
Seorang pria sedang mempertontonkan drama penyiksaan seorang suami terhadap istrinya dihadapan anaknya yang masih kecil. Ia menampar, memukul, meludahi dan menjambak istrinya. Istrinya menangis melolong-lolong minta pengampunan, namun hati pria itu sama sekali tidak tergerak sedikitpun. Ia masih memukulinya berkali-kali.
Darah anak kecil itu bergolak, ada perasaan iba dan benci sekaligus. Ia memukul ayahnya dengan gagang sapu, ayahnya terkejut beberapa saat, lalu ditamparnya anak itu beberapa kali.
"Kurang ajar, kamu mau jadi anak durhaka!" bentak pria itu.
""Kenapa ayah menyiksa ibu" Jawab anak itu berani
"Ibumu telah selingkuh" bentak pria itu
"Tidak mungkin, memang ayah punya bukti" jawab anak itu dengan lantang
Pria itu terdiam, lalu pergi ke kamar kemudian kembali. Ia melemparkan hp pada anak itu.
__ADS_1
"Coba lihat isi hp itu!" ucap pria itu
Anwar si bocah ingusan, membuka layar hp yang isinya chattingan-chattingan cabul, photo-photo kemesraan ibunya, bahkan ada video adegan dewasa. ia bengong, ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia lari, melarikan diri dari kenyataan.
Angin malam berhembus lembut dan menyejukkan, membelai-belai wajahnya yang tampan. Sinar rembulan indah menawan dengan pancarannya, bintang-bintang genit menggoda namun hati bocah itu tidak tergerak. Hatinya seperti diiris-iris menjadi serpihan-serpihan kecil.
"Tidak mungkin ibu berselingkuh, ini pasti fitnah" Gumamnya.
Namun bukti-bukti photo-photo, Video, chatting dan SMS di hp itu tidak terbantahkan. Ia merasa perih, lalu berpikir apakah ayahnya pun merasakan perasaan yang sama atau bahkan lebih parah. Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam pikirannya, namun tidak ada jawaban yang memuaskan hatinya. Ia berjongkok, menutup wajahnya, lalu terisak dalam kesendirian.
"Perempuan jalang...!" pekiknya sambil melempar gelas kristal ditangannya.
Jauh di lubuk hatinya Ia merasa tidak tega untuk menyakiti wanita yang dicintai sepenuh hatinya itu, namun ia pun benci atas perbuatan terkutuknya. Benci, Cinta, marah, dan rasa kasihan bersatu dalam dirinya.
__ADS_1
Anwar kembali ke kamar ibunya, ia ingin mengetahui lebih jelas, lebih tepatnya ia ingin suatu yang dilihatnya adalah kebohongan, atau setidaknya ada penjelasan langsung dari bibir ibunya atas perbuatannya.
"tok..tok.. tok..." Anwar mengetuk-ngetuk pintu beberapa kali
"ibu... ibu... ini Anwar" Ia memberi tahukan keberadaannya, namun tidak ada jawaban.
"tok..tok...tok..." Anwar mengetuk-ngetuk pintu kembali beberapa kali namun tetap tidak ada jawaban.
Anwar membuka pintu yang memang tidak terkunci, ia terkejut melihat ibunya tergeletak tidak berdaya. Mulut ibunya berbuih dan nafasnya tersengal-sengal.
"Ibu... Ibu..." Anwar menjerit keras, diguncang-guncang tubuh ibunya yang tidak berdaya.
Anwar berlari menuju kamar ayahnya, lalu menggedor-gedor pintu kamar ayahnya.
__ADS_1
"Ayah... ibu keracunan.... ayah.... cepatlah tolong ibu.." teriak Anwar
Rangga membuka pintunya dan langsung menuju kamar istrinya, ia menelpon dokter pribadinya untuk segera datang. Dalam mimpi pun ia tidak mengira jika istrinya akan berbuat demikian