
"Dimana rumah mu?" Tanya Su Luxie saat dihadapkan pada pilihan dua buah rumah yang terlihat sangat sederhana didepannya.
"Disebelah kiri, itu rumahku dan ibu." Jawab pria kecil itu menunjuk pada perumahan disebelah kiri mereka.
Su Luxie dan Merlyn saling bertatapan. Seolah saling membatin kasihan sekali didalam hati mereka
"Baiklah, bawa aku pada ibumu." Kata Su Luxie.
Setelah mendengar jika Su Luxie ingin menemui sang ibu, pria kecil itu dengan segera membawa Su Luxie masuk kedalam kediamannya yang sederhana.
Su Luxie dan Merlyn mulai menapakkan kaki didalam bangunan tersebut. Mata mereka bisa melihat dengan jelas sebuah pemandangan ruangan yang lusuh namun bersih dan terawat.
Kediaman pun hanya diisi dengan perabotan seadanya.
Su Luxie mengerutkan kening, dia bingung siapa yang telah membersihkan ruangan ini setiap hari?
"Aku dengar jika ibu dari anak ini sedang sakit, tapi..." Benaknya terus menyapu seisi ruangan dengan netra biru cerahnya.
"Sudahlah, aku tidak perlu memikirkan hal sepele ini." Lanjutnya membenak.
Pada akhirnya mereka mulai memasuki ruangan yang baru saja dimasukki oleh pria kecil tadi.
Masih dengan pemandangan yang sama, sebuah ruangan yang bersih dengan perabotan seadanya.
Saat Su Luxie mulai menatap pada satu titik, mendadak matanya langsung membesar dengan tubuh yang repleks termundur satu langkah kebelakang.
"Ba, bagaimana ini bisa..." Gumamnya masih tidak percaya terhadap apa yang telah dia lihat.
"Iya, dia ibuku." Kata pria kecil itu sambil meratapi tubuh ibunya yang sedang terbujur lesu diatas kasur yang lusuh.
Terlihat seorang wanita kurus kering dengan kulit yang pucat, perutnya sangat besar seperti orang yang sedang mengandung 3 bayi sekaligus.
Su Luxie dan Merlyn menelan air liur mereka. Mereka tidak bisa membayangkan seberapa sakitnya yang dialami wanita tersebut.
"Merlyn, kita harus mengambil tindakan cepat. Siapkan semua peralatan bedahku." Kata Su Luxie menyuruh Merlyn untuk menyiapkan semua peralatan medis miliknya.
"Baik, nona." Jawab Merlyn yang dengan langsung melaksanakan perintah dari Su Luxie.
"Ka, kau seorang dokter?" Tanya pria kecil itu dengan pandangan terharu.
__ADS_1
Su Luxie mengangguk, dia mengelus pipi pria kecil itu sambil berkata
"Bisa kau menunggu diluar? Aku rasa kau tidak akan kuat melihatnya." Ujar Su Luxie lembut.
Mata pria kecil itu berbinar, dia mengangguk dengan wajah kusutnya.
Tanpa banyak omong, pria kecil itu segera keluar dari ruangan tersebut. Dirinya tahu jika dia tidak akan kuat melihat semua itu.
Su Luxie yang sudah menyadari jika pria kecil itu sudah benar-benar keluar akhirnya segera menjalankan aksinya.
Dia memasang kedua sarung tangan putih ditangannya dan kemudian mulai memasang masker dan juga penutup kepala. Dengan mata yang selalu tertuju pada perut wanita itu, Su Luxie mulai membenak
"Diperkirakan dia sudah mengalami sakit ini selama 5 bulan. Lambungnya dan hatinya mengalami kecacatan sehingga membengkak seperti ini. Perutnya membiru, diperkirakan sudah terdapat banyak nanah didalamnya."
"Hais, bahkan mereka bisa menunggu sejauh ini? Benar-benar miris!" Benak Su Luxie bergeleng-geleng.
"Merlyn, pisau kecil." Pinta Su Luxie.
Merlyn mengangguk, dengan sigap dia mengambil pisau kecil yang terlihat begitu tajam. Dia memberikan pisau kecil itu pada Su Luxie.
"Kain kecil dan penjepit." Pintanya lagi pada Merlyn.
Oprasinya sudah mulai dilakukan, keadaan menjadi hening. Bahkan dari luar hanya terdengar suara Su Luxie yang terus meminta sesuatu pada Merlyn.
Sementara pria kecil itu, dia sedang bersandar didinding kayu rumahnya. Mata sayu itu terus menatap pada lantai yang sudah dimakan oleh rayap.
Kupingnya selalu mendengar suara Su Luxie yang sedang memeriksa sang ibu. Tidak tahu mengapa, pria kecil yang terlihat selalu bergembira dan tersenyum tadi, kini malah berdiri dengan ekspresi sedih yang sangat mendalam.
Dari ekspresi nya terlihat jika dia sudah banyak sekali mengalami rasa sakit dan juga kesedihan. Dia bahkan tidak bisa menangis meski dirinya mau.
"Bisakah dia menyembuhkan ibuku?" Gumamnya dengan suara bergetar.
Disaat Su Luxie sedang sibuk mengurus wanita yang sedang sakit itu, justru disisi akademik, Su An'yang dan Su Tiao saling merasa kebingungan karena tidak melihat keberadaan Su Luxie saat mereka kembali kerumah kaca.
Mereka bahkan berkali-kali berkeliling untuk mencari keberadaan Su Luxie.
"Dimana adik? Dia bahkan tidak memberi tahu pada kita dimana dia akan pergi." Protes Su Tiao.
Guru Lim kebingungan. Dia juga sudah terbiasa pada sikap Su Luxie yang suka menghilang secara mendadak. Dia hanya bisa menghela napas dan kemudian bicara
__ADS_1
"Mungkin nona memiliki urusan diluar, lebih baik kita masuk kedalam." Ajaknya pada Su An'yang dan Su Tiao agar bisa menggu didalam.
"Benar. Sepertinya Luxie memiliki urusan yang mendesak. Tiao, lebih baik kita istirahat dulu, ya." Sambung Su An'yang.
Su Tiao hanya mengangguk dengan ekspresi masamnya "Tidak heran! Dia selalu menghilang tiba-tiba saat seperti ini! Huh adik,kau menyebalkan."
Mereka akhirnya memutuskan untuk masuk kedalam bangunan untuk istirahat setelah perjalanan panjang mereka.
Hal itu tidak luput dari pandangan 2 pasang mata dari sebuah bangunan gedung yang tinggi diantara gendung-gedung yang berukuran cukup rendah.
Sebuah pandangan memicing datang dari seorang pria gagah dengan ekspresi wajahnya yang selalu datar. Pria itu terlihat sangat tampan walau berada didalam kegelapan.
"Mereka adalah keluarga Su. Mereka melakukan perjalanan untuk mendaftar ke akademi ini." Ucap seorang pria yang menggunakan cadar diwajahnya. Tidak lupa sebuah pedang besar yang selalu bertengger dipundaknya.
Yah, pria itu adalah seorang asasin pribadi milik putra mahkota. Putra mahkota sedang berdiri menghadap pada jendela kaca sehingga pemandangan diluar sana bisa terlihat dengan sangat jelas.
Putra mahkota hanya bisa mengangguk tanpa menjawab sepatah katapun.
"Cih! Keluarga Su yang sebentar lagi akan mengalami kebangkrutan?! Mereka bahkan masih bisa tertawa diluar sana tanpa tahu bencana apa yang akan melanda mereka!" Benak putra mahkota tersenyum sinis pada kedua orang Su yang sedang tertawa diluar sana.
...****************...
Pada sisi yang berbeda, masih berada diruangan wanita itu, Su Luxie dan Merlyn masih disibukkan dengan pemeriksaan dan pengobatan penyakit yang telah lama diidap oleh ibu dari pria kecil tadi.
Keringat selalu membasahi kening Su Luxie. Tangannya bahkan sudah berlumuran darah dan kotoran nanah yang baru saja dia keluarkan dari dalam usus yang sudah terinfeksi oleh bakteri.
Dia hendak mengeluarkan potongan usus yang telah dia potong, dan kemudian mulai mengikat dan menjahit bagian usus yang tersisa.
Dia melakukan itu dengan sangat hati-hati dan teliti.
"Nona, kau bahkan tidak merasa ketakutan saat membelah perut seseorang?!" Benak Merlyn yang selalu saja menunjukkan ekspresi ngerinya.
"!"
Su Luxie mendadak menjadi gusar. Dia menoleh kekanan dan kekiri.
"Dia telah kehilangan banyak darah. Kita harus bertindak cepat," Ujar Su Luxie, menatap cepat pada Merlyn yang turut merasa kebingungan dengan masalah itu.
"Tidak ada waktu untuk menunggu." Lanjut Su Luxie mendesak Merlyn agar segera bergerak pada suatu tempat yang bisa mendapatkan sesuatu yang dipinta olehnya.
__ADS_1
^^^To be Continued_^^^