
Seruni menahan tekanan batin yang hebat, banyak gunjingan dan cemoohan yang dialamatkan kepadanya.Terkadang ia menangis diam-diam dikamar mandi agar Anwar tidak mendengarnya. Ia berpura-pura tegar namun sebenarnya hatinya sangat rapuh. Satu Minggu yang lalu secara tidak sengaja ia bertemu dengan Siska dan Jimi sahabat baiknya, ia mencoba menghindar namun terlambat. Mereka melihat dan menghampirinya.
"Lo kemana aja? hilang gitu aja"
Ucap Siska
Seruni hanya diam dan menunduk, ia tidak tahu harus berkata apa
"Lo bunting?" Ucap Jimi.
Siska memelototi Jimi karena pertanyaan Jimi tidak perlu ditanyakan lagi, namun Jimi tidak perduli
"Siapa yang udah ngebuntingin? Udah minta pertanggungjawaban?" Sambung Jimi
Wajah Seruni memerah entah karena malu atau marah. Ia menatap Jimi tajam
__ADS_1
"Maaf, ini bukan urusanmu" Ucap Seruni
"Emang yang nabung di perut Lo berapa orang sih sampe kagak tahu bapaknya" Ucap Jimi sambil memegang tangan Seruni yang hendak pergi.
Air mata Seruni meleleh begitu saja dari kedua bola matanya, ia merasa sakit hati dan direndahkan. Ia menarik tangannya dan berlari tanpa berpaling namun masih terdengar suara Jimi yang berbicara padanya
"kenapa kagak Lo gugurin aja kalo Lo pinter. Jadi Lo kagak mesti kehilangan masa muda Lo"
Seruni sudah hafal karakter Jimi sahabatnya yang suka bicara blak-blakan namun kali ini ia merasa sangat terluka.
...*****...
Anwar belum mengerti arti suami siaga karena ia memang bukan seorang suami, hp nya berdenyit beberapa kali namun ia tidak sadar karena hp nya disilent dan suara ramai. Ia menyadari saat hendak mengabadikan kemenangannya, ada telepon tidak terjawab berulang-ulang dari Seruni.
Anwar menelpon balik berkali-kali namun tidak ada jawaban, ia mulai khawatir. Ia melajukan motornya dengan kencang, hatinya sangat was-was.
__ADS_1
...*****...
Seruni merasa sakit pada perutnya beberapa kali, ia menelepon Anwar tapi tidak ada jawaban. Rasa sakitnya kian bertambah menghebat, cepat dan panjang. Ia merintih-rintih kesakitan, diraihnya apa yang bisa diraih, ditariknya kencang-kencang, kemudian berteriak-teriak dan mengejang, ia berusaha keras mengeluarkan bayi dalam kandungannya, perjuangan yang begitu hebat dan panjang. Seruni tidak pernah memeriksakan kehamilannya karena rasa malunya yang tinggi, sehingga masalah dalam kehamilannya tidak diketahuinya.Ia berjuang dengan perjuangan yang sangat hebat, ia berjuang sampai nafasnya terhenti, perjuangannya berakhir sebelum dapat melahirkan buah hatinya. Anwar tiba dengan sangat terlambat, ia menghampiri Seruni
"Sayang, bangun sayang, saya datang" ucap Anwar sambil menepuk-nepuknya beberapa kali.
"Sayang, bangun sayang" Ucap Anwar sesegukan menahan tangisnya.
Anwar berlari-lari meminta pertolongan karena ia tidak tahu harus bagaimana, tetangganya berdatangan, bahkan ada yang berinisiatif memanggil dokter. Ia seperti orang linglung saat dinyatakan Seruni berikut bayinya telah meninggal, dipeluknya tubuh Seruni erat-erat.
"Maafkan saya... tolong maafkan saya" ucap Anwar tergugug.
Beberapa saat kemudian ia jatuh tidak sadarkan diri, pukulan batinnya teramat hebat baginya.
Saat Anwar membuka matanya, ia telah ada dikamar miliknya dan ditunggu oleh ayahnya. Ia teringat Seruni dan calon bayinya.
__ADS_1
"Dimana Seruni ayah? dimana dia? dia mau melahirkan anakku" tanya Anwar penuh keharuan.
Rangga tidak menjawab, ia hanya memeluk dan membelai anaknya dengan lembut karena Rangga tahu yang dibutuhkan bukan jawaban tapi hiburan dan kasih sayangnya.