Melodi Cinta Aqila

Melodi Cinta Aqila
Bab 52 Pernikahan


__ADS_3

"Tok...tok...tok" pintu diketuk dari luar


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh" ucap seorang lelaki tua, ia datang bersama tiga orang lainnya.


"Wa 'alaykumussalam warahmatullahi wabarokatuh, silahkan masuk" kata Bagus Anugerah


Empat orang lelaki tua tersebut memasuki ruangan, dua diantaranya adalah ulama kharismatik yang keluasan ilmuannya telah diakui masyarakat, sedangkan dua orang lainnya nampak seperti pejabat daerah.


"Silahkan dimulai acara pernikahan mereka" kata Bagus Anugerah.


Gamal dan Shinta terkejut, mereka saling melirik, mereka tidak menyangka acara pernikahannya akan dilangsungkan secepat ini, mereka merasa belum siap namun mereka tidak punya keberanian untuk membantahnya.


Acara pernikahan dilakukan secara sederhana, pengucapan ijab kabul berjalan lancar. Gamal mendengarkan nasihat-nasihat yang diberikan kepadanya dengan seksama, ia tidak ingin perahu rumah tangganya karam untuk kedua kalinya. Setelah tugasnya selesai keempat tokoh masyarakat tersebut berpamitan lalu pergi.


Gamal tidak menyangka cintanya terhadap Shinta akan diikat oleh ikatan suci pernikahan, ia tidak memungkiri hatinya yang dipenuhi oleh kebahagiaan, ia mencium kening Shinta dengan penuh kelembutan, ucapan tahmid meluncur dari mulutnya berulang-ulang.


"Shinta, tidak ada yang lebih membahagiakan saya dari saat ini, saat Allah telah menyatukan hubungan kita, hubungan cinta yang halal dan bernilai ibadah. Setelah bertahun-tahun jiwa saya terasa gersang, seperti musafir terdampar di gurun yang mendambakan setetes air kasih sayang" bisik Gamal.

__ADS_1


"Astaghfirullah" ucap Shinta, kata-kata Shinta pelan namun cukup mengejutkan Gamal.


"Ada apa Shinta?" tanya Gamal, wajahnya menyiratkan kekhawatiran.


"Saya melupakan seseorang" kata Shinta, akspresi wajahnya sulit dilukiskan.


"Siapa dia?" tanya Gamal, raut wajahnya menunjukkan ketidak sukaannya.


"Anak-anak kita, saya sudah lama meninggalkan mereka" ucap Shinta sambil menundukkan kepalanya, sebenarnya yang dikhawatirkan adalah Anwar namun ia terpaksa berbohong untuk menjaga perasaan suaminya.


"Shinta, kamu tidak perlu khawatir. Saya akan membawa mereka ke rumah kita" ucap Gamal, ia pergi meninggalkan ruangan namun beberapa saat kemudian ia kembali lagi.


"Saya akan merindukan mu" kata Gamal sambil memeluk Shinta, lalu berlari meninggalkan ruangan


Shinta tidak bisa menahan tawanya, ia tidak menyangka Gamal yang selama ini dikenalnya sangat dewasa ternyata bisa bersikap kekanak-kanakan.


Shinta memperhatikan ayah mertuanya yang entah sejak kapan telah tertidur pulas, ia mencium tangan Bagus Anugerah lalu merapikan selimutnya.

__ADS_1


Shinta pergi mencari Anwar di ruangannya, tapi ruangan tersebut telah kosong. Seorang perawat muda berwajah oval mendekati Shinta.


"Apakah anda yang bernama Shinta?" tanya perawat


"Benar" ucap Shinta


"Tuan Anwar telah pergi, ia menitipkan surat ini untuk mu" kata perawat


Shinta duduk di kursi, ia membuka lipatan surat dari Anwar dengan perlahan, perasaannya berkecamuk tidak menentu, ada perasaan bersalah yang menggunung didalam dadanya, ia membaca isi surat tersebut dengan perlahan-lahan seolah tidak ingin satu huruf pun yang terlewati.


Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh


Shinta, saya dalam keadaan baik-baik saja. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan saya. Kamu pun tidak perlu merasa bersalah atas apa yang terjadi kepada saya. Semoga sang khalik menjawab doa-doa saya, semoga saya ridho dengan keputusan-Nya


Legakanlah hatimu, jalankan peran istri sesuai apa yang diperintahkan oleh-Nya, semoga keluarga mu menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah.


Tetesan air mata Shinta membasahi kertas putih yang dipegangnya, ia meremas surat yang dipegangnya lalu membuangnya ditempat sampah.

__ADS_1


__ADS_2