Medicinal Spirit

Medicinal Spirit
episode 42 : Persiapan menuju kediaman Su


__ADS_3

Tiga hari yang berat itu kini sudah mulai berlalu. Selama tiga hari telah terjadi berbagai hal yang tidak diduga.


Hal itu disandingkan dengan diakhirinya pemeriksaan yang dilakukan oleh kepala kepolisian kepada Mu Anlong.


Karena waktu yang diberikan, raja, terbatas, dengan terpaksa kepala kepolisian dan para menteri yang bergerak harus menghentikan pemeriksaan tersebut.


Bukti memang mengarah kuat pada keluarga Anlong, Mu Anlong. Akan tetapi, berita yang kuat selalu saja lenyap entah kemana. Hal itu menimbulkan kecurigaan dan kebingungan yang lebih kuat pada Mu Anlong.


Tapi, tiga hari sudah berlalu. Sesuai tenggat waktu yang sudah disepakati, terpaksa kepala kepolisian harus menunda pemeriksaan karena harus mengajukan kembali pada raja, agar bisa diselidiki lebih lanjut.


Meskipun pemeriksaan telah ditunda, namun, hal itu tidak bisa membuat hati Mu Anlong menjadi tenang.


Selama tiga hari berturut-turut dia selalu saja menjaga sikap dan cara bicaranya. Dia tidak pernah meninggalkan kediaman, selama tiga hari berturut-turut.


Dan saat ini, dia sedang duduk termenung di kursi yang bertepatan langsung berada dibawah pohon persik yang rimbun.


Angin berhembus dengan perlahan. Bau wangi yang dihasilkan dari bunga persik, semakin membuat suasana menjadi lebih manis.


Pandangannya selalu lurus kedepan dengan wajah yang seolah menyimpan banyak sekali beban.


Dengan lirih, dia mulai berkata...


"Dari awal aku sudah mengambil keputusan yang sangat salah. Aku sangat mencintainya, tapi aku juga melukai hatinya."


"Boneka cantikku yang manis, selalu menderita dibawah tekanan yang seharusnya tidak dia terima."


"Kekasih kecilku, yang seharusnya aku manjakan, kini malah aku sakiti!!"


"Apa yang kau pikirkan, Mu Feng! Apa yang kau pikirkan, hingga berbuat seperti itu pada Luxie-mu! Kau bahkan merusak wajahnya?!"


Dia berbicara penuh penekanan sambil menatap pada tanah yang ditumbuhi oleh rumput-rumput kecil. Dia menyeka wajah nya kasar. Matanya selalu dibanjiri oleh air mata.


"Kekuasaan? Untuk apa itu?!"


"Supaya hidup menjadi lebih baik? Agar kau bisa mendapatkan hati Luxie? Cih! Omong kosong!!" Ucapnya dengan senyum kecut.


"Pada akhirnya, kedudukan kepala keluarga ini tidak ada artinya bagiku! Aku hanya menjadi sebuah sampah yang ditumpuk oleh sampah-sampah lainnya."


"Tenggelam dalam banyak nya dosa!!!"


Wajah kelam itu tertadah pada langit-langit yang cerah. Tatapan mata lelah itu perlahan-lahan mengerjap dan terpejam.

__ADS_1


"Aku mencintai mu, Luxie." Gumamnya.


...****************...


...Didepan gerbang istana kekaisaran...


Banyak sekali para rakyat jelata yang bergumpul didepan gerbang kekaisaran. Suara bising yang ditimbulkan oleh rakyat menggema sehingga timbul suara yang tidak terlalu jelas.


Ditengah-tengah perkumpulan para rakyat itu, terlihat sebuah altar besar dengan sebuah senjata kampak pemenggal dengan ukuran besar, yang terletak ditengah-tengah Altar.


Diatar altar itu, juga terdapat seorang pria berbadan kekar bertelanjang dada dengan penutup kepala bewarna hitam.


Pria itu terlihat begitu sangar dengan penampilannya yang terlihat terlalu pulgar.


Sementara itu, disisi belakang, terlihat dua orang prajurit sedang menyeret seorang pria berbaju lusuh dengan rambut yang sangat berantakan.


Darah bertetesan dari mata pria itu. Kulit wajahnya melepuh membentuk sebuah stempel kekaisaran Xiao.


Pria itu sudah banyak sekali mengalami berbagai siksaan didalam penjara. Hingga saat ini, akan menjadi sebuah akhir dalam kisah hidupnya. Dia akan dijatuhi hukuman penggal atas kejahatan yang telah dia perbuat.


Hal itu tidak luput dari pandangan 2 pasang mata, yang sedang mengawasi dari atas menara pengintai. Menara pengintai, tempat biasa sang raja selalu menghabiskan waktu, melihat pada suasana kota yang ramai.


Disana, terdapat putra mahkota (Wang Xie Yan) dan raja (Wang Ai) sedang duduk disebuah kursi dengan meja yang memanjang. Diatas meja itu sudah terdapat beberapa hidangan makanan dan minuman.


"Bagaimana perasaanmu? Orang yang sudah lama kau buru, akhirnya tertangkap." Tanya Wang Ai, menoleh pada Wang Yan.


note:Namanya aku singkat jadi Wang Yan, biar gak kepanjangan.


Wang Yan, terdiam sejenak. Menatap lurus kepada pria yang terlungkup pada senjata kampak itu.


Pada seperkian detik...


SLASHHHHH...


Mata Wang Yan terpejam dan menimbulkan seringaian...


"Sangat,sangat puas!" Jawabnya menoleh pada Wang Ai, sambil tersenyum.


Wang Yan tertegun, dia tidak menduga sang putra akan sebahagia ini hanya dengan melihat hukuman yang diberikan oleh seorang penjahat?


"Dia sudah melakukan banyak sekali dosa! Dia menjual obat-obatan terlarang (narkotik) dan mencetak koin palsu sebagai alat jual beli! Dia pantas mendapatkan hukuman itu, ayah!!" Lanjutnya dengan pandangan yang tajam dan suara penuh penekanan.

__ADS_1


"!"


Wang Ai tersenyum, dia menyesap tehnya dengan nikmat. Dan tak lama, dia mulai berkata...


"Apa kau akan melakukan hal sama kepada keluarga Su?" Tanya Wang Ai, secara mendadak telah menyinggung keluarga Su pada obrolan.


"!" Wang Yan, menoleh.


"Tidak. Bagaimana bisa aku melakukan itu pada orang yang hanya melakukan trik kecil?!" Ucap Wang Yan, sedikit menyelipkan sindiran.


"!" Wang Ai menoleh


"Hahahahaha. Kau memang putra ku yang keras kepala," ucap Wang Ai, tertawa terbahak-bahak.


"Ikutlah kekediaman Su, bukankah kau ingin menghukum mereka secara langsung?" lanjut Wang Ai, menyuruh Wang Yan agar pergi kekediaman Su pada siang ini.


Wang Yan menoleh "Apakah boleh? Aku boleh ikut dengan kepala komisaris/kepolisian?" Tanya Wang Yan, terlihat bersemangat.


Wang Ai mengangguk "Pergilah, lakukan sesuka mu. Asalkan...


"Asalkan aku tidak menghakimi mereka, kan?!" Ucap Wang Yan menyela pembicaraan Wang Ai.


Wang Ai hanya bisa tersenyum sambil bergeleng-geleng "Kau ini. Baiklah, pergilah pada kepala kepolisian."


"Hmm! Baiklah, ayah," Wang Yan mengangguk dan kemudian mulai berdiri.


"Aku pergi dulu, ayah." Ucapnya memberi hormat.


"Yah... bersenang-senang lah." Jawab Wang Ai.


Wang Yan pun langsung pergi dari sana, meninggalkan Wang Ai yang masih tetap setia melihat proses pengurusan jenazah pria yang baru saja dieksekusi.


"Sudah waktunya kau tahu, anakku. Keluarga yang ingin kau habisi, memiliki seseorang yang selama ini kau cari, dalam anggota keluarganya"


"Setelah kau tahu, trik apa lagi yang akan kau lakukan?" Gumam Wang Ai, menghela napas panjang.


"Aku hanya bisa membantu nona Su sampai disini. Setidaknya dia sudah keluar dari anggota keluarga Su sejak awal"


"Dia gadis yang cukup licik. Dia memberikan semua bukti-bukti kejahatan pamannya agar semua kejahatan mereka terungkap. Kepribadian gadis ini sangat cocok dengan putraku!" Gumam nya tanpa sadar telah tersenyum dengan malu


"!"

__ADS_1


"Eh?! Kenapa tiba-tiba aku mengaitkan putraku dengan nona Su? Haiyaa, putraku itu berhati batu, dia tidak memiliki kesadaran untuk jatuh cinta!"


"Haih...sepertinya aku telah membesarkan putra yang bodoh. Dia sangat kaku, seperti ibunya." Gumam Wang Ai terus saja tersenyum memikirkan masa-masa senangnya bersama Wang Yan dan permaisuri Wang.


__ADS_2