Melodi Cinta Aqila

Melodi Cinta Aqila
bab 43 Qeira


__ADS_3

Terjadi peperangan besar dalam hati Shinta, ia begitu sulit untuk memutuskan jawabannya, mulutnya terasa berat untuk berucap walaupun dengan sepatah kata, namun ia merasa tidak tega mengabaikan harapan dari para tokoh masyarakat yang bijaksana tersebut.


"Saya akan mempertimbangkannya terlebih dahulu" ucap Shinta


"Ini memang perlu dipertimbangkan dengan masak. Silahkan pertimbangkan dengan baik" ucap ustadz Syarif, diiringi oleh anggukan kepala yang lainnya pertanda setuju.


Para lelaki tua tersebut berdiri, mereka baberpamitan kepada Shinta, lalu pergi dari kediaman Shinta.


...*****...


Disebuah rumah tua yang terletak paling ujung, puluhan warga sedang berkumpul, mereka berbagi duka pada seorang warganya yang sedang mengalami sakarotul maut, wanita itu adalah Indri ibunya Zainab. Aqila berulang kali mencoba menghibur Zainab yang tidak henti-hentinya menangis disamping ibunya, ia merasa pilu dan sedih dengan kondisi Zainab dan ibunya.

__ADS_1


Indri divonis menderita kangker stadium akhir, tubuhnya kurus kering seperti hanya tulang yang terbungkus dengan kulit saja, ia sudah tidak mampu berdiri dan berjalan lagi, ia pun sudah lama tidak mampu mengunyah makanan dengan baik. Beberapa kali Anwar membujuknya untuk berobat, tapi selalu ditolaknya dengan halus.


"Zainab anakku, rasanya ajal ibu sudah semakin dekat" ucap indri.


"Tidak... ibu tidak boleh meninggalkan Zainab..." ucap Zainab sambil terisak


"Nak, tolong ambilkan kalung yang berada didalam laci lemari" ucap Indri


Apakah Zainab sebenarnya adalah Qeira?


Ya... Allah, malang sekali nasib mu, Qeira

__ADS_1


Tangan Shinta gemetar, ia memeluk Zainab, mengelus rambutnya dan menciumnya dengan penuh kasih sayang.


Indri mengangkat tangannya dengan susah payah, ia memegang rambut Zainab yang hitam dan lebat.


"Ibu sangat senang saat menyisir rambut mu yang halus, lalu mengikatnya seperti ekor kuda. Kamu terlihat lucu dan manis" ucap Indri sambil tersenyum


"Ibu dapat melakukan hal itu kapan pun ibu mau... tapi ibu harus sembuh dulu..." ucap Zainab sambil terisak-isak


"Dulu ibu pernah ditipu, ibu dijerumuskan ke dalam dunia malam, beberapa kali ibu ingin keluar dari rumah maksiat tersebut namun selalu gagal. Mereka menyiksa ibu setiap kali ibu tertangkap, siksaan yang sangat sadis dan kejam. Saat ibu hampir putus asa, tempat kami dihebohkan dengan kedatangan seorang pria yang ditakuti oleh murcikari dan para centeng. Ibu tidak mengenal pria itu, ia menitipkan seorang anak perempuan yang sangat cantik kepada murcikari untuk dirawat dengan baik. Anak tersebut adalah kamu, Zainab. Awalnya ibu hanya berpura-pura bersedia mengasuh mu untuk kabur dari mereka, namun setelah menggendong mu, ibu merasakan kebahagiaan yang belum pernah ibu rasakan sebelumnya, juga memunculkan kasih sayang yang sangat dalam di hati ibu. Ibu kabur sambil membawa mu, ibu tidak memiliki petunjuk apa pun mengenai diri mu selain kalung yang melingkari leher mu, maka ibu menyimpannya dengan baik. Ibu berharap suatu hari nanti, kamu dapat menemukan keluarga mu yang sebenarnya" ucap Indri dengan nafas yang tersengal-sengal


Ustadz Syarif mendekati Indri, lalu mentalqin di telinga sebelah kanannya. Indri mengikuti ucapan ustadz Syarif sampai nyawanya pergi meninggalkan jasadnya.

__ADS_1


Zainab menangis histeris, ia terus-menerus memanggil ibunya yang telah tiada. Shinta dan Aqila memeluk gadis kecil itu semakin erat.


__ADS_2