
Tap.. tap.. tap..
Wang Yan memimpin perjalanan menuju pada dua orang yang sedang tergeletak lemah ditanah. Langkah yang hati-hati itu, dia perlihatkan dan mata yang dipenuh kewaspadaan tertuju pada mereka berdua.
"!"
Setelah merasa aman pada keadaan sekitar, Wang Yan, dengan segera berjalan menghampiri Jie yang masih tidak sadarkan diri.
"Sepertinya dia adalah penjaga nona Su. Saya pernah melihatnya pada saat dia mengawal nona Su dipelabuhan." Kata prajurit berambut merah itu pada Wang Yan, yang masih saja melihat, Jie, dengan menyelidik.
Wang Yan, menoleh. Pandangan mata tidak percaya mulai dia perlihatkan pada prajurit berambut merah itu.
"Anda harus bertanggung jawab dengan perkataan anda, apakah anda yakin?" Tanya Wang Yan dengan ekspresi datar
"!"
"S, saya yakin, yang mulia. Saya melihat sendiri pria ini mengawal nona Su, secara pribadi." Jawab pria berambut merah itu lagi.
Mendapat jawaban itu, Wang Yan, kembali melirik kepada, Jie, dan tidak lama dari itu, dia mulai mengarahkan kembali pandangan kepada Merlyn yang terbaring tidak jauh dari Jie.
"!"
"Sepertinya wanita itu sudah sadar," Kata Wang Yan dengan cepat melangkah kan kaki menuju pada, Merlyn.
Tap.. tap.. tap.. tap..
Dua prajurit berambut merah dan juga hitam itu saling bertemu pandang dan kemudian memutuskan untuk mengikuti langkah Wang Yan, yang bisa dibilang cepat dan sigap.
"Tolong...tolong... tolong nona ku..." Merlyn terus berbicara tolong, tolong dan tolong dengan sekuat tenaga. Meski terdengar lirih dan samar-samar, dia masih tidak menyerah dan berharap ada yang mendengar seruannya.
Dengan berusaha dia mencoba untuk menjaga kesadarannya agar tidak jatuh dalam rasa kantuk dan ujung-ujungnya terbawa dalam kematian.
"Nona, bisakah anda mendengar saya? Apa yang terjadi di sini?" Tanya Wang Yan
Merlyn melirik Wang Yan dengan ekspresi kelelahan dan menahan rasa sakit dibagian lengannya.
"!"
"Ini... putra mahkota?! Benar! Dia pasti bisa menyelamatkan nona ku!" Benak Merlyn, mendapatkan sisi terang didalam hatinya.
"Nona... selamatkan nona.. ku," Lirih Merlyn
"!"
Mendengar hal itu, sontak Wang Yan membola dan kemudian berusaha untuk bersikap tenang.
"Apa yang terjadi? Siapa yang telah menyerang kalian?" Tanya Wang Yan mendesak
"Mereka.. menyebut diri mereka adalah iblis. Dan.."
__ADS_1
"Mereka adalah... iblis. Mereka... akan mengorbankan nona.. sebagai... persembahan pada raja... iblis." Jawab Merlyn tersenggat-senggat
"!"
"!"
"!"
"Para iblis sialan itu! Mereka adalah sekte gelap yang menjadikan manusia sebagai wadah iblis. Seharusnya sekte gelap itu sudah punah pada 10 tahun yang lalu! Namun, mengapa mereka masih beroperasi sampai saat ini?!" Benak Wang Yan mulai naik pitam. Dia meremas erat Jari-jemari miliknya.
Kedua prajurit itu saling bertemu pandang dengan ekspresi shock saat mendengar nama iblis yang lolos dibibir, Merlyn.
"Bagaimana bisa? Bukankah mereka seharusnya sudah berakhir?" Tanya prajurit berambut hitam.
"Yang mulia, kami siap menerima perintah." Ucap lantang prajurit berambut merah.
Wang Yan, yang memang sudah diliputi rasa marah yang membara dengan segera meng-iyakan permintaan dari prajurit tersebut.
"Beri tanda pada prajurit lainnya. Kita harus segera bergerak!"
"Siap, laksanakan!"
Tap... tap... tap..
Prajurit berambut merah berlari dengan cepat menuju kudanya. Dengan lihai dan sigap dia melompat dan naik pada kuda tersebut.
"Yang mulia, saya akan menjalankan tugas dengan cepat!" Ucapnya dan segera menunggangi kuda dan pergi dari sana.
Wang Yan meremas Jari-jemari nya. Terlihat bahwa batas kesabarannya sudah habis dan digantikan dengan amarah dan niat membunuh yang kuat.
"Urus mereka berdua. Saya akan bergerak secepatnya untuk menyelidiki kasus ini." Ucap Wang Yan
"Tapi, yang mulia..."
Wang Yan melirik dengan tajam "Pastikan mereka aman," ucapnya
"!"
"Baik, yang mulia." Jawab prajurit berambut hitam itu dengan menundukkan kepala begitu hormat.
Tidak lama dari itu, Wang Yan, segera menuju pada kudanya dan menaiki kuda itu dengan gaya yang sangat keren.
Plash...
Dia menunggangi kuda dengan kecepatan tinggi. Sebuah ekspresi kesal selalu tercetak diwajah tampannya.
"Akan ku cabik-cabik para iblis itu dengan tanganku sendiri! Percayalah, aku akan menemukan kalian dimanapun kalian berada!" Benaknya tajam
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BRUK..
Pria iblis itu membanting tubuh Su Luxie sehingga Su Luxie terlempar cukup kuat.
"Akhh.." Tangan Su Luxie mengalami memar akibat sikap kasar dari pria itu...
"Grhhhhh!" Geram Su Luxie
Pria itu hanya tersenyum sinis dan kemudian memberi tanda pada anak buahnya untuk pergi dari sana, sehingga hanya menyisakan mereka berdua.
Mereka segera keluar saat mendapatkan perintah tersebut.
Su Luxie yang memang sudah penasaran pada tempat itu, mengalihkan pandangan kesepenjuru ruangan.
Keadaan tempat yang lembab, bau darah dimana-mana, terlihat tengkorak yang tersusun rapi membentuk gunung pada sisi kiri ruangan tersebut dan terlihat kumuh.
"Memang layak mendapat predikat terjorok tahun ini." Benak Su Luxie.
Dia mengalihkan kembali pada pria tadi yang sedang melakukan sesuatu yang aneh.
Pria itu mengenakan jubah hitamnya dan menutupi kepala. Dia membakar sebuah dupa. Setelah membakar dupa dan menaruhnya pada altar doa, dia segera menyusun sebuah batu bewarna hitam pada sekeliling altar tersebut.
"!"
"Itukan batu mana. Apa yang akan pria ini lakukan pada batu mana yang cacat itu?" Benak Su Luxie, mulai kebingungan pada ritual yang dilakukan oleh pria tersebut.
Dia mulai berdiri dan membuang debu-debu yang menempel ditangannya.
"Sial sekali aku, harus bertemu dengan makhluk menjijikan ini!" Benaknya mengutuk.
"Tetap ditempatmu!" Tegur pria itu setelah menyadari pergerakan Su Luxie
"?!"
"Saya tidak bergerak! Saya hanya bangun saja."
"Sama saja! Dasar manusia rendahan, sangat merepotkan diriku! Seharusnya kau bersyukur telah dibawa ke tempat yang indah ini!"
"Indah?! Saya mengartikan jika ini adalah tempat yang sering ditinggali oleh ular. Terasa lembab. Seharusnya tempat iblis itu harus panas, karena iblis dekat pada neraka." Ucap Su Luxie blak-blakan
"Heh! Karena kau akan mati sebentar lagi, aku akan menahan ucapan kurang ajar mu. Bicaralah sepuasmu, dan lontarkan lagi semua perkataan pedasmu. Aku tidak akan terpancing, karena kau itu hanya manusia rendahan!" Ucapnya tersenyum remeh namun berubah sinis saat mengatakan 6 kata terakhir.
"Kau yang rendahan!"
"Benarkah? Saya bisa bicara dengan bebas? Ouhh, Anda sangat pengertian untuk ukuran seorang iblis, ya."
"!"
Pria iblis iti menoleh dengan cepat "Tidak! Jangan bicara! Aku tarik kata-kata ku tadi!"
__ADS_1
^^^To be continued_^^^