
Shinta tertidur dengan sangat nyenyak, ia bermimpi didatangi ibunya. Ibunya nampak cantik dan mempesona, tersenyum dan berterima kasih padanya. Setelah itu ibunya pergi, meninggalkan Shinta di Padang rumput yang luas.
"Ibu... Ibu.. Jangan tinggalkan Shinta, Ibu... Ibu..." jerit nya.
Shinta terbangun dari mimpinya, wajahnya pucat dan penuh keringat. Ditatapnya Aqila yang menjaganya, Aqila tertidur sambil memegang tangannya, seolah-olah ia takut kehilangannya.
"Kasihan kau nak", ucapnya lirih.
Rasa haru dan rindu kepada ibunya, membuat ia merasa perjuangan seorang ibu begitu berat. Shinta turun dari ranjang, bersuci, lalu melakukan ibadah shalat. Saat sujud, ia banyak membacakan doa untuk ibunya, tetesan air mata membasahi sajadahnya.
Shinta merebahkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar , melirik Aqila, lalu tersenyum. Ingatannya melayang pada sepuluh tahun yang lalu, saat ibu memeluknya dengan penuh senyuman, mengajak di kamarnya, mendudukkannya di kursi rias, lalu menyisir rambut Shinta yang halus.
"Kamu sudah dewasa dan cantik, sudah saatnya menikah nak". Ucap ibu.
Shinta hanya terdiam, ia tidak tahu harus berkata apa. Shinta telah memiliki pujaan hati, ia ingin mengatakannya namun ia pun tak ingin senyum kebahagiaan ibunya hilang.
"Kamu mau kan menikah dengan anak sahabat ibu?" tanya ibu
Ibu menatap wajah Shinta dalam-dalam, ia hendak mencari jawaban dari pertanyaannya. Ia tampak senang setelah Shinta menganggukkan kepaIanya, senyumannya tidak mau meninggalkan wajahnya.
"Calon suami mu sangat tampan, kamu tidak akan kecewa. Ia juga sangat cerdas dan sopan. Ibu tidak akan mencelakakan kamu nak, percayalah pada Ibu" ucap Ibu.
__ADS_1
Shinta memejamkan matanya, ia mencoba mengusir bayangan pujaan hati yang menghampirinya.
Tak ada yang mengetahui masa depan kecuali sang pengatur waktu. Sedih dan senang bukankah melodi irama kehidupan manusia? tidak perlu sedih Shinta, tidak perlu menangis. lupakan saja dia, lupakan.
Batin Shinta meronta, berusaha menyingkirkan orang yang menghiasi hatinya. kegalauan dan kehampaan menguasai sebagian jiwanya, akhirnya ia pasrahkan kepada Allah SWT sang penguasa jiwa.
Hari perjodohan Shinta pun tiba, rumah telah ditata dengan apik, kesibukan meningkat dibandingkan hari biasanya.
Shinta tampil dengan balutan gaun yang cantik dan diperlakukan seperti seorang putri raja. Dari luar terdengar rombongan calon besan datang, ayah dan ibu menyambut mereka dengan penuh canda.
Shinta mengintip dari kaca Jendela, hatinya penuh goncangan, tubuhnya bergetar, ia memastikan kembali yang dilihatnya berharap apa yang dilihatnya hanya halusinasi.
"Kak, siapa yang akan menjadi pengantin ku?", Tanya Shinta kepada kakaknya.
"Yang pakai baju putih siapa?" Tanya Shinta pelan.
"Itu adiknya, beda dua tahun dengan Ardian. Namanya Gamal Anugerah".
Mengapa bisa terjadi seperti ini...
Mata Shinta menampilkan bayang-bayang kepiluan.
__ADS_1
"Shinta sayang, kemari." Ucap Ayah sambil menggapaikan tangannya.
Shinta merasa ruangan itu riuh sesak, hatinya enggan mengikuti perintah ayahnya, namun raganya tetap mendekatinya.
"Ini Shinta, cantik kan?" canda Ayah dengan muka yang dibuat lucu, tawa banyak orang pun mengiringinya.
Shinta tidak dapat menangkap perkataan mereka, perhatiannya hanya tertuju pada Gamal yang menatapnya penuh kebencian.
Shinta tidak sanggup lagi untuk duduk bersama dengan para tamu diruangan itu, ia melarikan diri di dapur, ia membantu para pelayan menyiapkan minuman untuk para tamu.
Gamal mendatangi Shinta, ia memberi isyarat kepada Shinta agar mengikutinya. Setelah dirasa aman, Shinta ditatap tajam. Shinta mundur beberapa langkah.
"Jelaskan!" teriak Gamal.
"Maafkan saya" ucap Shinta sambil menangis.
"Bukankah saya sudah meminta mu untuk bersabar dan menunggu?" ucap Gamal menahan kemarahannya.
"Dan, kamu pun sudah bersedia menunggu" Ucap Gamal lagi.
"Tapi, apa ini? kamu mempermainkan saya!, mengkhianati saya!, kamu membuat saya tampak bodoh dengan harapan palsu mu!" Ucap Gamal dengan meninggikan suaranya, dipukulnya keras-keras meja dihadapannya.
__ADS_1
Shinta terkejut dengan sikap Gamal, lebih terkejut lagi saat ia melihat Ardian telah berada dibelakangnya.
Suara adzan membuyarkan lamunan Shinta, ia beristighfar lalu membangunkan putrinya untuk shalat berjamaah.