
"Apakah ada cara lain, selain menyerap mana yang ada pada batu ini?" monolog Su Luxie bertanya
Perlahan, jari lentiknya bergerak menyentuh batu mana besar yang semakin menghitam itu. Sorot mata tenang dan juga mimik wajah datar, dia perlihatkan dengan sangat bangga.
Tap...,
Jari telunjuknya menyentuh batu mana itu dan menempel kan jarinya disana untuk beberapa saat.
"!"
"Tidak ada reaksi?" gumam Su Luxie heran.
Mengapa tidak ada rekasi pada batu itu Setelah dirinya menyentuh batu tersebut? Hal ini tidak sesuai dengan ekspektasi nya. Dia berpikir jika dia menyentuh batu tersebut, setidaknya dia akan memental sejauh setengah meter jauhnya.
"Tidak ada reaksi pada batu ini? Apakah pikiran ku berbeda?" Gumamnya masih dalam keadaan memandangi batu mana itu.
"Tidak mungkin, kan? Pasti setidaknya ada satu reaksi yang akan ditunjukkan oleh batu mana ini!" Gumamnya lagi, mempertegas keyakinannya.
TING...,
"!"
Tidak lama dari itu, terlihat sebuah cahaya terang seperti permata yang baru saja memantulkan cahaya nya pada sebuah kolam yang kosong. Cahaya itu tertahan lalu mulai mengeluarkan busa-busa hitam pudar.
Su Luxie cukup terkejut saat menjumpai fenomena tersebut.
"Dari mana cahaya itu memantul? Apakah ini reaksi yang ditunjukkan oleh batu mana Setelah aku menyentuhnya?" heran Su Luxie, mulai menarik jarinya dan mengamati batu itu lagi.
Dia kembali menoleh pada kolam kosong
"!"
"Cahaya nya, menghilang?" katanya cukup terkejut "Kemana cahaya itu pergi?" Lanjutnya masih kebingungan.
Setelah cukup kebingungan pada kejadian aneh itu, Su Luxie, berniat untuk menyentuh batu mana dengan jari telunjuknya kembali. Pelan-pelan dia dekatkan telunjuknya itu sehingga menempel pada batu mana
SRASSSS...,
Cahaya terang dan bunyi bising mulai muncul dari batu mana tersebut. Cahaya nya yang terang mampu membuat Su Luxie menjadi gelap mata sesaat dan pada akhirnya menutup mata dengan punggung tangannya.
"Apa itu?" Monolognya bertanya.
__ADS_1
Setelah cahaya nya menghilang, Su Luxie, mulai melepas punggung tangannya dari matanya itu. Dia kerjabkan mata indah itu menatap pada batu mana yang menunjukkan jika warna hitam yang ada pada batu itu sudah sedikit memudar.
Sontak hal itu membuat Su Luxie terkejut dan mengagumi tangannya yang baru saja memegang batu tersebut.
"Apakah gara-gara diriku yang baru saja menyentuhnya?" kata Su Luxie heran "Aku baru ingat jika aku sedang meminjam energi suci milik Dewa. Mungkin saja, ini alasan Dewa mendesak diri ku agar meminjam separuh energi suci miliknya?" Lanjutnya berusaha berpikir keras.
Setelah bergumam dan disibukkan dengan reaksi yang ditimbulkan oleh batu mana tersebut, Su Luxie perlahan memutar pandangan kearah belakang.
Dengan menjeling dara dia melihat arah belakang sambil membuat ekspresi sedih.
"Mereka sedang berjuang di luar sana. Sementara aku? Aku hanya berdiri dari tadi disini tanpa menemukan solusi satu pun. Namun, tidak mungkin aku terus berada dalam kondisi sekarang. Secepatnya aku harus memutar otak untuk menghentikan semua ini," kata Su Luxie dengan nada datar dan sorot mata tajam.
Dengan sorot mata tajam nya itu, dia sapu seluruh ruangan dengan netra cerahnya. Pandangan itu terus menggeliat kesegala arah, sampai saat nya, pandangan itu tertahan pada sesuatu yang janggal.
Su Luxie memicing. Dia melihat pada setiap sudut ruangan. Pandangan yang begitu menyelidik itu tidak pernah dia lontarkan pada lain arah.
Pelan-pelan dia melangkah sambil terus mengamati sesuatu yang ada pada sudut ruangan tersebut.
"Bubuk apa ini...?" amat Su Luxie dengan mata tajam nya.
Sebuah bubuk putih kecoklatan terlihat bertaburan pada pojok ruangan. Bubuk yang terlihat sangat mencurigakan itu tidak pernah luput dari pandangan, Su Luxie.
Karena keraguan nya itu, dia berinisiatif untuk mendekatinya dan menyentuhnya secara langsung menggunakan jari miliknya.
"!"
Su Luxie menunjukkan reaksi terkejut saat merasakan tekstur pada bubuk tersebut. Setelah merasakan tekstur pada bubuk itu, Su Luxie, berniat mendekatkan telunjuknya kearah hidungnya.
"!"
Setelah mendapatkan bau aneh yang menyapa indra penciumannya itu, Su Luxie, tersenyum sinis.
"Apa-apaan ini! Mereka menggunakan abu dupa yang berada dikuburan?" benak Su Luxie memiringkan kepalanya setelah mengetahui bubuk apakah yang sedang berada di pojok ruangan tersebut.
"Hey, abu mayat bahkan lebih baik untuk identitas sebagai iblis, bukan...?" Lanjutnya tersenyum mengejek.
Dia lipat kedua tangannya didada sambil menunjukkan senyuman sinis diwajahnya.
"Apa ini. Setelah melihat abu dupa ini aku merasa jika mereka sedang bermain-main dengan ku," Gumamnya tersenyum sinis.
BOOMM...,
__ADS_1
Terdengar suara ledakan besar dari arah luar sehingga Su Luxie kembali mengarahkan pandangan kebelakang.
"Sepertinya dia menjalankan rencana ku dengan cukup baik," gumam Su Luxie tersenyum puas.
"Dan sekarang adalah giliranku untuk mengambil peran dalam perang ini, bukan?" Ucapnya tersenyum, lalu melangkah dengan memutar arah pada batu mana
"Atas nama Dewi Rubynia, aku bersumpah akan menghancurkan kegelapan ini," Ucapannya terdengar dingin dan menusuk.
Hawa di sekitar Su Luxie tiba-tiba saja berubah lebih menusuk dan mengintimidasi. Rambut emasnya perlahan-lahan mengeluarkan cahaya sehingga membantu penerangan pada ruangan yang sedikit gelap itu.
Dengan pandangan yakin, dirinya mengeluarkan mana yang selama ini sudah menumpuk didalam tubuhnya.
"Sudah sekian lama diri ku tidak memakai kekuatan kultivator ini..., ini sangat mengasikkan untuk dilakukan!" Serunya sembari memancarkan mana kepada batu mana yang ada didepannya.
"Bersiaplah untuk ledakan...!" Seringainya..
BOOMM...,
Suara ledakan terdengar sangat kuat sehingga mampu untuk meruntuhkan gua itu menjadi berkeping-keping.
Bahkan, orang-orang yang sedang bertarung diluar goa telah terkena dampak dari ledakan tersebut.
Mereka secara mendadak telah menghentikan serangan setelah melihat apa yang telah terjadi pada goa yang awalnya berdiri dengan kokoh di depan mereka.
"T, tidak! Tempat tinggal kita!" Pekik salah satu iblis dengan histeris...
"Bajingan!"
Para iblis jelas menunjukkan reaksi Shock saat menyaksikan tempat yang menjadi saksi berjayanya para iblis, telah hancur berkeping-keping. Bahkan tangan mereka tremor dan tidak mampu untuk sekadar mengangkat senjata milik mereka.
"Mustahil! Goa ini dibangun dengan kekuatan raja iblis yang agung. Bagaimana bisa ini hancur?!" Ucap mereka masih shock.
Disaat para iblis sedang sibuk berduka atas hancurnya tempat tinggal mereka, Wang Yan dan Ji Fu bahkan turut merasakan perasaan shock, shock atas hancurnya goa tersebut.
"TIDAK! LUXIE MASIH BERADA DIDALAM SANA!" teriak Ji Fu histeris.
Dengan cepat kedua pria itu melesat pada arah goa yang telah hancur.
"Tidak, tidak akan aku biarkan dirimu berada dalam bahaya! Kau tidak boleh terluka sedikit pun!" benak Wang Yan dengan mata membesar dan detak jantung yang begitu cepat.
^^^To be Continued_^^^
__ADS_1