
Srett..
"Kita sudah sampai, nona." Ucap sang kusir memberi tahu pada Su Luxie, bahwa kereta sudah berhenti tepat didepan istana kekaisaran.
Su Luxie yang memang sudah merasa kedinginan akhirnya memutuskan untuk pergi turun dari kereta. Disusul oleh Merlyn dengan membawa segala perlengkapan sang nona.
"Nona, berhati-hati lah. Jalan sedikit licin, pastikan agar kau tidak terpeleset." ucap Merlyn seketika cemas saat melihat Su Luxie yang turun dengan tergesa-gesa
"A, aku tidak memperhatikan ini. Baiklah, ayo kita masuk keistana." Ucap Su Luxie memperhatikan tanah yg dia pijak.
Mereka berdua memutuskan untuk pergi menuju gerbang megah yang sedang dijaga oleh dua penjaga berutubuh kekar. Hal ini menimbulkan perasaan Deja Vu bagi Su Luxie.
SRENG...
Seperti biasa, mereka menyilangkan kedua tombak mereka begitu melihat dua orang asing sedang mendekat.
"Bisakah tunjukkan identitas anda?" Tanya salah satu prajurit dengan suara yang sedikit mendesak
"!"
Merlyn, berdecis. Dia merasa tersinggung untuk prilaku kasar dari kedua prajurit itu kepada Su Luxie. Pandangan tajam miliknya selalu terarah pada dua pria berbadan kekar itu.
"Saya adalah kepala keluarga Su, Su Luxie." Ucap Su Luxie, menunjukkan sebuah giok bulat dengan lambang mawar tiga serangkai.
Kedua itu prajurit saling pandang. Mungkin sebuah kabar itu telah didengar oleh mereka, dan tentunya mereka tahu, siapa yang sedang berdiri didepan mereka.
"A, anda adalah medicinal spirit?" Tanya salah satu prajurit terlihat shock saat mengetahui sesosok parmacy hebat sedang ada depannya.
"Iya, senang bisa bertemu kalian." Jawab Su Luxie tersenyum simpul
KYAAAAA
Para prajurit berbadan kekar itu berteriak didalam hati. Bagaimana sosok Medicinal spirit bisa semenggemaskan ini?
"Dia adalah gadis yang membuat kami bergadang selama 3 hari 3 malam! Jika diingat-ingat, putra mahkota memerintahkan kami untuk mencari keberadaan nona ini. Huft, bahkan penjaga yang bertugas menjaga gerbang seperti ku ini harus beralih profesi menjadi prajurit tim sar." Benak salah satu prajurit yang menatap sendu kearah Su Luxie
"?!"
Melihat kedua prajurit itu hanya diam saja ditempat mereka, Su Luxie kebingungan dan memutuskan untuk buka suara
"Jadi... apakah saya boleh masuk?" Tanya Su Luxie
__ADS_1
"!"
"!"
"Te, tentu saja! Maaf kan kami karena telah bertindak kurang ajar. Nona pasti sangat kedinganan, hidung anda sudah memerah. Apakah nona..." salah dua dari prajurit itu berbicara dengan panjang lebar sehingga itu membuat sang rekan menjadi kesal dan memotong pembicaraan nya
"Bicara apa kau ini?!" Ucapnya menginjak kaki dari rekannya itu.
"Akhhh," prajurit yang berbicara panjang lebar tadi berteriak kesakitan
"Fufufu, mereka terlihat seperti kucing dan anjing." Benak Su Luxie terkekeh pada saat melihat tingkah lucu dari kedua prajurit berbadan kekar itu.
"Maaf karena membuat anda menunggu, nona. Silahkan masuk," Ucapnya mempersilahkan Su Luxie masuk
"Pastikan agar putra mahkota tidak membuat kami berpencar lagi!" Lanjutnya membenak.
"Baiklah."
Mereka berdua akhirnya dipersilahkan masuk oleh kedua prajurit itu. Sambil mengerahkan pandangan keseluruh bagian halaman istana, mereka menunjukkan reaksi was-was.
Entah apa yang mereka pikirkan, sepertinya mereka memiliki pikiran yang sama.
"Tapi, tetap saja aneh. Aku tidak bisa merasakan energi negatif putra mahkota? Apakah beliau sedang tidak di istana? Kalau begitu syukurlah." Lanjutnya sedikit tersenyum.
Merlyn yang terus saja mengamati gelagat Su Luxie memilih untuk tetap diam dan membiarkan Su Luxie sibuk dengan pertanyaan-pertanyaan yang ada dikepalanya.
"Nona, sepertinya kau sedang bingung? Tapi apa yang menjadi kebingungan mu ini?" Benak Merlyn, melirik Su Luxie dengan sudut matanya.
"Ah, ya. Hidung nya semakin memerah, dan pipinya juga merona. Dia harus mendapatkan kehangatan dari tungku perapian!" lanjutnya mulai sadar jika kondisi wajah Su Luxie semakin memburuk
Mereka terus berjalan menuju sebuah taman yang menghubungkan langsung dengan gedung utama. Dimana, digedung itu biasa digunakan oleh raja untuk membahas urusan negara bersama para menteri-menterinya.
"Yah... setidaknya aku sudah tahu dimana aku akan menuju. Aku tidak mengerti, tapi aku sangat berterima kasih pada raja karena dirinya mengirimkan denah istana pada ku. Fufufu, raja mana sih yang mengirimkan denah istana nya sendiri?!" Benak Su Luxie, cekikikan dalam hati.
Terlihat sebuah gedung megah dengan dua buah patung batu alam yang berbentuk singa sedang bertengger disisi depan kiri dan kanan bangunan itu.
Disana juga terlihat beberapa penjaga sedang berjaga dan juga para pelayan yang berlalu lalang dengan nampan-nampan ditangan mereka.
Su Luxie dan Merlyn terus melangkahkan kaki menuju gedung itu dan mulai mendekati salah satu penjaga yang sedang menjaga pintu masuk.
"Bisa tunjukkan identitas anda, nona," Tanya prajurit itu
__ADS_1
Su Luxie mengeluarkan tanda pengenalnya kembali dan menunjukkan nya pada prajurit itu.
"!" prajurit itu cukup menunjukkan reaksi yang cepat
"Selamat pagi, nyonya Su. Jika prajurit rendahan ini boleh tahu, apa yang anda butuhkan? Saya akan membantu sebisa saya." ucap prajurit itu, menawarkan bantuan pada Su Luxie
"Prajurit ini cukup sopan, berbeda dengan yang sebelumnya." Benak Su Luxie, mengamati sejenak prajurit tersebut
"Aku ingin bertemu baginda raja, jadi... apa kau tahu dimana beliau?" Tanya Su Luxie
"!"
"Yang mulia baginda raja kebetulan sedang ada didalam. Kau datang pada tempat yang tepat," Jawabnya sedikit tergesa-gesa
"Kalau begitu, nona, silahkan masuk." Lanjutnya mempersilahkan Su Luxie masuk kedalam ruangan tersebut.
Su Luxie mengangguk "Terima kasih," ucapnya tersenyum
Deg...
Ekspresi wajah prajurit itu sudah tidak karuan lagi. Pipinya merona, dia tersipu malu oleh keimutan Su Luxie
"Kyaaaa! Dia imut sekali." Pekiknya dalam hati
"?!" Su Luxie memiringkan kepalanya saat melihat prajurit itu hanya terdiam ditempat. Dia mematung? Tubuhnya kaku seperti Lego.
"Ada apa sih sama prajurit ini? Aneh sekali!" Benak Su Luxie sambil melengos pergi dari sana.
Su Luxie mulai membuka pintu besar itu perlahan. Sedangkan Merlyn, dia memutuskan untuk berjaga didepan dan berdiri tepat disamping prajurit tadi.
Merlyn sedikit melirik prajurit itu dengan sudut matanya. Ah, ya. Dirinya masih tetap mematung dengan ekspresi membeku.
"Berani sekali kau menatap nona ku seperti itu?! Pandangan mesum itu membuat ku ingin membunuhmu!" Maki, Merlyn, dalam hati.
"Huft! Ini adalah pengalaman ketiga ku di istana. Dimana tempat yang menjadi dalang dimana para budak seperti diriku dulu, dijual! Tempat yang begitu kejam dan juga mengerikan!" Benak Merlyn tertunduk dengan mata yang sendu.
Hatinya sangat sakit apabila mengingat kejadian itu. Dadanya sesak dan tidak mampu mengangkat pandangan.
"Tapi... aku sama sekali tidak peduli dengan itu, sekarang. Aku sudah menjadi bagian dari nona, lantas untuk apa diriku masih mengenang pengalaman buruk itu? Yah, benar. Aku hanya perlu mengubur dalam-dalam kenangan buruk itu." Lanjutnya membenak.
^^^To be Continued_^^^
__ADS_1