Melodi Cinta Aqila

Melodi Cinta Aqila
bab 22 Dibakar Api Cemburu


__ADS_3

Arif menatap tajam Aqila dan Irfan yang nampak asyik berbicara di taman, tangannya dikepalkan erat-erat, hatinya panas dibakar api cemburu. Untuk pertama kalinya ia merasa benci pada orang yang dikaguminya, ia belum pernah merasakan siksaan batin seperti yang dialaminya sekarang, biasanya ia adalah seorang yang tenang dan rasional. Beberapa kali Arif hendak menghampiri mereka tapi diurungkan, ia bertarung dengan perasaannya sendiri.


apa yang harus kulakukan? apakah saya harus menegur perbuatan mereka? tapi perbuatan salah apa yang harus saya tegur?


mengapa juga saya harus sembunyi-sembunyi gini sih.. seperti orang bego aja


"menyebalkan.. !" ucapan Arif meluncur dari mulutnya tanpa disadarinya.


Arif menunggu dengan gelisah dibalik pohon rindang tempat persembunyiannya, matanya tidak mau lepas dari mereka. Ia mulai merasa tenang saat Aqila meninggalkan Irfan


Aqila merasa puas setelah Irfan menyadari kesalahannya, rasa gembira terpancar dari senyum diwajahnya. Ia tidak menyadari jika langkah kakinya dibayangi oleh Arif Semenjak meninggalkan taman.


"Wah... kamu tampaknya senang sekali hari ini" tegur Arif.


Aqila terkejut, ia menghentikan langkahnya lalu berbalik badan menghadap Arif.


"Hilang kemana kamu kemarin?" tanya Arif ketus


"Saya... " Aqila tidak mampu melanjutkan kata-katanya, ia merasa tidak enak hati jika berterus terang.


"Apakah kamu bersembunyi karena malu berjalan bersama saya?" tebak Arif.

__ADS_1


Aqila menganggukkan kepalanya.


"Tapi.. mengapa kamu tidak malu berduaan dengan Irfan ditaman?" tanya Arif penuh selidik.


Aqila tidak dapat menjawab, ia merasa seperti menjadi seorang terdakwa, ia hanya menundukkan kepalanya.


"Apakah wajah saya sangat jelek?"tanya Arif


"Tidak, kakak tidak jelek. Bahkan sangat tampan" ucap Aqila, wajahnya memerah karena malu dengan ucapannya sendiri.


Tiba-tiba Arif merasa senang dengan jawaban Aqila, senyumannya langsung mengembang diwajahnya


"Roti Honey bakery terkenal sangat lezat, ayo kita ke sana" Ajak Arif.


"Saya mau membelikan roti bukan untuk mu tapi untuk anak-anak didik mu" ucap Arif ketus


"Kak Arif mau mampir ke tempat saya lagi?" tanya Aqila


"Iya.. itu sebagai hukuman karena kamu menghilang kemarin" ucap Arif ketus


Aqila mengikuti Arif menuju Honey bakery di seberang jalan, kegembiraan menjalar dihatinya karena membayangkan kegembiraan anak-anak didiknya saat menerima roti-roti lezat itu.

__ADS_1


Arif memborong roti dengan beraneka macam rasa, ia pun membelikan kue yang menurutnya paling sepesial khusus untuk Aqila.Setelah keluar dari toko Honey bakery, Arif menuju toko boneka.


"Untuk apa kita kesini?" tanya Aqila


"saya mau membelikan boneka itu untuk mu" jawab Arif


"tidak mau, saya bukan anak-anak lagi" ucap Aqila.


Arif nampak tersinggung, Aqila dapat menebak hal tersebut dari perubahan pada wajahnya.


"Maaf kak, bukan saya bermaksud menolak pemberian kakak tapi bagi saya sebuah boneka kurang bermanfaat. Apalagi harganya begitu mahal" ucap Aqila


"Sebelum memasuki Honey bakery, saya melihat kamu tampak mengagumi kecantikan boneka yang terpajang di etalase toko. saya hanya ingin menyenangkan hati mu." ucap Arif.


Aqila sangat terharu dengan pengakuan Arif.


"Kalau begitu, ayo kita ke toko sepatu. Kamu bebas memilih sepatu yang kamu inginkan" ajak Arif.


"terima kasih atas kebaikan kak Arif, tapi tidak untuk sekarang" ucap Aqila


"Mengapa?" tanya Arif

__ADS_1


"karena hal itu dapat membuat saya malu untuk menemui kakak selanjutnya" ucap Aqila


Aqila menyadari sepatunya sudah sangat tidak layak pakai. Namun didalam hatinya ia tidak ingin menjadi benalu pada orang lain.


__ADS_2