.


SRENG..


Dia melempar kantung koin itu sambil berkata


"5 koin rulex, aku menginginkan semua obat mu." Katanya dengan sikap yang dingin. Sungguh terlihat seperti orang kaya!


"!"


Seorang penjual ramuan tersebut membesarkan kedua netranya tat kala mendengar seseorang yang akan memborong obatnya dengan 5 koin rulex? 5 koin rulex?!


Pria penjual obat itu menoleh secara bergantian antara obat miliknya dengan Merlyn yang sedang menatap dingin padanya.


"B, benarkah?" Katanya tidak percaya sambil membuka mulut dengan lebar.


"Cepatlah, aku tidak punya waktu!" Kata Merlyn menimpali omong kosong pria didepannya.


"Dia ingin membuat nona-ku menunggu?! Akan ku potong ginjalmu!" Lanjutnya membenak.


"Ba, baiklah!" Pria itu secara tergopoh-gopoh mulai memasukkan semua ramuan miliknya kedalam sebuah bungkusan yang lumayan besar.


"Hmmm!" Merlyn mendehem, menatap tajam pada pria penjual obat itu.


Pria itu semakin mempercepat pergerakan saat merasakan hawa mengintimidasi milik Merlyn. Yah... dia sedang gugup sehingga keningnya dipenuhi dengan peluh keringat.


"Ini obatmu, nona." Ucapnya memberikan semua obat-obatan itu pada Merlyn.


Merlyn merampas obat-obatan itu sambil terus menatap pada pria penjual obat.


"Kau terlihat seperti orang bodoh!" Kata Merlyn tanpa memilah kata-kata yang hendak ingin dia keluarkan untuk orang lain.


Dengan santai dia pergi dari sana tanpa mau melirik kearah belakang lagi.


"?!"


"A, aku? Bodoh?" Pria itu terlihat seperti orang bodoh yang sedang tersinggung. Dia menatap Merlyn kesal namun tidak bisa berbuat apa-apa. Memang seperti orang bodoh!


Merlyn berjalan mendekati Su Luxie tanpa merasakan perasaan bersalah saat menyebut seseorang dengan sebutan bodoh.


Dengan raut datar nya dia bicara


"Ini obatmu, nona." Ujarnya menunjukkan bungkusan obat yang ada ditangannya.


Su Luxie menatap cukup lama pada obat-obat itu, dia menyentuh obat itu dengan memejamkan matanya.


"Yah... dia memang membuat obat ini seorang diri. Penipu yang memang seharusnya dimusnahkan." Benak Su Luxie tak lama saat memegang bungkusan obat yang ada ditangan Merlyn.


Merlyn memiringkan kepala nya, melihat pergerakan Su Luxie yang cukup membingungkan.


"Ada apa, nona? Kau terlihat sedang tidak senang." Kata Merlyn mulai bertanya.


"Obat-obat yang dijual pria ini semuanya palsu! Dia seorang penipu, kita mendapat kan seorang penipu didepan mata kita." Jawab Su Luxie.

__ADS_1


"!"


Merlyn menggeram, dia meremas tangannya.


"Bajingan sial itu!" Geram Merlyn.


Dengan emosi kesalnya, Merlyn hendak ingin melangkahkan kaki nya kembali pada kios tersebut. Namun...


"Tidak. Jangan kotori tanganmu, Merlyn." Ujar Su Luxie menghentikan langkah Merlyn.


Langkah Merlyn tertahan ditempat.


"Tapi, mengapa?" Tanya Merlyn semakin tidak mengerti.


"Aku sudah tahu apa yang akan aku lakukan," Jawab Su Luxie tersenyum dengan sinis.


"Ayo kita pergi." Lanjutnya mengajak Merlyn pergi dari sana.


"Tapi... baiklah." Dengan berat hati, Merlyn, mengikuti langkah Su Luxie disaat dirinya ingin sekali memukuli pria penipu itu.


Sambil terus menatap tajam kearah belakang, dirinya selalu berceloteh tidak jelas.


"Hahahaha, aku untung lagi." Gumam pria penjual obat itu sembari menghitung koin-koin rulex miliknya.


Dia terlihat sangat puas, itu terlihat sangat jelas diekspresi wajahnya. Sambil terus menghitung dia selalu berceloteh kalau dirinya hebat, dia pintar dan juga cerdas.


"Baiklah. Cukup sampai disini, lebih baik aku pulang dan kembali membuat ramuan palsu ku." Gumamnya tersenyum lebar sambil memasukkan kantungan koin miliknya kedalam saku bajunya.


Dia sangat gembira saat itu, dia bersiul dengan keras Namun, disaat dirinya tengah asik dengan siulan merdunya itu, dia malah tersedak air ludahnya sendiri


Uhuk... uhuk..


"Aih, sialan!" Makinya, menutup mulut dengan telapak tangan kanan.


"Hah, apa ini?" Ujarnya lagi saat merasakan sesuatu yang dingin dan kental sedang berada ditelapak tangannya.


Saat memastikan benda apa itu, secara mendadak kedua kelopak matanya membesar saat melihat sebuah darah hitam yang sedikit membeku berada ditelapak tangannya.


"!"


"APA INI?!" Pekiknya terkejut.


Uhuk... uhuk..


"Ke, kenapa dadaku se, sesak?! Akh... siapapun, tolonglah aku..." Perlahan-lahan tubuh pria itu jatuh ketanah dengan mata yang sudah bercucuran darah.


Sebuah darah terus mengalir dari mata dan hidungnya, dia benar-benar tumbang di tanah yang dingin dan berdebu.


"Se-se-orang, to-lo-ng aku..." Lirihnya sudah mulai kehilangan kesadaran sepenuhnya.


Karena kejadian seperti itu terjadi, orang-orang secara mendadak mulai mengerumuni pria itu.


Banyak sekali dari orang-orang disana yang menatap miris kepada pria malang itu. Ada yang merasa kasihan, miris, ketakutan dan bahkan jijik.


Hal itu banyak menimbulkan spekulasi dan opini dari orang-orang disana.


Dengan sigap mereka segera melaporkan kejadian itu pada pihak pengadilan supaya jasad pria tersebut bisa diurus dan di kremasi dengan layak.


^^^To be Continued_^^^

__ADS_1


__ADS_2