
Setelah kabar pembantaian itu beredar, pihak kekaisaran memutuskan untuk semakin memperketat penjagaan militer diseluruh daratan Xiao.
Telah diadakan rapat dadakan diistana, sehingga mengharuskan para menteri untuk pergi keistana kekaisaran. Banyak sekali pembicaraan dan perubahan penjagaan yang diputuskan pada pagi ini.
Kaisar, selaku orang nomor satu didaratan Xiao, merasa kesal dan murka terhadap kabar tidak mengenakan ini.
Meski negara tibbet sudah menginformasikan jika mereka tidak memiliki sangkut pautan nya terhadap kudeta itu, alasan itu tidak bisa membuat para petinggi kekaisaran Xiao menjadi puas.
Mereka merasa harus tetap melayangkan sanksi yang berat terhadap reaksi lamban dari pihak negara tibbet.
Pembantaian ini terjadi, akibat penghianatan yang dilakukan oleh kesatria lembah hitam kepada negara tibbet itu sendiri.
Karena banyak sekali kerugian yang ditimbulkan karena pembantaian itu, akhirnya pihak kekaisaran Xiao memutuskan bahwa, diputuskannya kerja sama antar dagang Xiao dan tibbet.
Pihak negara tibbet pada awalnya sangat menolak keras keputusan sepihak yang sangat merugikan pihak mereka.
Namun, karena raja dari negara tibbet cukup memiliki kesadaran yang tinggi, beliau memutuskan untuk menerima keputusan tersebut walau dia tahu jika dia akan mengalami kerugian yang sangat besar.
Dan pada saat ini, dikediaman Su sedang terjadi sedikit perdebatan kecil yang dilakukan antara Su Manman dan Su Miaomiao.
Hal itu disaksikan langsung oleh Su Taipong dan Su Naling yang hanya diam tidak mau ikut campur.
Su Manman terlihat kesal namun masih bisa menahan diri karena yang dia ajak berdebat itu adalah sang ibu.
"Nak, sudah cukup kau bersikap seperti ini! Mau bagaimana pun, ayahmu sudah tidak menjadi kepala keluarga resmi. Tolong terima semuanya, ya nak." Kata Su Miaomiao, berusaha meyakinkan dan menyadarkan sang putri
Su Manman berpaling dengan ekspresi wajah sendu. Dia cukup baik dalam menahan diri untuk tidak marah, seperti yang dia lakukan pada Su Naling.
Merasa terabaikan, Su Miaomiao hanya bisa bergeleng-geleng dan melirik pada Su Taipong. Su Taipong yang menyadari jika sang istri sedang melirik padanya hanya bisa membuat ekspresi sendu.
"Huft! Manman, ibu mengerti jika ini adalah perubahan yang sangat besar didalam hidupmu. Tapi, apa yang bisa kita lakukan kalau tidak menerima kondisi ini? Setelah kehilangan semuanya, kita bahkan masih bisa makan dan tidur dengan layak." Ucapnya masih berusaha untuk meyakinkan sang putri, bahwa hidup harus tetap bersyukur!
__ADS_1
"Tapi, kita masih bagian dari Su, yakan ibu?" Jawab Su Manman pelan
"!"
"Tentu saja kita bisa hidup dengan layak, karena kita tetap bagian dari keluarga Su. Harta Su, berarti itu juga harta kita. Mengapa hanya mereka yang bisa menikmati itu semua?!" Lanjutnya dengan pelan namun menajam.
"?!"
Perkataan Su Manman cukup membuat ketiga orang disana menjadi pusing. Begitu juga yang dirasakan oleh Su Naling.
"Bagaimana bisa kita masih tidak memiliki malu dengan menyebut harta Su adalah harta kita? Harta Su bahkan hampir hilang karena kita, jadi apakah pantas?" Jawab Su Miaomiao.
Su Manman masih tetap tidak mengubris perkataan sang ibu. Dia hanya menunduk dengan keyakinan teguh miliknya.
"Kakak! Kakak! Kau terus mengatakan jika harta Su adalah milik mu! Padahal kau tahu, jika semua harta Su pernah disita oleh kekaisaran dan didapatkan lagi oleh kak Luxie. Kau masih tetap tidak tahu malu!" Benak Su Naling, mulai pusing terhadap tingkah Su Manman yang terus saja keras kepala.
Ditengah suasana awkward itu, datang kepala pelayan wanita yang biasa dipanggil dengan Ibu Mellen. Mellen adalah seorang budak dari tibbet yang di tebus oleh Su Luxie pada saat dirinya berkunjung dipasar gelap.
Mereka berempat menoleh pada Mellen. Pandangan bingung itu mereka lontarkan terhadap Mellen seolah sedang bertanya, mau apa dirinya datang kesana dan masuk kedalam suasana yang bisa dibilang pribadi? Yah, Mellen cukup sadar terhadap kondisi itu.
"Saya datang kemari atas perintah dari nyonya besar Su. Beliau memerintahkan saya untuk melayani kepindahan para tuan, nyonya dan nona-nona. Beliau juga menitipkan pesan, jika beliau minta maaf atas ketidak hadiran beliau pada waktu ini." Jelas Mellen pada keempat orang itu.
Mereka saling bertemu pandang. Su Manman sedikit berdecis dengan ekspresi meremehkan.
"Alasan yang basi!" Benak Su Manman
"Baiklah, aku mengerti jika Luxie memiliki kesibukan yang berbeda. Tapi, kemana dia pergi?" Tanya Su Miaomiao penasaran terhadap kepergian Su Luxie
"Saya tidak tahu, beliau hanya menitipkan pesan ini dan kemudian pergi bersama asisten pribadi nya." Jawab Mellen, yang sebenarnya tahu namun..
"Yah.. aku malas saja untuk memberi tahu mu!" Benak Mellen merasa malas melayani keempat orang itu.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu langsung saja kita melakukan pindahan ini." Ucap Su Taipong.
Mereka menganguk, dan akhirnya bersiap untuk pindah menuju kediaman kedua. Sebuah kediaman yang menjadi saksi bisu kehidupan Su Luxie beserta ibu dan kakaknya.
Dimana mereka pernah mengalami suka dan duka dikediaman itu, jadi cukup berat untuk membiarkan mereka tinggal dikediaman tersebut.
Namun, sangat rugi bagi Su Luxie untuk tidak membuat mereka menderita sama seperti yang mereka lakukan terhadap dirinya dan kedua keluarganya!
Jadi, apapun akan dilakukan oleh Su Luxie, asalkan itu bisa membuat mereka bisa merasakan penderitaan yang dirasakan olehnya dulu. Sebuah balas dendam yang sudah direncanakan sejak lama, kini bisa dilakukan dengan terang-terangan.
...****************...
...Dikereta kuda, disebuah perjalanan menuju istana...
"HACIUHH..." Su Luxie bersin tanpa henti saat melakukan perjalanan menuju istana.
Kondisi cuaca di Xiao barat sangat lah dingin karena sebentar lagi akan memasuki musim salju. Tapi justru Su Luxie dengan terpaksa harus menempuh perjalanan dipagi hari disaat cuaca dingin sedang aktif-aktifnya.
Hal itu juga yang membuat dirinya menjadi flu berat. Apalagi tubuh Su Luxie begitu spesial, mudah sakit dan rentan.
"Nona, apa kita hentikan saja perjalanan ini? Kondisi mu semakin memburuk." Ucap Merlyn begitu khawatir saat melihat flu Su Luxie yang semakin parah, apalagi hidungnya sudah memerah.
"Phmm.. "Su Luxie mengelap hingusnya dengan sapu tangan..
"Tidak, Merlyn. Aku baik-baik saja. Aku sudah menggunakan mantel bulu dan sarung tangan, jadi tidak apa-apa kok." Jawab Su Luxie bergeleng-geleng.
Meski mendapat jawaban itu, kekhawatiran Merlyn justru tidak menghilang, malah makin bertambah. Hidung Su Luxie semakin memerah dan pipinya juga merona.
Ekspresi itu selalu was-was terhadap kondisi Su Luxie.
"Nona, kau ini seorang dokter. Tapi... kau bahkan memiliki kondisi kesehatan yang paling rentan diantara orang-orang! Mau seperti apa lagi aku menjagamu, kau seperti kaca yang kapan saja bisa pecah." Benak Merlyn sedih dengan ekspresi sendu.
__ADS_1
^^^To be Continued_^^^