
Gamal merasa terharu sekaligus gembira mengetahui putrinya telah ditemukan dan dalam keadaan selamat. Namun ia pun merasa khawatir putrinya tidak mau menerima pelukan hangat darinya saat bertemu, ia takut putrinya merasa ditelantarkan olehnya sehingga menimbulkan sakit hati kepadanya.
"Shinta, apakah Qeira akan mengakui saya sebagai seorang ayah?" ucap Gamal dengan penuh kekhawatiran
"Qeira adalah anak yang sangat baik dan berbudi luhur, dia pasti akan menerima mu, Gamal" ucap Shinta sambil tersenyum.
Bunyi hp terdengar dari saku kemeja Gamal, ia mengambil hp dari sakunya, lalu mendekatkan hp ketelinga nya.
"Ada apa Ricky" ucap Gamal
"Tuan Bagus telah siuman" ucap Ricky
"Ok, saya akan segera ke sana" ucap Gamal
__ADS_1
Gamal meletakkan kembali hp di saku kemejanya, ia menatap wajah Shinta lekat-lekat.
"Shinta, ada hal penting yang belum saya ceritakan tentang kondisi keluarga kita. Ibu telah meninggal dunia dua bulan setelah dianiaya Anggun dan ayah Beberapa hari yang lalu mengalami Kecelakaan" ucap Gamal penuh kesedihan.
Shinta sengat terkejut dengan kabar yang dibawa oleh Gamal, wajahnya tiba-tiba pucat. Ia merasa pilu, ibu mertuanya merupakan sahabat yang paling akrab dengan ibunya, Shinta pun sudah menganggapnya seperti ibu kandungnya sendiri. Ayah mertuanya pun tidak kalah baiknya dengan ibu mertuanya, mereka seperti berlomba untuk menarik perhatian Shinta. Kenangan masa lalu tentang kebaikan-kebaikan ayah dan ibu mertuanya memenuhi isi kepalanya. Air matanya tiba-tiba mengalir deras, ia menangis tersedu-sedu
"Inna lillahi wa inna ilahi Raji'un, mengapa kamu baru memberitahukan sekarang Gamal" ucap Shinta setelah ia menumpahkan seluruh air matanya
"Saya dibebani rasa bersalah atas kehilangan Qeira dan kepergian kak Ardian sekeluarga tanpa uang sepeser pun, beban itu pun bertambah dengan kematian ibu, dan bertambah berat lagi dengan kecelakaan yang dialami ayah. Rasanya, saya sudah hampir gila, Shinta" ucap Gamal, suaranya terdengar serak dan penuh keharuan.
" Gamal, mari kita melihat keadaan ayah di Rumah Sakit." ucap Shinta.
Gamal membawa Shinta menuju ke tempat parkir, ia membukakan pintu mobil untuk Shinta lalu ia masuk dari pintu sebelahnya. Mobil melaju meninggalkan gedung Lion Gold Company menuju ke Rumah Sakit.
__ADS_1
...*****...
Shinta tidak dapat menutupi kesedihannya melihat ayah mertuanya. Wajah Bagus Anugerah yang dahulu masih tampak gagah dan terawat, sekarang jauh lebih tua, kerutan-kerutan diwajahnya sangat dalam, semakin tirus dan tulang pipinya menonjol.
Gamal meninggalkan Shinta yang duduk di sisi samping tempat tidur, ia hendak membicarakan perkembangan kondisi ayahnya dengan dokter, selain itu ia pun akan melakukan tes DNA.
Shinta melihat kelopak mata Bagus Anugerah bergerak-gerak dan mulutnya seperti ingin mengatakan sesuatu. Shinta mendekatkan telinganya ke mulut Bagus Anugerah.
"Dingin" ucap Bagus, suaranya sangat pelan seperti dengungan suara nyamuk
"Apakah ayah merasa haus?" tanya Shinta, tapi Bagus Anugerah menggelengkan kepalanya dengan pelan.
Shinta mendekatkan kembali telinganya ke mulut Bagus Anugerah yang bergerak-gerak, ia berusaha keras untuk menangkap suara Bagus Anugerah.
__ADS_1
"Dingin" ucap Bagus Anugerah, ia berkata dengan suara yang sangat pelan namun Shinta dapat mendengarnya.
Shinta membenamkan tubuh Bagus Anugerah dengan selimut tebal, lalu menggenggam tangan Bagus Anugerah yang sangat dingin. Setelah merasa hangat, Bagus Anugerah kembali tertidur pulas