Melodi Cinta Aqila

Melodi Cinta Aqila
bab 1 Titik balik


__ADS_3

"Tik... tik... tik..." Suara air dari mulut keran seirama dengan bunyi jam dinding menciptakan sebuah melodi yang harmonis. Seorang pria duduk sambil memejamkan matanya seolah ingin mengusir rasa sakit di dadanya, nafasnya memburu, keringatnya bercucuran diwajahnya. Vas bunga indah jatuh berkeping-keping seiring dengan ambruk tubuhnya.


"Ayah...!" Jerit seorang wanita menyayat hati


Wanita itu menghampiri pria malang tersebut, ia memeriksa hembusan nafas, detak jantung, dan denyut nadinya.


"Inna lillahi wa innailaihi Raji'un" ucap wanita itu pelan, air mata meleleh dari kedua bola matanya yang indah.


Seorang gadis kecil yang sedang berdiri dibalik pintu, terpaku menyaksikan kejadian yang belum pernah dialaminya, ia tidak tahu apa yang harus dilakukan, ia menangis sekeras-kerasnya, menghampiri dan memeluk ibunya, kemudian memanggil-manggil ayahnya, berharap terjadi suatu keajaiban.


...*****...


Ardian Anugerah baru tinggal di Jogjakarta selama dua tahun, ia seorang yang manis budi, ramah dan mudah bergaul. Istrinya bernama Shinta, seorang yang sangat cantik dan lemah lembut, Shinta sedang mengandung tujuh bulan.


Kesehatan Ardian menurun drastis selama satu tahun terakhir, bisnisnya hancur, beberapa asetnya tidak dapat dipertahankan, bahkan hutang-hutangnya menumpuk. Setelah kematiannya, Shinta menjual seluruh harta warisan suaminya, bahkan rumah beserta isinya, namun tidak menutupi hutang-hutangnya.


"Maaf, saya tidak memiliki apapun lagi untuk melunasi sisa hutang suami saya" ucap Shinta, dengan berat hati ia memberitahukan keadaannya


"Kau kan bisa membayar dengan tubuh mu" , Jawab pak Suhardi acuh.


Sinta terkejut, ia merasa dihina namun ia tidak berdaya.


"Tapi.. saya sedang hamil tuan" ucap Shinta.

__ADS_1


"Siapa yang perduli, tapi ada jalan lain yang bisa kau lakukan, misalnya...", Pak Suhardi tidak melanjutkan kalimatnya.


"Misalnya apa tuan?" tanya Shinta, ia meminta kejelasan karena merasa ada harapan untuk memecahkan persoalannya


"Ah.. saya kira kau akan keberatan", Jawab pak Suhardi ayal-ayalan.


" Katakan dulu tuan, saya akan mencoba mempertimbangkannya" ucap Shinta, penuh antusias.


"Benarkah?" ucap Pak Suhardi, ia tertawa terbahak-bahak, lalu jarinya menunjuk Aqila


"Serahkan bocah itu untuk saya didik" ucap pak Suhardi.


"Tidak..! Jangan.." Jerit Shinta.


Setelah ada kode dari tuannya, tangan Aqila ditarik oleh seorang pengawal. Shinta berusaha sekuat tenaga mempertahankan putrinya, namun gagal.


Aqila dimasukkan kedalam mobil bagai benda mati, mereka tidak perduli dengan tangisannya.


Shinta kalap, ia mengejar mobil yang membawa putrinya dengan sekuat tenaganya sambil berteriak-teriak seperti orang yang hilang ingatan.


Tidak lama berjalan, mobil yang dikendarai pak Suhardi mengalami kecelakaan. Beruntung Aqila selamat, ia berlari secepat mungkin tanpa memperdulikan luka-lukanya untuk menghampiri ibunya.


"Aqila, maafkan ibu nak.. maafkan ibu" Ucap Shinta sambil memeluk erat anaknya.

__ADS_1


Darah terlihat mengalir deras di kaki Shinta karena ia memaksakan diri berlari saat hamil tua, menimbulkan iba kepada setiap orang yang melihatnya. Ibu dan anak itu segera dibawa ke klinik kandungan.


"Kandungan ibu tidak bermasalah, tapi ibu harus banyak istirahat" kata dokter.


"Tidak bisakah saya bersama anak saya tinggal disini sampai saya kuat, Dok?" tanya Shinta sambil menunduk.


"Rumah ibu.." ucap Dokter, matanya terbelalak penuh keheranan


"Saya sudah tidak punya rumah" potong Shinta.


Dokter tersebut terdiam beberapa saat, ada rasa iba menggelayuti hatinya.


"Baiklah, ibu bisa tinggal disini dan jika sudah sehat bisa bekerja disini" ucap Dokter.


"Alhamdulillah, terimakasih banyak Dokter"ucap Shinta.


"Panggil saya Anwar. Emm.. Apakah anak mu sudah bersekolah?", tanya dokter Anwar pada Shinta.


"Sudah Dok" jawab Aqila mendahului ibunya.


Dokter Anwar tersenyum, ia mengelus kepala Aqila, lalu meninggalkan mereka.


Aqila memberikan air untuk Shinta, membelai rambutnya dan mengecup keningnya.

__ADS_1


"istirahatlah yang tenang, Aqila akan menjaga ibu", bisik Aqila dengan lembut


__ADS_2