
Wang Yan duduk di bawah gazebo itu sembari meminjamkan pahanya sebagai bantal tidur, Su Luxie. Sorot mata teduh itu selalu tertuju pada Su, dengan jari jemari yang selalu bersentuhan dengan rambut Su Luxie.
Namun, disaat dirinya sedang terlelap dalam rasa nyaman dan tenang itu, tiba-tiba datang sesuatu yang membuatnya harus kehilangan rasa nyaman tersebut.
BRUKK...
"!"
"A, apa yang anda lakukan?!" Tanya Wang Yan bingung dan sekaligus terkejut pada perlakukan Ji Fu secara mendadak telah menendang kursi yang sedang diduduki oleh Wang Yan.
"Wah..., maaf ya. Kaki saya terpeles." Ucapnya meminta maaf namun dengan senyum sinis dan sorot mata yang seolah menggambarkan (Kau pantas mendapatkannya!!)
"!"
Wang Yan menatap tajam pada Ji Fu, sementara Ji Fu, dia membalas menatap dengan sorot mata tenang dan ekspresi wajah tidak bersalah, seolah tidak melakukan apapun.
Wang Yan mengalihkan pandangan, dia rasa sudah cukup dirinya memandang pria yang sangat menyebalkan yang berada dibelakangnya.
"Sudah cukup anda memegang putriku! Lepaskan dia sekarang." Kata Ji Fu terdengar dingin.
"!"
Sontak, Wang Yan menoleh dengan cepat.
"Putri...,? anda bercanda?" Sinis Wang Yan.
Ji Fu memiringkan kepalanya, dia melipat tangannya didada dan bersandar pada tiang gazebo.
"Anda bertanya pada saya, sekarang?!" Jawabnya tersenyum namun dengan nada bicara yang dingin.
Wang Yan hanya diam, sembari menatap sinis pada Ji Fu.
"Bukankah ayah dari nona Su sudah meninggal semenjak dia kecil? Tidak mungkinkan, jika informasi yang mereka berikan itu palsu?" Benak Wang yan, sesekali melirik Su Luxie yang berada dipangkuannya.
"Tidak akan," Kata Wang Yan bersikap acuh.
"?"
"Maaf?" Dingin Ji Fu
"Dari awal anda sudah menyerahkan nona su kepada saya. Saya harus melindunginya sampai akhir, sampai beliau pulang kekediaman nya,"
"...hey, saya menitipkannya, bukan menyerahkan! Anda menganggap saya mati, disini?!" Tajam Ji Fu.
Yah, mereka terus bertengkar. Ji Fu terus saja menyerocos tanpa henti bagaikan seorang ibu-ibu yang sedang diserobot antrian oleh orang lain. Dan yang terjadi pada Wang Yan, dia hanya diam sembari meratapi wajah Su Luxie.
Tidak ada alasan bagi Wang Yan untuk marah pada Ji Fu. Meski, kupingnya sudah panas saat mendengarkan omelan itu, dia tetap diam dan lebih memilih memandang wajah Su Luxie.
Sementara orang yang sedang dipandangi itu, sama sekali belum membuka matanya. Meski di dalam sana, di dalam dunia yang sangat aneh, dirinya sedang berada.
__ADS_1
Su Casa sedang berada disebuah ruangan hampa, dimana disana hanya berlatarkan warna putih terang. Tubuhnya melayang dengan posisi terlentang.
Perlahan-lahan, mata yang awalnya tertutup, kini perlahan-lahan terbuka dan memperlihatkan pupil mata indah nya yang jernih.
"Akhhh.." Desahnya saat merasakan sakit dikepalanya.
Su Casa menatap kiri dan kanan saat dirinya sudah sadar, bahwa dirinya sedang berada di sebuah tempat asing yang aneh.
"Dimana ini. Mengapa aku berada disini?" Monolog-nya keheranan.
Su Casa melihat kesana-kemari, namun masih tidak menemukan celah warna lain pada ruangan putih tersebut.
"Tempat ini sangat aneh. Mengapa latarnya bewarna putih?" Kata Su Casa semakin heran "Hallo..., apakah ada orang, disini?" Lanjutnya, memutuskan untuk berteriak memanggil seseorang.
"!"
Suranya menggema, Su Casa terhentak mendengar suaranya sendiri yang menggema di ruangan itu.
"Aneh. Aku merasa, aku sedang berada di ruangan tertutup." Gumam Su Casa.
"Dan aku baru sadar jika aku sedang melayang di tempat ini. Aku..., tidak menapak," Gumam Su Casa semakin heran.
Ditengah-tengah keheranan Su Casa, tiba-tiba terdengar suara bariton milik seorang pria. Hal itu sontak membuat Su Casa menjadi waspada dan menjaga pertahanan.
"Selamat datang, wahai manusia." Kata suara bariton misterius itu.
"!"
"Hahahahaha..., kau tidak perlu takut, wahai manusia," Kata suara bariton misterius itu sembari tertawa dengan keras "Aku datang kemari atas kebaikkan hati mu yang menyentuh hati Dewa kecil ini." Lanjutnya.
"?!"
"D, Dewa? A, anda adalah Dewa?" Tanya Su Casa terkejut mendengar bahwa pria misterius itu menyebut dirinya sendiri dengan sebutan, Dewa.
"...Ya, aku adalah Dewa kecil, pengikut Dewi Rubynia, sang Dewi yang agung. Aku datang kemari atas titah yang diberikan oleh Dewi Rubynia langsung, kepadaku," jawab Dewa itu dengan nada yang cukup bersahabat.
"APA...?! J, JADI DEWA ITU MEMANG BENAR-BENAR NYATA?" pekik Su Casa terperangah pada kebenaran yang selama ini dirinya anggap tak nyata.
Meski terdengar blak-blakan, sang Dewa itu malah tertawa terbahak-bahak.
"Hahahahahahaha..., manusia, kau sungguh lucu,"
"Maaf?"
"Aku mendengar jika kau sendiri yang menyebut Dewi Rubynia pada saat-saat tergenting mu. Tapi..., aku menemukan jika kau tidak percaya pada Dewa dan Dewi?"
"B, bukan begitu. Tapi kan itu persoalan yang beda," Kata Su Casa menggaruk kepalanya yang tidak gatal "Ah, benar!" Lanjutnya berbicara seolah sedang teringat sesuatu.
"Ya?"
__ADS_1
"Dewa, kenapa anda membawa saya kemari? Sudah berapa lama saya berada disini? Apakah saya bisa pulang, sekarang? Saya rasa orang-orang saya, sudah menunggu,"
"Tidak!" Jawab tegas sang Dewa itu, pada Su Casa. Nada bicara yang awalnya bersahabat, kini berubah menjadi tegas.
"Ke, kenapa?"
"Alasan ku membawa mu kemari bukan karena masalah sepele," Katanya "Aku akan mulai percakapan ini. Aku akan memberimu dua pilihan pada hidup mu," Lanjutnya.
"Ya? Dua pilihan, apa maksudnya?"
"Sebentar lagi hidupmu akan berakhir di dunia ini. Para iblis itu sudah menemukan jalan keluar untuk menuju dunia fana. Tidak akan ada yang akan selamat, dan termasuk kau sendiri," Katanya dengan nada dingin dan juga datar "Semua orang akan habis dan dikuasai oleh iblis yang jahat." Lanjutnya.
"!"
"Tidak! Itu..., tidak akan terjadi, kan?!" Su Casa Shock, begitu mendengar pernyataan yang rumit itu.
"Lalu..., pilhan apa yang akan anda berikan pada saya?" Tanya Su Casa.
"...Hidup kembali di dunia yang baru atau hidup di dunia fana ini, dan tanggung semua bencana dengan mengorbankan hidupmu."
"!"
"A, anda memberikan pilihan yang sulit pada saya. Apakah anda tahu, saya tidak bisa memilih, sekarang." sendu Su Casa memegang dadanya yang sesak.
Dewa itu terdiam sejenak, lalu mulai berkata "Pilihan ada ditangan mu, manusia. Ikuti kata hatimu," Ucapnya memberi saran.
"......"
Su Casa terdiam, dia memandang kearah bawah dengan sorot mata delema.
"Jika aku meninggalkan dunia ini, kemungkinan hidupku akan selamat," Benak nya memilih "Namun, aku tidak bisa meninggalkan keluarga yang sudah aku bentuk susah payah, iyakan? Mereka milikku, dan selamanya akan begitu. Hidup mereka tidak boleh berakhir karena ke egoisan ku yang lebih memilih hidup didunia baru dari pada menyelamatkan mereka." lanjut Su Casa.
Dengan percaya diri, dia mulai mengangkat pandangannya.
"Pulangkan saya pada keluarga saya yang sudah menunggu! Dengan hidup ini, saya akan menyelamatkan mereka. Apapun yang akan terjadi!" Ucap Su Casa mantap dengan menekan tiga kata terkahir.
"!"
"Tapi..., akan ada banyak beban besar yang akan kau tanggung dipundak mu," Kata sang Dewa terdengar sedikit kecewa pada pilihan, Su Casa.
"Kau terlahir di dunia ini tidak memiliki sebab yang sederhana. Semua itu sudah menjadi takdir yang direncanakan oleh semesta. Jadi..., aku bertanya yang terkahir padamu, apakah kau yakin pada pilihan mu itu?"
"Saya, Su Casa, sangat yakin pada keputusan saya. Saya akan melindungi keluarga saya meski harus berkorban nyawa sekalipun!" Ucap lantang Su Casa "Dewa, saya mohon. Berkatilah saya dan terima semua keputusan saya." Lanjutnya sembari membungkuk sedikit.
"!"
"Manusia, kau memang keras kepala."
^^^To be Continued_^^^
__ADS_1