Medicinal Spirit

Medicinal Spirit
episode 82 : Salah paham #8


__ADS_3

Su Manman, kini sudah dalam perjalan menuju kediaman utama. Dengan ditemani oleh kedua pelayan pribadi miliknya. Dengan senyuman berseri-seri, dia terus melangkahkan kaki pada bangunan yang besar itu.



Entah apa yang sedang ada di pikirannya sehingga senyuman kepuasan itu selalu terpampang sangat nyata.


Bahkan, kedua pelayan pribadinya saling bertatap wajah dengan mimik muka yang terheran-heran. Karena tidak ingin menyinggung, mereka lebih memilih untuk diam saja.


"Ini adalah hari terkahir mu, Su Luxie. Bagaimana? Apakah kau senang dengan kejutan ini?!" benak Su Manman masih dengan seringaian tajam nya.


Kaki nya terus melangkah, sampai saat di mana ketiga orang itu sampai di depan bangunan megah dengan dua orang black jack yang menunggu di sana. Su Manman, sempat mematung karena melihat penjagaan yang lumayan ketat pada ruangan Su Luxie.


"Ehmmm..." Su Manman berdehem dengan cukup keras, sehingga kedua orang black jack itu mengalihkan fokus kepadanya.


Terlihat jelas, kerutan tertanda di kening mereka saat mereka melihat kehadiran Su Manman di depan ruangan Su Luxie.


"Buka pintu nya," perintah Su Manman, dengan gaya angkuh nya.


Kedua orang Black Jack itu, seketika memicing pada Su Manman. Tentu saja, Su Manman merasa terintimidasi karena sikap dingin kedua orang Black Jack tersebut. Namun, karena sikap angkuh nya yang lebih besar itu, akhirnya mengalahkan rasa terintimidasi yang ada di dalam dirinya.


"K, kenapa kalian malah melihat ku seperti itu?! Lancang sekali prajurit rendahan seperti kalian melihat diri ku yang merupakan bangsawan ini," hardik Su Manman.


Ya, kedua orang Black Jack tersebut tidak banyak bereaksi pada kemarahan Su Manman. Mereka hanya menghela napas panjang, lalu mulai membuka kan pintu ruangan.


"Cih! Akhirnya kalian tahu takut juga, ya," ucap Su Manman, masih bersikap angkuh, lalu mulai memasuki ruangan seorang diri. Sementara, kedua pelayan nya itu diharuskan untuk menunggu di luar.


Tap..., tap...,tap...


Su Manman, melangkah sambil mengerahkan pandangan pada segala sisi ruangan.


"Ruangan yang awalnya milik ku, akhirnya di renggut oleh wanita rendahan itu! Sungguh sangat disayangkan," gumam Su Manman berdecis.


Tidak lama, datang Merlyn dari arah kanan, menyambut kedatangan Su Manman.


"Salam, Nona muda," sapa Merlyn.

__ADS_1


Su Manman, teridam. Secara terang-terangan diri nya mengacuhkan Merlyn, yang barus saja menyapa diri nya.


Merlyn hanya mengerling lalu berkata "Nona besar sudah menunggu, beliau sedang bersiap-siap dengan pakaian nya," kata Merlyn, berjalan terlebih dahulu.


"Bahkan, pelayan sama seperti majikan! Sama-sama seperti anjing yang tidak menghormati tuan nya," gumam Su Manman, kesal pada sikap tidak sopan Merlyn, memperlakukan diri nya.


"Aku hampir kehilangan muka di depan budak rendahan ini. Untung saja ini adalah hari spesial untuk ku, maka aku akan sedikit mentolerir cara mu memperlakukan ku," Lanjutnya masih merasa kesal.


Dia mengikuti langkah kaki Merlyn, yang menunjukkan arah menuju pada sebuah ruangan yang memiliki pintu bernuansa putih dan didominasi oleh warna emas.


Pintu itu terbuka, dan menunjukkan ruangan megah nan mewah, yang dipenuhi oleh beragam macam koleksi hanfu mewah dan berkualitas.


Tidak hanya koleksi hanfu saja, di sana juga tertebeng sebuah lemari yang memamerkan koleksi perhiasan mewah dan berkualitas tinggi.


Seketika, Su Manman sedikit membola saat melihat hal tersebut.


"Apa ini?! Selama aku menempati ruangan ini, tidak sekali pun aku berpikir untuk membuat satu ruangan di dalam ruangan. Dan ruangan ini dipenuhi oleh berbagai macam hanfu dan perhiasan mewah. Aku tidak terima ini!" benak Su Manman, menyimpan dendam di dalam lubuh hati nya.


Setelah puas mengamati koleksi hanfu dan perhiasan yang ada disana, mata Su Manman tertuju pada arah kiri.


"!"



Wanita cantik itu lain dan tidak bukan adalah Su Luxie, yang sedang menikmati pelayanan dari kelima pelayan wanita tersebut.


Su Luxie mengerling pada Su Manman.


"Kakak, kau disini? Kemarilah, kakak. Duduk lah di sini," kata Su Luxie, dengan ramah.


Su Manman, menggenggam tangan dengan erat dan memaksakan sebuah senyuman di wajah nya.


"I, iya, adik," jawab Su Manman, terlihat dengan berat hati jika dia terpaksa untuk duduk di sofa tersebut.


Su Luxie, yang masih dibantu oleh kelima pelayan itu, diam-diam melirik Su Manman dengan sudut mata nya. Dia menyeringai tajam.

__ADS_1


"Lihat lah ini, Su Manman! Lihat lah, betapa jauh level kita. Kau yang menganggap jika kau lebih tinggi dari ku, secara terang-terangan bersikap naif dan menyembunyikan fakta bahwa aku jauh lebih tinggi dari pada diri mu!!" benak Su Luxie.


"Terus lah merasa iri. Tanamkan rasa benci mu pada ku, sehingga pada saat kau mati kelak, roh mu tidak akan tenang dan terus terkekang di dimensi yang gelap," Lanjutnya menyeringai tajam, dan terus menatap Su Manman, yang sedang merasa kecil.


Sementara itu, Su Manman, sedang terduduk dengan pandangan menatap kearah bawah. Raca kecil, iri, marah dan murka, semua bercampur aduk menjadi satu.


Jari-jemari nya dengan kuat menggenggam baju miliknya. Gigi nya terus berderit dengan rasa seperti terbakar di hati.


"Seharusnya yang ada diposisi ini adalah aku! Aku seorang!! Tapi kau datang dan merebut semua nya. Tapi...,tidak apa. Aku akan merebut kembali sesuatu yang sudah menjadi milikku sejak awal," benak Su Manman, diliputi oleh rasa marah, dendam dan iri dengki.


"Kakak, bagaimana pesta nya? Apakah para tamu undangan mu sudah datang?" tanya Su Luxie, berjalan menghampiri Su Manman.


"Y, ya. Kepala pelayan sudah datang, karena kau sakit, aku jadi terpaksa untuk meninggalkan nya,"


"Ouh..., benarkah? Kalau begitu, aku harus meminta maaf,"


"Ya, kau harus melakukan itu," kata Su Manman, menyeringai.


"Iya, saat berjumpa dengan Ibu Mellen, aku akan mulai meminta maaf pada nya,"


"!"


Su Manman, menunjukkan reaksi terkejut nya. Dan itu terlihat oleh Su Luxie.


"Ada apa, kakak?"


"T, tidak. Hanya, hanya terkejut pada kebaikan hati mu yang ingin meminta maaf pada seorang pelayan," kata Su Manman, tersenyum getir.


Su Luxie, menyeringai. Namun, seperkian detik, seringaian nya berubah menjadi ekspresi risau.


"Ouh..., astaga. Aku sudah membuat mu menunggu ya? Baiklah, mari kita, pergi kakak,"


"...,iya, mari kita pergi!" jawab Su Manman, diam-diam menyeringai sinis.


^^^To be Continued_^^^

__ADS_1


__ADS_2