
Anggun duduk termenung didepan kaca jendela besar, mata indahnya menatap langit yang gelap tanpa pancaran sinar rembulan dan gemerlap cahaya bintang, wajah cantiknya nampak murung dan sendu. Anggun tidak mempunyai satupun teman untuk berbagi cerita, ia hanya mampu bercerita kepada langit pada malam hari.
"Gamal, saya sangat merindukanmu. Apakah kamu tidak merasakan hal yang sama dengan saya?"
"Gamal, apakah kamu tahu? karena terjerat cinta mu, saya tidak tega menghancurkan Lion Gold Company"
" Gamal, saya sangat mengkhawatirkan nasib anak kita. apakah kamu juga mengkhawatirkan anak kita yang malang?"
Anggun membuka daun jendelanya, ia membiarkan angin memasuki kamarnya yang indah, angin yang terasa sejuk di kulit dan menyegarkan pikiran.
Air hujan turun sedikit demi sedikit membentuk titik-titik di tanah lalu semakin lama semakin deras, percikan air hujan yang terbawa angin mengenai wajah cantik Anggun.
Siapakah yang mengerti perasaan ku?
__ADS_1
yang menelan segala derita bulat-bulat
tanpa ada keluhan sedikit pun dari mulut ku.
siapakah yang mampu memendam dukanya bertahun-tahun diganti senyum ceria?
mengapa tidak ada seorangpun yang Sudi berbagi derita denganku?
Saya hanya wanita malang yang kehilangan cintanya
Air mata Anggun mengalir membentuk anak sungai di pipinya yang indah. Ingatannya melayang melompat ke masa lalunya yang kelam.
Ketika itu usia Anggun telah menginjak empat belas tahun, ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri ayahnya dilemparkan kedalam sungai. Anggun tidak mampu menolongnya, jangankan menolong bahkan berteriak pun tidak mampu, jangankan berteriak bahkan menangis pun tidak mampu. Seorang pria bertato ular di tangannya telah mengancamnya dengan pisau tepat di leher Anggun
__ADS_1
" jika sampai ada air mata yang menetes atau suara yang terdengar maka kamu akan saya bunuh lalu ku lempar seperti ayah mu" ancam pria bertato ular tersebut.
Anggun sangat takut, ia tidak berani bersuara bukan hanya sampai rombongan orang-orang jahat itu pergi. Bahkan saat ayahnya ditemukan tewas oleh warga pun, ia tidak berani menangis walaupun sangat sedih.
Setelah tepat satu tahun ayahnya meninggal, ibunya dilamar orang, namun yang membuat Anggun syok adalah pria yang melamar ibunya adalah pria bertato pembunuh ayahnya, pria yang sangat ditakutinya, pria yang mengancamnya dengan pisau.
Biduk rumah tangga ibunya bagi orang lain tampak bahagia, namun tidak bagi Anggun. Ia seperti hidup dalam neraka, selama dua tahun ia digagahi ayah tirinya, jika menolak maka siap-siap *********** perih karena diberi sambal.
Lepas dari mulut harimau masuk mulut buaya, nampaknya itulah pribahasa yang tepat untuk menggambarkan penderitaan Anggun. Setelah puas menikmati tubuh anak tirinya, Anggun di jual di tempat prostitusi. Anggun hanya bisa pasrah, ia merasa telah menjadi takdirnya untuk menjadi wanita hina.
Hal tidak terduga terjadi karena ada seorang pria yang mau menolongnya, pria itu bernama Stevanus Audrey. Stevan membeli dirinya dengan harga yang sangat mahal, sepuluh kali lipat dari harga yang diajukan sang germo.
Stevan bukan hanya membebaskan Anggun dari tempat hina, namun juga mengangkat status sosial Anggun.
__ADS_1
Anggun bukan hanya melanjutkan sekolahnya, bahkan ia diajarkan banyak keterampilan oleh guru-guru profesional di bidangnya.
Dalam kurun waktu lima tahun, Anggun telah berubah drastis. Bukan hanya penampilannya, tapi juga pemikirannya.