
Perasaan Shinta terguncang, ia tidak pernah menyangka Stevan yang angkuh dan berkuasa akan menjatuhkan harga dirinya dihadapannya, ia tidak mengira jika pria yang diperebutkan banyak wanita karena kegagahan, kecerdasan, dan kekayaannya itu kini bertekuk lutut meminta belas kasihnya.
"Pernikahan bukan suatu permainan" ucap Shinta.
"Apakah kamu meragukan keseriusan ku?" tanya Stevan, ia meraih tangan Shinta kemudian diletakkan didadanya yang bidang.
"Sekarang saya adalah istri dari Gamal Anugerah" kata Shinta sambil menarik tangannya, Ia sengaja mempertegas statusnya agar Stevan mengurungkan keinginan gilanya.
"Saya akan membunuhnya agar kita bisa menikah" ucap Stevan, matanya memancarkan kebencian dan tangannya dikepalkan, kemudian ia bangkit dan beranjak pergi.
"Jangan bunuh dia Stevan!" ucap Shinta.
Shinta berlari dan meraih tangan Stevan namun ditepis, ia jatuh tersungkur akibat kuatnya tenaga Stevan.
"Praaaaaaaaaang" suara pecahan kaca jendela terdengar nyaring ditelinga, serpihannya berhamburan dilantai, disusul sebuah benda yang mengeluarkan kepulan asap putih pekat melayang kedalam kamar.
__ADS_1
Seseorang masuk melalui jendela kamar, ia membawa Shinta, kemudian pergi dengan cepat. Ia sangat mengerti dengan lokasi yang dilaluinya karena ia adalah mantan orang kepercayaannya Stevan, orang tersebut adalah Robert.
Peristiwa penganiayaan Anggun menimbulkan dendam dihati Robert, ia ingin Stevan mengalami penderitaan yang sama dengannya, ia ingin Stevan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukannya terhadap Anggun.
Robert membawa Shinta di suatu rumah sederhana, ia menyerahkan Shinta pada seorang wanita yang mukanya buruk dan kakinya cacat, wanita tersebut adalah Anggun.
Setelah Anggun dibuat cacat, Robert membawa Anggun dan ibunya meninggalkan rumah lamanya, ia membeli sebuah rumah sederhana lalu mempekerjakan dua orang pelayan di rumah itu.
Stevan duduk di kursi kebesarannya dengan wajah tidak bersahabat, hatinya merasa panas, dan harga dirinya seperti diinjak-injak. Robert telah menyatroni rumahnya dengan bebas, Shinta dibawa pergi dengan mudah, bahkan berani mengancamnya.
"Plok... plok.... plok...."
"Sungguh mengejutkan, seorang Stevanus Audrey yang tersohor bersedia mau memenuhi undangan orang yang tidak berarti seperti ku" kata Robert
__ADS_1
Stevan terkejut dan marah saat pandangan matanya menangkap sosok seorang wanita tua yang tampak kurus, pakaiannya lusuh, dan ada bekas pukulan pada wajahnya, wanita tersebut adalah ibunya. Ia pun melihat di sisi yang berseberangan kondisi Shinta yang tidak kalah buruknya.
"Tuan Muda, mana yang akan kamu siksa diantara dua wanita itu?" tanya Robert sambil tersenyum.
"Kamu akan membayar mahal akibat keberanian mu mengusikku" ancam Stevan.
"Hahaha.... Silahkan jika kamu mampu" kata Robert
Robert menyerahkan sebotol air keras dan sebuah pistol kepada Stevan, ia sangat percaya diri melakukannya, ia terlalu menganggap enteng Stevan setelah berhasil menyandra Shinta.
Stevan tidak mau menyia-nyiakan kesempatan baik, ia menyiram air keras di wajah Robert lalu menembaknya berkali-kali. Robert tewas akibat kecerobohannya sendiri, dendamnya tidak terlaksana karena kesombongannya.
Stevan mendekati ibunya, lalu membebaskan belenggu di kaki dan tangan ibunya. Ia memeluk ibunya dengan erat, air matanya yang sudah lama kering tiba-tiba mengalir, ia sangat merindukan ibunya setelah bertahun-tahun tidak menemuinya, namun tiba-tiba sebuah pisau ditancapkan berkali-kali di perutnya hingga tewas.
Wanita tersebut tersenyum penuh kemenangan, ia membuka topeng yang menutupi wajahnya yang buruk, ia adalah Anggun. Ia membelah dada Stevan, lalu mengambil jantungnya.
__ADS_1
"Maaf, saya mengambil jantung mu karena saya takut kamu hidup lagi dan menyusahkan ku" ucap Anggun sambil tertawa terbahak-bahak.
Anggun berjalan meninggalkan gedung, ia sudah kehilangan kewarasannya, ia tidak menyadari langkah kakinya menuju tempat berbahaya, ia jatuh dari gedung dan tewas seketika.