
Aqila tertidur didalam kelas dengan posisi kepala tertunduk diatas meja sampai pelajaran bahasa Inggris berakhir, pak Rizal sengaja membiarkannya karena tahu Aqila telah mengalami goncangan batin yang berat. Ia tersadar saat Laras mengguncang bahunya.
"Aqila, pulang yuk" ajak Laras
"Laras, mengapa kamu tidak membangunkan saya saat pak Rizal datang?" tanya Aqila penuh sesal
"Pak Rizal sepertinya sengaja membiarkan mu istirahat" jawab Laras sambil tersenyum
Mereka meninggalkan kelas yang telah kosong menuju gerbang sekolah. Ibu Laras telah menunggu didepan gerbang Sekolah seperti biasanya lalu Laras memeluk manja ibunya. Mereka berpisah setelah mobil Avanza warna putih membawa Laras ketujuannya.
Aqila pulang dengan berjalan kaki ditengah terik matahari, ia biasa berjalan kaki setiap berangkat dan pulang sekolah untuk menghemat uang yang diberikan ibunya. Sebuah mobil Pajero warna hitam mengkilap menghampirinya, wajah Arif terpampang seiring dengan terbukanya kaca Jendela mobil.
"Aqila, ayo naik" ajak Arif
"Terima kasih tawarannya, tapi saya mau jalan kaki saja"ucap Aqila sambil menggelengkan kepalanya.
Arif tidak mau menyerah, ia keluar dari mobil kemudian mendekati Aqila.
__ADS_1
"Jika begitu, saya pun akan ikut berjalan kaki" Ucap Arif sambil tersenyum.
Aqila tercengang, ia mematung beberapa saat karena tidak tahu harus bersikap bagaimana.
"Kak Arif mau ikut berjalan kaki dimana?" tanya Aqila
"Di rumah mu lah" ucap Arif santai
"Hah" Aqila terkejut
"hahaha..." Arif tertawa senang melihat ekspresi keterkejutan Aqila
Arif tidak menjawab tetapi malah menatap Aqila
"Apakah saya tidak boleh mampir ke rumah mu?" tanya Arif
Aqila menggelengkan kepalanya
__ADS_1
"Mengapa?" tanya Arif, ia tidak puas atas sikap Aqila.
Aqila menarik nafas dalam-dalam
"Karena kami tidak mempunyai rumah. Ibu memilih mengotrak di sebuah kamar melewati gang sempit diujung jalan itu. kira-kira dua kilometer dari sini" Jawab Aqila
"Dua kilometer? kamu setiap hari berangkat dan pulang sekolah berjalan sejauh itu?" tanya Arif memastikan khawatir ia salah mendengar
"iya" ucap Aqila
"Kalau begitu saya semakin mantap untuk menemani mu karena ini adalah pengalaman pertama bagi saya" ucap Arif sambil tersenyum. Ia kemudian mendekati mobilnya dan memerintahkan agar sopir tidak perlu mengantarnya lagi.
Ingin Aqila mencegah keputusan gila Arif namun ia tidak mempunyai daya, akhirnya ia menyerah. Arif merasa senang bisa berjalan bersama Aqila walaupun panas matahari membakar kulitnya. Arif tercengang dengan jauhnya jarak yang dilalui dan banyaknya gang sempit yang dilewatinya walaupun Aqila telah mengatakan sebelumnya. Arif begitu prihatin melihat banyaknya anak-anak kecil yang nampak kurus kering seperti kurang gizi, ia membeli banyak coklat dan permen kemudian dibagikan kepada anak-anak kecil itu, dan dalam sekejap jumlah anak-anak itu bertambah sehingga ada beberapa anak yang tidak kebagian. Arif kemudian membeli lebih banyak coklat dan peremen untuk dibagikan kembali kepada anak-anak kecil itu sampai semuanya terbagi rata, senyum polos mereka dan ucapan terima kasihnya menyejukkan hati Arif. Arif dan Aqila ikut tersenyum gembira tertular oleh kegembiraan anak-anak keci yang masih polos itu.
Setelah berjalan cukup jauh akhirnya Aqila sampai di tempat tinggalnya, ia meminta Arif menunggu diluar untuk berganti pakaian, lalu kembali dan mempersilahkan Arif masuk. Arif kemudian masuk lalu duduk dilantai, matanya menjelajahi kondisi tempat tinggal Aqila yang sempit dan kumuh, ada rasa iba yang muncul dalam hatinya. Air teh hangat disuguhkan padanya kemudian Aqila keluar sebentar dan kembali dengan membawa makanan kecil untuk menemani teh hangat.
"Silahkan diminum tehnya dan dimakan kuenya" ucap Aqila
__ADS_1
Tanpa sungkan Arif meminum habis teh hangat didepannya karena perjalanan jauh dibawah terik matahari membuatnya haus, kemudian melahap makanan yang disuguhkan. Aqila tersenyum melihat kejadian itu kemudian ia menuangkan kembali teh hangat di gelas Arif. Hati Arif dan Aqila diliputi kegembiraan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, bahagia yang wajar terdorong dari hati yang terdalam