Melodi Cinta Aqila

Melodi Cinta Aqila
bab 35 Perjalanan Malam


__ADS_3

Suara handphone berdering beberapa kali, tangan mungil Anggun meraih handphone yang tergeletak disampingnya. Terdengar suara berat dari seorang pria yang dikenalnya.


"Orang yang diperintahkan oleh Stevan untuk menculik anak mu beberapa tahun yang lalu telah saya ringkus"


"Terima kasih Robert, kamu berada dimana sekarang?" ucap Anggun penuh antusias dan matanya tampak berbinar-binar


"Saya berada di Number one coffee"


"Tunggu saya di sana" ucap Anggun.


Anggun memutuskan sambungan teleponnya, ia keluar dari kamar, kemudian berjalan menuruni anak tangga yang melingkar indah menghiasi rumah. Seorang pria mendekatinya dengan sopan


"Nyonya, Anda hendak kemana?" tanya pria tersebut


"Saya ingin ke kafe, nampaknya secangkir kopi terasa nikmat saat hujan begini" ucap Anggun sambil tersenyum ramah.

__ADS_1


Anggun membiarkan pria tersebut mengikutinya sampai di garasi mobil, lalu ia berbalik menghadap pria tersebut.


"Kamu tidak perlu mengantar saya, karena saya pergi tidak akan lama" ucap Anggun penuh kelembutan.


"Tapi--." ucapan Pria tersebut tidak selesai karena dipotong Anggun


"Sudahlah, saya tidak akan lama"ucap Anggun.


Anggun memasuki mobil, kemudian menjalankan mobilnya meninggalkan rumah. Ditengah perjalanan, gerombolan orang dengan berboncengan pada sepeda motor mendekati mobilnya.


Anggun tidak mau membuang-buang waktunya, ia menabrakkan mobilnya dengan keras pada dua sepeda motor yang menghalanginya, lalu menggilas tubuh mereka. Ia pun menancapkan pisau pada tangan orang yang berusaha membuka pintu mobilnya. Belum juga terbebas dari gerombolan sepeda motor, mobilnya ditembak bertubi-tubi dari arah depan.


Raut wajah Anggun dipenuhi keringat dingin saat sebuah peluru hampir mengenai wajahnya, ia meninggalkan mobilnya, kemudian berlari-lari menyusuri gang-gang sempit. Beruntung nasib Anggun karena terdapat sebuah rumah kosong tidak jauh dari tempatnya, ia memasuki rumah itu untuk menyembunyikan diri.


__ADS_1


Anggun tidak bisa mengenali orang-orang yang hampir menghabisinya karena tertutup oleh kain hitam. Salah seorang pengejar memisahkan diri dari rombongannya, nampaknya orang itu curiga pada rumah kosong yang menjadi tempat persembunyian Anggun, tapi kedatangannya justru menjadi petaka baginya. Anggun menodongkan pistol kearah orang tersebut, kemudian menembakkan peluru tepat kearah kepalanya. Darah muncrat seiring dengan peluru yang menembus kepala orang tersebut. Anggun segera menyingkirkan mayatnya.


Anggun mengeluarkan handphone dari tas yang dibawanya, kemudian menelepon seseorang


"Robert, datang lah kemari" ucap Anggun, ia segera mengirimkan alamat keberadaannya melalui google map.


Tidak lama setelah Anggun menelpon, gerombolan orang-orang yang mengejarnya datang kembali sambil memeriksa setiap rumah yang dilewatinya.


"Kurang ajar bersembunyi dimana dia" Gerutu salah seorang dari mereka.


"kalian tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan langka ini, pastikan kalau dia tidak selamat malam ini!" perintah orang yang berjalan paling depan.


Seluruh orang dari gerombolan itu berpencar, mereka memeriksa lebih teliti setiap tempat yang dilewatinya, Jantung Anggun berdetak kencang saat salah seorang dari mereka menemukan adanya darah yang tercecer. Mereka menemukan mayat yang disembunyikan Anggun. Penutup wajah mayat tersebut dibuka


"Bang Jabrig, ini mayat si Roni" ucap orang yang membuka penutup wajah mayat.

__ADS_1


"Jalang, kami sudah tahu tempat persembunyian mu. Lebih baik kamu menyerahkan diri saja. Tidak perlu lah kami dibuat jengkel karena bersusah payah menyeret mu" ucap pemimpin mereka.


__ADS_2