
Wanita dengan wajah mengerikan akibat bekas lukanya tersebut tergulung dalam pusaran masa silam. Sang waktu menggiringnya dalam masa remajanya.
Suasana Kampus tampak semarak karena di sana terdapat seseorang yang mempesona, ia dapat mengisi jiwa yang sepi dengan pancaran pesonanya. Tidak ada yang tidak takjub kepada Riyan Hidayat, mahasiswa semester akhir yang bagaikan pusat gravitasi. para mahasiswi senantiasa mengelilinginya dimana pun ia berada.
Hal ini lah yang menggelitik rasa ingin tahu Rahmah, seorang pendiam dan sederhana. Dari hanya sekedar ingin tahu menjadi kagum, dan dari rasa kagum tumbuh bunga-bunga asmara. Selanjutnya Rahmah melewati hari-harinya dengan tidak tentram, hatinya selalu gundah gelisah. Wajah Riyan Hidayat senantiasa menghantui pikirannya, ia merasa kedamaian hatinya telah hilang. Rahmah berjuang melawan rasa rindunya yang tidak berdasar dengan keras, ia tidak mau gagal dalam semester akhir.
Suatu keajaiban terjadi saat wisuda kelulusan telah usai, seseorang mendekati Rahmah dengan tersenyum. Ia mengucapkan kata-kata yang sangat hangat sampai merembes dalam hatinya. Warna merah merona terpancar dari wajah Rahmah, suara lirih itu telah menusuk gendang telinganya sampai ke jiwanya. Tidak ada ucapan yang paling indah bagi orang yang sedang jatuh cinta kecuali pengakuan cinta dari orang yang dicintainya. Hati Rahmah begitu berbunga-bunga dan dipenuhi warna-warni keindahan.
__ADS_1
Tidak ada sesuatu yang tiada kendala. Suatu saat orang tua Rahmah diundang untuk datang di kediaman Riyan, ayah Rahmah menyiapkan banyak barang istimewa untuk diberikan kepada calon besannya. Namun setelah sampai sana, kedatangan mereka bukan hanya tidak dihargai, namun juga dihina dengan penghinaan yang luar biasa. Ayah Rahmah begitu marah, harga dirinya mendorongnya untuk mengatakan yang tidak kalah pedas.
Beberapa hari setelah kejadian buruk itu, Riyan berkunjung ke Rumah Rahmah. Ia datang untuk meminta maaf kepada Rahmah dan kedua orang tuanya, namun ayah Rahmah yang masih sakit hati mencaci maki dan mengusirnya. Riyan adalah seorang yang pantang menyerah, segala cara dilakukan untuk meluluhkan hati Rahmah. Batu yang keras jika ditetesi air terus-menerus akan bolong apalagi hati Rahmah yang lembut.
Rahmah kabur dari rumah. Ia memutuskan untuk menikah dengan Riyan, orang yang dicintainya walaupun tanpa restu kedua orang tuanya. Mereka merasa bahagia karena bisa bersama orang yang dicintainya, lalu mereka dikaruniai seorang putra. Buah hatinya yang menggemaskan melengkapi kebahagiaan mereka.Saat putra mereka memasuki kelas dua sekolah dasar, Riyan begitu antusias ingin memberikan seluruh keperluan sekolah yang serba baru untuk putra tersayangnya. Ia bekerja siang dan malam tanpa mengenal lelah, setelah uangnya dirasakan mencukupi ia mengajak keluarganya berbelanja. Karena lelah dan kantuknya, motor yang dikendarai Riyan menabrak truk yang bermuatan besi. Tubuh Riyan terlindas mobil saat jatuh hingga tewas seketika, Rahmah tertimpa besi saat terjatuh sehingga mengakibatkan mukanya cacat dan kakinya pincang, sedangkan putranya hanya pingsan setelah terpental beberapa meter.
"Aqila, apakah kamu tahu siapa putra ibu?" tanya Rahmah
__ADS_1
"Maaf, saya tidak tahu" Jawab Aqila.
"Kamu mengetahuinya sayang, dia adalah Irfan" ucap Rahmah.
"Apa?" tanya Aqila, ia seperti sudah tidak mempercayai pendengarannya.
"Irfan yang menampik makanan pemberian ku" ucap Rahmah dengan bibir bergetar
__ADS_1
Aqila merasa terenyuh dan hatinya serasa ditusuk ribuan jarum mendengarnya. Tidak ada lagi kata yang dapat ia gunakan untuk menghibur Bu Rahmah, sedangkan ia sendiri pun ikut terluka karenanya.