Melodi Cinta Aqila

Melodi Cinta Aqila
bab 7 Anwar 2


__ADS_3

Disalah satu sudut ruangan Rumah Sakit, tergeletak lemah seorang wanita cantik. Berhari-hari ia seperti putri tidur dalam dongeng, suami dan anaknya begitu setia menemaninya. Ia membuka matanya, kemudian menggerakkan tangannya, ia tersenyum senang saat menyadari tangannya digenggam erat oleh suaminya, suami yang sangat dicintainya.


"Mas...." Ucap Lastri pelan


"Alhamdulillah, kamu sudah sadar" Ucap Rangga yang terbangun dari tidurnya, ia memeluk istrinya erat, ada rasa bersalah pada dirinya.


Anwar yang ikut terbangun langsung memberikan belaian hangat dan kecupan pada ibunya.


"Ibu, jangan tinggalkan Anwar ya..." Ucap Anwar di telinga Lastri.


"Wajah kalian pucat sekali, maaf telah menyusahkan kalian" Ucap Lastri, air matanya meleleh deras, ia memendangi suami dan anaknya bergantian.


Rangga menempelkan jari telunjuk ke mulutnya, memberi isyarat agar istrinya tidak melanjutkan pembicaraannya. Namun istrinya menggelengkan kepalanya, ia masih merasa ada yang perlu diketahui oleh suami dan anaknya.

__ADS_1


"Jika saya katakan saya tidak bersalah, apakah kalian akan percaya?" ucap Lastri lirih.


"Pasti tidak percaya, bahkan kamu telah menyiksaku sedemikian rupa" Sambung Lastri kepada suaminya


Lastri pun menangis dan tangisannya makin mengguguk saat suaminya membelai rambutnya, ia menangis sampai beberapa lama


"Ah... bahkan saya sendiri pun sulit untuk tidak percaya jika bukti-bukti itu ditunjukkan pada saya." Ucap Lastri menghibur diri atas perbuatan suaminya, ia mengusap air matanya.


"HP saya hilang satu Minggu yang lalu, karena merasa itu bukan hal besar maka saya tidak memberitahu mu. Esoknya secara kebetulan saya bertemu dengan mantan pacar saya sewaktu SMA, Hendri Prakoso namanya. Ia mengajakku makan siang sekaligus berbincang-bincang, lalu entah mengapa saya sudah sampai rumah malam harinya. Kata bi Ratna saya sakit dan tidak sadarkan diri sehingga diantar pulang oleh pelayan Restoran" ucap Lastri dengan suaranya yang terus melemah seperti suara dengung nyamuk lalu tertidur.


"Ibu..ibu.. bangun ibu.." Ucap Anwar sambil menepuk-nepuk bahu ibunya


"Biarkan ibumu beristirahat, nak" Ucap Rangga menenangkan anaknya sambil membelai rambut hitamnya.

__ADS_1


"Aku percaya pada ibu, ini pasti fitnah. Ada yang mau mencelakakan ibu. Ayah tidak berperasaan, kenapa menyiksanya sampai begini" Ucap Anwar berapi-api.


Rangga yang semenjak tadi menahan perasaan sedih sekaligus marah keluar ruangan. ia menyesali perbuatannya, ia memukuli pohon rindang yang tidak bersalah dihadapannya berkali-kali. Setelah merasa lebih tenang, ia memerintahkan stafnya untuk memeriksa kebenaran dari isi hp tersebut.


Rangga terkejut saat diberi tahu banyak kejanggalan dari isi hpnya, mulai dari video yang terdiri dari wanita yang berbeda walaupun ada kemiripan, photo-photo editan, sampai isi chatting dan SMS palsu.


Rangga sangat marah, ia memerintahkan untuk mencari dan membekuk orang-orang yang terlibat untuk mencelakakan istrinya. Ia sudah mengantongi satu nama yaitu Hendri Prakoso.


Kesehatan Lastri semakin lama semakin menurun, badannya pun semakin menyusut, wajahnya seolah menua hanya dalam beberapa hari, hingga akhirnya ia dinyatakan meninggal dunia oleh dokter.


Rangga merasa terpukul, ia menyalahkan kebodohan dirinya. Orang yang sangat dicintainya, yang seharusnya dilindunginya mengalami nasib tragis oleh siksaannya.


Selama proses pemakaman, Anwar mengurung diri di dalam kamarnya. Ia benci kepada orang yang memfitnah ibunya, benci pada kecerobohan ayahnya namun lebih benci kepada dirinya sendiri yang merasa tidak dapat melindungi orang yang dicintainya.

__ADS_1


__ADS_2