Melodi Cinta Aqila

Melodi Cinta Aqila
bab 39 Pancaran Kebahagiaan


__ADS_3

Anak-anak kecil berhamburan menyambut kedatangan Anwar, mereka berlomba memamerkan senyum manis diwajahnya, mereka berbicara berbarengan sehingga mirip dengan suara lebah. Sebagian anak-anak kecil menarik tangan kanan Anwar, sebagian lagi menarik tentang kiri Anwar, sebagian lagi mendorong dari belakang, beberapa diantaranya bahkan minta digendong.


Rijal dan Agung seperti orang linglung, mereka hampir tidak percaya dengan pandangan matanya, mereka menggosok-gosokkan matanya beberapa kali, mulut mereka membentuk huruf O sehingga air liur mereka hampir menetes, mereka tidak menyangka jika Anwar yang sangat disegani ternyata takluk kepada anak kecil.


"Apa yang kalian lakukan, mengapa bersikap tidak sopan kepada paman?" ucap Aqila


Anak-anak kecil tersebut seperti sepasukan semut yang mendapat perintah ratunya, mereka membentuk barisan dengan rapi, kemudian satu persatu mencium tangan Anwar lalu masuk kedalam ruangan.


Rijal dan Agung sekali lagi dibuat terkejut, air liur mereka akhirnya jebol dan mata mereka mereka membentuk bulatan, mereka tidak menyangka seorang gadis kecil bisa lebih berwibawa dari bos mereka.


"Paman Anwar, kenapa mereka?" ucap Aqila, tangannya menunjuk Rijal dan Agung

__ADS_1


Bukan hanya Anwar yang melihat kondisi Rijal dan Agung, tapi juga para pemuda yang tadi membantu. Para pemuda tersebut menggotong Rijal dan Agung karena disangka epilepsi.


"Hei.. apa yang kalian lakukan.... turunkan saya.. turunkan saya!" teriak Agung dan Rijal


Para pemuda tersebut menurunkan Rijal dan Agung, mereka merasa malu karena telah salah duga. Menyaksikan adegan yang diperagakan barusan, Anwar tertawa terbahak-bahak dan tawa tersebut menular kesemuanya.


Tertawa ternyata obat mujarab untuk mengakrabkan diri, rasa canggung pun hilang. Mereka membuka kardus-kardus yang tergeletak dilantai, kardus-kardus tersebut berisi tas yang telah diisi beberapa buku tulis dan kotak pensil lengkap dengan peralatan menulis. Mereka membagi rata kepada anak-anak kecil yang tampak sudah tidak sabar ingin memilikinya, senyum dan ucapan terimakasih meluncur pada setiap anak yang mendapatkannya.


Anwar menuju ke bank sampah, ia melihat berbagai sampah anorganik yang telah diseleksi sesuai dengan jenisnya untuk dipasarkan. Tempat terakhir yang dikunjungi adalah tempat pembuatan pupuk dari sampah organik, seseorang menjelaskan dengan antusias kepada Anwar cara pembuatan dan pendistribusian pupuk yang berasal dari sampah tersebut.


Anwar menuju ke tempat tinggal Shinta, tapi ia masih dikerumuni beberapa pemuda yang tampak asyik menjelaskan rencana-rencana pembangunan. Orang-orang yang sudah sepuh dan berpengalaman mengerti perasaan pemuda baik hati tersebut, mereka berbisik-bisik pada Pak Shaleh lalu pergi.

__ADS_1


"Udin, bawa teman-teman mu ke aula, ada yang mau kubicarakan" kata Pak Shaleh


"Baik pak" ucap Udin, ia membawa para pemuda yang mengerumuni Anwar untuk ikut bersamanya.


Anwar tampak bahagia melihat Shinta telah berdiri didepan pintu, ada rasa haru menyusup dalam hatinya.


"Dokter Anwar, masuklah. Engkau pasti lelah" ucap Shinta


Anwar dan dua karyawannya masuk ketempat Shinta, mereka duduk untuk melepas lelah, keringat mengucur dari wajah mereka.


Shinta menyuguhkan teh hangat dan beberapa cemilan. Hatinya terharu melihat perubahan drastis pada Anwar, air matanya hampir menetes karena sedih. Dalam pandangan matanya Anwar tampak lebih kurus dan pucat, ada garis hitam di kedua matanya, dan rambutnya tidak terurus dengan baik.

__ADS_1


__ADS_2