Melodi Cinta Aqila

Melodi Cinta Aqila
bab 47 Saksi


__ADS_3

Para karyawan Kafe sangat ngeri menyaksikan penyiksaan yang dialami Anwar, tubuh mereka bergetar dan berkeringat dingin, jantung mereka berdetak lebih kencang dan mulut mereka seperti terkunci rapat. Mereka mulai merasa lebih tenang setelah para penjahat itu pergi jauh.


"Apakah kita perlu menelpon polisi?" ucap seorang karyawan perempuan berambut pendek


"Jangan" ucap teman-temanya secara bersamaan


"Kita harus bagaimana dong?, saya takut" ucap karyawan perempuan berambut pendek.


"Praang... praang... praang"


Suara pecahan kaca terdengar nyaring dan berulang-ulang serta pecahan kaca yang berhamburan membuat ciut nyali para karyawan Kafe.


Orang-orang bertopeng masuk ke dalam kafe sambil memecahkan kaca jendela dengan senjata yang mereka bawa, mereka sengaja melakukan hal tersebut untuk mengintimidasi para karyawan Kafe. Salah seorang diantara mereka duduk di kursi dengan penuh kesombongan, orang tersebut memiliki tato ular ditangannya, ia adalah ayah tiri Anggun, pemimpin dari orang-orang bertopeng tersebut.


"Bawa mereka disini!" ucap Pria bertato tersebut


Para karyawan Kafe diseret dengan kasar sampai menghadap pemimpin orang-orang bertopeng. Wajah para karyawan Kafe putih pucat seperti mayat hidup.

__ADS_1


"Apakah kalian melihat kejadian yang dialami pria yang tergeletak dipinggir jalan tersebut?" ucap pria bertato ular


Seluruh karyawan Kafe saling melirik, mereka merasa sepakat walaupun tidak diucapkan dengan kata-kata.


"Kami tidak melihatnya" ucap karyawan Kafe dengan bersamaan


"Bodoh, hajar mereka!" ucap pria bertato ular


Para karyawan Kafe dipukuli perutnya berulang kali sampai perut mereka terasa mulas dan mual, bahkan ada yang muntah-muntah. karyawan Kafe yang perempuan pingsan karena fisiknya tidak tahan oleh pukulan tersebut. Pukulan dihentikan setelah ada tanda dari tangan pria bertato ular itu untuk menghentikannya.


"Mengerti" ucap Karyawan Kafe dengan bersamaan.


"Telpon Ambulans untuk mengurus pria itu!" ucap pria bertato ular tersebut sambil pergi meninggalkan Kafe.


Salah seorang dari karyawan menekan tiga angka yang merupakan nomor darurat untuk menghubungi Ambulans.


"Ada seorang pria tergeletak didekat kafe tempat kami bekerja, lokasinya berada di Ocean Dream Cafe" ucap Karyawan pria berambut ikal dengan nada gemetar

__ADS_1


Tidak lama setelah ditelepon oleh karyawan Kafe, mobil ambulans mendekati tubuh Anwar yang tergeletak di jalan, beberapa orang turun dari mobil, mereka memeriksa kondisi tubuh Anwar yang lemah dan memberikan pertolongan pertamanya, lalu tubuh Anwar diangkut kedalam mobil dengan hati-hati menuju ruangan ICU Rumah Sakit.


...*****...


Rangga Sukmajaya sudah lama menderita hipertensi yang mengakibatkan penyakit komplikasi akut, ia menyerahkan perusahaan yang dirintisnya selama bertahun-tahun kepada putra semata wayangnya.


Rangga sangat kagum pada putranya dalam memimpin perusahaan. Ia harus mengakui ketajaman otak Anwar yang luar biasa dan tindakannya pun penuh perhitungan sehingga kemajuan perusahaan sangat cepat.


Rangga selalu memantau perkembangan perusahaan yang dipimpin putranya, ia terkadang bekerja dibalik layar untuk membantu Anwar dari permainan para pengusaha yang licik.


Bunyi suara hp mengusik konsentrasi Rangga yang sedang serius memperhatikan file-file perusahaan melalui laptop dihadapannya, ia mengambil hp dari saku bajunya lalu mendekatkan pada telinganya.


"Tuan Rangga, Anwar putra anda sedang dalam perawatan ICU" ucap suara dari dalam telpon


Rangga merasa syok mendengar kabar yang diterimanya, dadanya tiba-tiba terasa sesak dan Sulit bernafas, kepalanya pusing, dan pandangan matanya kabur, lalu tubuhnya jatuh ke lantai.


Para pelayan yang sibuk bekerja berhamburan mendekatinya, seseorang dari mereka menelpon dokter yang biasa menangani kesehatan Rangga.

__ADS_1


__ADS_2