
Hujan telah reda, daun-daun basah menitikkan kristal bening, orang-orang yang berteduh kembali beraktivitas.
Shinta sedang asyik menyusui bayinya, ia pun tampak senang memainkan jari-jari mungil anaknya, tawa riang sesekali meluncur dari bibirnya.
"Assalamualaikum, apakah anda nyonya Shinta?" ucap seorang wanita paruh baya dengan lembut, ia meletakkan keranjang yang berisi buah-buahan di lemari kecil sebelah ranjang.
"Wa 'alaykumussalam warahmatullahi wabarokatuh, benar" jawab Shinta, matanya menatap wajah wanita paruh baya dihadapannya sambil mengingat-ingat wanita itu, namun nihil, ia tidak mengenalnya
"perkenalkan Saya Rahmah, istri dari pak Suhardi" ucap Rahmah
Dada Shinta berdesir mendengar nama itu, api kebencian segera berkobar dalam dirinya.
"Ia telah meninggal dunia" ucap Rahmah, ia tertunduk sebentar untuk menenangkan hatinya.
"Inna lillahi wa inna ilaihi Raji'un" ucap Shinta, api kebencian didalam dirinya langsung padam
"Ia meminta ku untuk menyampaikan amanat dan wasiat sebelum ajalnya. Amanatnya adalah ia meminta maaf kepada mu dan putri mu. Apakah kamu mau membuka pintu maaf untuk nya?" ucap Rahmah
"Iya, saya memaafkannya" ucap Shinta sambil mengangguk
"Tolong sampaikan pula permintaan maaf almarhum kepada putri mu. Wasiat dari nya adalah ia telah membebaskan sisa hutang almarhum Ardian suamimu" ucap Rahmah
"Alhamdulillah, terima kasih nyonya, terima kasih" ucap Shinta
Shinta tidak dapat membendung air matanya, tragedi yang dialaminya berbuah manis. ucapan doa pun meluncur dari mulutnya. Rahmah dan Shinta saling berpelukan, berharap kebaikan untuk orang terkasihnya.
__ADS_1
Setelah tiga bulan kelahiran bayinya, Shinta memutuskan untuk tidak lagi tinggal di klinik, ada rasa malu terhadap banyaknya budi dari Dokter Anwar.
Ia memutuskan untuk kost tidak jauh dari tempatnya bekerja. Satu minggu setelah kepindahannya, Klinik disibukkan oleh banyak aktivitas, para karyawan tidak satupun yang tidak bergerak, semuanya pun tampak tegang
"Ada apa mbak Ros? mengapa sibuk sekali?" tanya Shinta kepada Rosminah
"Pemilik Klinik akan berkunjung" Jawab Rosminah, ia menatap Shinta lekat-lekat.
"Sebaiknya kamu menghindarinya, wajah mu terlalu ayu untuk disembunyikan dari nya" sambung Rosminah.
Setelah Dhuhur, seorang pria tampan disambut oleh Dokter Anwar dengan ramah. Mereka berbicara layaknya sahabat lama, pria itu mengelilingi gedung sambil memeriksa setiap hal dengan cermat, jika ada yang dirasa janggal maka ia langsung menanyakan pada sahabatnya, Pria itu tampak puas pada setiap jawaban Dokter Anwar. Sekilas pria tersebut tersenyum manis pada Shinta. Dokter Anwar tampak tidak senang, dialihkannya perhatiannya pada tempat-tempat yang lain.
Setelah selesai bekerja, Shinta mengajak kedua anaknya bermain-main ditaman. Aqila berlari-lari dengan riang gembira, ia mengejar kupu-kupu yang terbang kian kemari, memutari pepohonan rindang, dan memetik bunga untuk diselipkan di telinganya, Shinta merasa lucu dengan tingkah Aqila. setelah Aqila puas pun bermain sendiri, ia bermain cilukba dengan adiknya, tawanya sangat renyah dan menghibur.
"Ada perlu apa tuan kemari?" tanya Shinta
"Maaf, ada yang perlu saya bicarakan dengan mu. kuharap kamu tidak menolak" ucap pria pemilik Klinik
Shinta merasa janggal, namun ia merasa tidak baik membiarkan tamunya diluar
"Mari masuk, maaf rumahnya berantakan" Shinta mempersilahkan tamunya masuk, ia pun menyiapkan minuman dan makanan kecil, lalu masuk ke kamar untuk menidurkan bayi mungil nya.
pria tersebut tanpa sungkan masuk dan duduk dengan santainya. Ia membujuk- bujuk Aqila untuk meninggalkannya. Setelah Aqila pergi pintu ditutup dan dikunci, lalu kuncinya dimasukkan kedalam kantong celana.
Shinta terkejut saat buah dadanya tiba-tiba di jamah dari belakang, bahkan beberapa ciuman mendarat di lehernya, ia berusaha melepaskan diri dengan meronta, namun tenaganya kalah kuat. Ia berusaha melawan dengan cara memukul dan menendang.
__ADS_1
Pria itu tidak kehabisan akal, ia mengambil bayi yang sedang terlelap, kemudian diangkatnya bayi mungil itu tinggi-tinggi
"Kamu mau bayi yang tidak berdosa ini saya banting atau menyerahkan tubuh mu dengan suka rela?" ucap pria itu
Wajah Shinta memucat, tubuhnya bergetar hebat
"Jangan banting anakku... jangan banting anakku.." ratap Shinta
"Jadi kamu mau menyerahkan tubuh mu dengan sukarela? tapi sayang sudah terlambat, saya sudah tidak bernafsu. Lebih baik saya banting saja anak ini" ancam pria itu sambil mengayunkan tubuh si bayi
"Jangan tuan... ku mohon jangan.." jerit Shinta terdengar menyayat hati
Shinta membuka pakaiannya dengan menahan segala rasa malunya, Ia pasrah dengan nasib buruknya.
"Drak....!" Suara Pintu dibuka paksa memecahkan perhatian mereka, kemudian muncul Dokter Anwar dan seorang lelaki tua.
Dokter Anwar segera merebut si bayi dari tangan pria itu kemudian meletakkannya di ranjang dengan hati-hati
"Plak" lelaki tua yang baru datang bersama Anwar menampar pipi pria itu
"Bikin Malu!" ucap Lelaki tua tersebut
Lelaki tua itu pergi diiringi Dokter Anwar dan pria tersebut
Aqila menghampiri ibunya, memakaikan baju yang layak dan menenangkan hatinya.
__ADS_1