
Aqila menarik nafas dalam-dalam, ia tidak tahu bagaimana menghibur Laras. Ada yang menusuk perasaannya, begitu tajam dan dalam sehingga menimbulkan rasa sakit yang tidak terkatakan. Kini ia dihadapkan kepada cinta yang tumbuh berkembang dihatinya dan persahabatan yang tulus dan murni.
"Aqila, terima kasih karena kamu sudah mengkhawatirkan saya. Walaupun sudah dikatakan tidak ada apa-apa, namun kamu seakan mengetahui jika saya sedang menghadapi suatu masalah" Ucap Laras pelan.
Laras menatap Aqila dalam-dalam, ia ingin menjenguk isi hati terdalam dari sahabatnya yang sangat ia kagumi.
"Aqila, saya mengenal kak Arif dengan baik tidak lama sebelum kita bersahabat. Waktu itu saya jatuh di toilet karena lantainya licin, kaki saya memar dan keseleo sehingga terasa nyeri untuk berjalan. Kak Martin dan teman-temannya memaksa saya mengikuti lomba basket putri mewakili sekolah. Saya sudah menjelaskan berkali-kali bahwa kaki saya sakit tapi mereka tidak percaya, mereka menuduh saya berbohong dan hanya mencari alasan. Terpaksa saya bermain basket dengan kaki yang sangat nyeri. Untunglah Kak Arif datang, ia menggantikan saya dengan Linda. Sejak saat itu timbul dalam hati kecil saya untuk lebih mengenal kak Arif. Saya mengikuti semua ekstrakurikuler yang diikutinya, semakin mengenalnya hati saya semakin tertarik padanya. Saya sangat terpesona dengan senyumannya yang indah, wajahnya yang rupawan, kebaikan hatinya, tutur katanya, kecerdasannya dan perhatiannya. Namun dia tidak tahu apa yang terjadi dalam hati saya. Saya tidak punya keberanian untuk mengungkapkannya karena saya menyadari jika saya hanya perempuan biasa, tidak cantik juga tidak pintar. Hati ini terasa hancur saat menyadari dia menyukai seseorang, dan terasa perih saat mengetahui siapa orangnya. Aqila, apakah kamu mengetahui siapa orang yang dia sukai?" Ucap Laras.
Jantung Aqila terasa berdetak lebih kencang, perasaannya yang halus telah dapat menebak siapa orang tersebut namun ia tidak berani memastikannya. Aqila menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
" Orang itu sangat istimewa. Tidak hanya cantik dan pintar, orang itu pun mempunyai hati yang sangat baik. Saya harus mengakui Kak Arif memang lebih pantas bersama orang itu, tapi... hati ini tidak dapat menerimanya. Berhari-hari saya larut dalam kesedihan, saya tidak dapat membenci orang itu namun keberadaannya sangat menyiksa saya. Orang itu...adalah.... kamu..." Ucap Laras, tangisnya kembali pecah. Ia sangat malu dan benci terhadap dirinya sendiri namun ia pun tidak bisa membohongi Aqila.
Betapa terkejut Aqila mendengar pengakuan jujur dari Laras, hati Aqila yang halus merasa seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum, sangat sakit dan perih. Air matanya jebol dan mengalir lebih deras di pipinya, ia tidak pernah sesakit ini sebelumnya.
Bermimpi pun Aqila tidak pernah menyangka jika keberadaannya menyebabkan duka di hati sahabatnya. Setelah puas mengeluarkan air matanya, Aqila mulai dapat berfikir dengan tenang.
"Jangan Aqila, saya tidak mau kamu begitu. Itu membuat saya menjadi jahat. Tapi... mengapa kamu berkata seperti itu? apakah kamu tidak menyukainya?" tanya Laras.
"Karena persahabatan kita lebih penting" Ucap Aqila sambil tersenyum.
__ADS_1
"Aqila, apakah kamu tidak menyukainya?"tanya Laras.
"Kak Arif layak disukai, ia memiliki hati yang sangat baik" ucap Aqila
"Maksud saya, menyukainya sebagai laki-laki" ucap Laras
"entahlah, saya tidak tahu. Saya memang menyukainya tapi suka kepada kebaikan hatinya" ucap Aqila.
Laras menatap wajah Aqila, tidak ada tanda-tanda berbohong pada wajahnya. Ia sangat senang pada jawaban Aqila. Ia memeluk Aqila dan membisikkan ucapan terimakasih padanya
__ADS_1