Melodi Cinta Aqila

Melodi Cinta Aqila
bab 5 Tragedi


__ADS_3

Shinta mengalami goncangan batin yang dalam, ia sangat malu, kecewa dan sedih atas yang dialaminya. Ia memandangi kedua anaknya yang tertidur pulas, mengelus wajah-wajah polos mereka, menciuminya satu persatu, lalu merebahkan dirinya.


Pada tengah malam Shinta mengalami demam yang tinggi, wajahnya berkeringat, namun ia merasa kedinginan sampai bibirnya bergetar, mulutnya meracau tidak jelas.


"Ibu... Ayah... maaf kan Shinta.... mas Ardian... Jangan tinggalkan Shinta.." ucap Shinta berulang-ulang


Shinta merasa sedih atas kejadian yang menimpanya, ia merasa malu kepada kedua orangtuanya dan suaminya. kesedihan yang membawa ingatannya kepada masa lalunya. Setelah kedua orang tuanya meninggal, kakak nya terus menerus menuduhnya bersekongkol atas kematian mereka. Shinta menyadari jika kakak nya tidak benar-benar menyalahkannya, hanya perlu kambing hitam untuk menentramkan hatinya. Namun Shinta pun saat itu terpuruk, ia pun mengalami hal yang sama seperti kakaknya. Ibu jatuh dari tangga saat berlibur di Bali dan penyakit jantung Ayahnya kambuh Setelah kematian ibunya. Liburan yang yang seharusnya diisi dengan keceriaan ternyata berbalut kedukaan.


Aqila terbangun atas kicauan Shinta, ia terkejut melihat kondisi ibunya, ia mengambil air hangat lalu mengompres kening ibunya berulang-ulang. Ia mengambil hp yang tergeletak di samping bantal, sesaat kemudian menelpon Dokter Anwar


"Assalamualaikum paman. Ibu sakit, tubuhnya panas" ucap Aqila


"Sudah dikompres?" tanya Anwar


"Sudah" jawab Aqila


"tunggu sebentar, paman akan kesana" ucap Anwar

__ADS_1


Dokter Anwar datang dengan tergesa-gesa, ia tampak cemas dan khawatir, ia disambut dengan tangisan dan pelukan dari Aqila. Aqila menumpahkan seluruh air matanya tanpa sisa.


Shinta masih berada di masa lalunya, saat perayaan pesta ulang tahun putrinya Gamal yang hanya dihadiri oleh keluarga, bapak mertuanya menampar Anggun dengan penuh kemarahan.


"Apa yang kamu sembunyikan dari kami!" Ucap bapak mertua sambil melempar beberapa helai kertas.


Anggun Terdiam beberapa saat, lalu memungut dan memeriksa kertas-kertas tersebut.


"Maaf" ucap Anggun pelan


"Aku terpaksa melakukannya"ucap Anggun


"Lalu bagaimana dengan Video ini?" ucap bapak mertua


Bukan hanya Anggun, seluruh orang pun terkejut melihat Video tersebut. Video yang mengisahkan Anggun telah mendorong ibunda Shinta dari atas tangga hingga tewas.


Kehebohan pun terjadi, ibu mertua menjerit-jerit dan memukuli Anggun, sahabatnya yang kedekatannya melebihi saudara kandung telah tewas mengenaskan oleh istri dari anaknya sendiri. Ardian mencegah Kakak yang hampir menancapkan pisaunya di dada Anggun. Suara tembakan mendiamkan kegaduhan, ibu mertua dijadikan Sandra oleh Anggun lalu dilemparkan begitu saja saat Anggun merasa aman.

__ADS_1


Anggun pergi tanpa merasa bersalah, Gamal mendiamkan anaknya yang tidak ada henti-hentinya menangis seolah mengerti ibunya telah mencampakkannya


Kesadaran Shinta kembali, ia merasa kepalanya sakit dan berat. Aqila masih mengompresinya, ia sangat senang ibunya telah sadar, ia bergegas ke luar untuk memberi tahu Dokter Anwar


"Ibu telah sadar... ibu telah sadar" Ucap Aqila dengan riang


Dokter Anwar bergegas mendatangi Shinta, ia tampak terharu, air matanya mengembang.


"Shinta.. " hanya itu yang terucap, bibirnya kelu.


"Terima kasih, kamu sudah sadar" Ucap Dokter Anwar.


Dokter Anwar tidak mengerti, mengapa ia harus berterima kasih. Ia membalikkan wajahnya untuk mengusap air matanya, ada rasa malu terselip dalam dirinya. Ia menyiapkan bubur dan obat yang dibawanya.


Aqila menyuapi ibunya dengan perlahan, sesekali membersihkan yang tercecer. Ia begitu telaten dan sabar dalam menyuapinya sampai buburnya habis tak bersisa.


Saat matahari telah tinggi, Shinta merasa badannya telah sehat. Entah obat atau perawatan anaknya yang mempercepat kesembuhannya.

__ADS_1


__ADS_2