
Shinta menyadari putrinya sedang patah hati, ia tidak ingin banyak bertanya atau menasehatinya, ia ingin agar putrinya menghadapinya dengan tegar. Ia tersenyum sendiri karena ia merasa waktu berlalu begitu cepat, putrinya kini telah memasuki masa Aqil baligh.
Anwar beberapa kali menghembuskan nafas dalam-dalam. Matanya menatap Shinta tiada berkedip, Shinta yang nampak begitu cantik ketika tersenyum ramah saat melayani pelanggannya. Batinnya meronta, memintanya untuk mendekati gadis yang menawan Hatinya.
*Sampai kapan saya harus seperti ini, Shinta...
Saya sudah sangat lelah ......
Lelah tersiksa oleh rasa rindu
yang amat menyiksa batin ku ini
Saya tidak sanggup lagi.....
Saya tidak sanggup lagi untuk hidup
dalam ketidak pastian
__ADS_1
Saya menyadari jika saya
tidak bisa melupakan mu sampai kapan pun
Saya harus mendapatkan hatimu...
Hatimu yang suci bersih tanpa noda
Anwar melangkah mendekati Shinta, tekadnya sudah bulat untuk menumpahkan seluruh isi hatinya, ia tidak perduli jika cintanya ditolak, yang penting baginya ia ingin Shinta mengetahui apa yang dirasakannya.
"Shinta, apakah kamu baik-baik saja?" ucap Anwar. Ia mengajukan pertanyaan basa-basi yang sebenarnya tidak disukainya.
"Maaf, siapakah anda?" tanya Shinta
"Saya Anwar, dokter Anwar. kamu pernah bekerja di klinik kandungan bersama saya sewaktu di Jogjakarta. Apakah kamu ingat?" ucap Anwar. Ucapannya tergetar karena kegugupannya
"Kamu pasti tidak mengenali wajah saya yang sekarang, saya menjalani operasi plastik akibat kecelakaan" ucap Anwar
__ADS_1
Shinta merasa terkejut dengan penjelasan Anwar. Ia dapat mengenali suara Anwar dan dapat merasakan getaran keharuan dalam suaranya.
"Masuklah dokter Anwar, saya akan membuatkan teh hangat untuk mu" ucap Shinta sambil tersenyum ramah.
Anwar masuk kedalam rumah, ia duduk santai diatas lantai, badannya bersandar di dinding dekat daun pintu.
"Apakah benar paman adalah paman Anwar?" tanya Aqila, ia telah mendengarkan percakapan Shinta dan Anwar dari dalam rumah.
"Benar Aqila" jawab Anwar sambil menganggukkan kepalanya.
"Tapi... bagaimana caranya agar saya yakin jika paman tidak berbohong?" tanya Aqila.
Shinta datang membawa teh hangat dan beberapa makanan kecil, ia tidak mencegah Aqila bertanya walaupun ia yakin pria yang dihadapannya adalah Anwar.
Anwar menunjukkan kartu identitas nya yang berupa KTP, SIM dan Pasport. Ia pun bercerita dari awal pertemuan mereka di klinik bersalin sampai ia mengalami kecelakaan. Kecelakaan di jalan tol yang telah merusak wajahnya dan menghapus sebagian ingatannya, hingga akhirnya tanpa disengaja ia bertemu dengan Aqila. Pertemuan yang dapat mengembalikan ingatannya.
"Entah mengapa saya merasa hampa setelah kalian pergi, saya tidak ingin merasa kehilangan kalian lagi, maka saya memberanikan diri untuk datang kesini"ucap Anwar menutup ceritanya.
__ADS_1
Shinta dan Aqila dapat menangkap maksud kedatangan Anwar. Namun Shinta belum dapat melupakan almarhum suaminya, ia menyadari jika dirinya terlalu banyak berhutang Budi pada Anwar, Budi yang tidak dapat dibayar seumur hidupnya.
Aqila sangat terharu mendengar kisah Anwar, perasaannya yang halus dapat ikut merasakan penderitaan Anwar, derita karena cinta. Anwar yang menghiburnya disaat ia sedih, Anwar yang menolongnya disaat ia susah, Anwar yang menguatkannya disaat ia terpuruk. Aqila menginginkan kebahagiaan di hati Anwar, ia sangat berharap jika Anwar menjadi pengganti ayahnya.