Melodi Cinta Aqila

Melodi Cinta Aqila
bab 8 Anwar 3


__ADS_3

Semenjak kematian ibunya, Anwar selalu mengurung diri didalam kamar. Rangga berulang-ulang membujuk anaknya untuk berjalan-jalan diluar atau berbincang-bincang, namun tidak digubris, ia sangat khawatir kesedihan anaknya akan mengganggu kesehatan jiwa anaknya


"Kamu sakit, nak?" ucap Rangga


Anwar hanya menggelengkan kepalanya


"Ibumu pasti akan sedih jika melihat mu seperti ini". ucap Rangga


Anwar perlahan bangkit, ia memandang tajam ayahnya


"Apakah pelaku yang menyebabkan ibu difitnah telah dihukum berat?" ucap Anwar


"Beberapa orang telah ditangkap tapi dalangnya tidak, ia seperti hilang ditelan bumi." ucap Rangga

__ADS_1


Anwar marah mendengar jawaban Ayahnya, ia merasa ayahnya tidak sungguh-sungguh mengusut kasus yang menimpa ibunya. Ia kecewa dan pergi meninggalkan rumah.


Rangga terlalu sayang terhadap putra satu-satunya, ia tidak ingin merasakan kehilangan lagi. Ia membiarkan Anwar bertindak apa yang dia inginkan, ia hanya mengirim orang untuk memenuhi keperluannya.


Roda kehidupan selalu berputar, Anwar tumbuh menjadi liar. Terlibat dengan segala kenakalan remaja adalah hal biasa baginya, kecuali satu yang tidak dia lakukan yaitu menyakiti perempuan.


Seorang gadis menjadi pelecehan dan bulan-bulanan teman-teman satu tongkrongan Anwar. Gadis itu bersandar di dinding dengan wajah pucat dan berkeringat dingin, nafasnya tersengal-sengal memancarkan ekspresi takut dan tertekan.


Darah Anwar bergejolak, ia lupa akan persahabatannya, ia bantai seluruh teman-temannya bagai kesetanan. Anwar terduduk lesu setelah semuanya kabur dengan luka-lukanya, tiba-tiba ia merasa mual lalu memuntahkan darah segar dari mulutnya, disusul dengan kehilangan kesadarannya.


"Dimana ini?" ucap Anwar sambil menjelajahi seluruh ruangan yang asing baginya


"Kamu berada di kamar kost ku, terimakasih telah menolong ku. Nama saya Seruni, kamu siapa?" ucap Seruni sambil tertunduk

__ADS_1


Sikap malu-malu Seruni membuat api cinta dalam dada Anwar semakin berkobar. Anwar belum pernah merasakan cinta sebelumnya, perasaan ini adalah untuk pertama kalinya.


"Sa...ya.... Anwar" Jawab Anwar terbata-bata.


Seruni merawat Anwar dengan cekatan dan penuh kelembutan sehingga Anwar cepat sembuh, namun setelah sembuh Anwar enggan berpisah dengan Seruni.


Seruni adalah korban perceraian orang tua nya, ayah dan ibunya telah menikahi orang lain. Ia merasa dibuang, ibunya takut pada suaminya sedangkan ayahnya terlalu menuruti istri barunya. Setelah beberapa hari tinggal bersama Anwar, Seruni merasa nyaman, ia merasa mendapatkan kasih sayang yang belum pernah didapatkannya. Jadilah mereka seperti suami istri, kebahagiaan dan kegembiraan menghiasi mereka hingga Seruni merasa ada yang berbeda pada dirinya. Ia sering merasa mual dan muntah-muntah, kepalanya pusing, dan nafsu makannya berubah. Naluri kewanitaannya mengatakan ia sedang hamil, dugaannya diperkuat dengan tertundanya menstruasi seminggu terakhir.


Seruni bimbang setelah membaca tanda dua garis pada test pack, ia tidak ingin menggugurkan kandungannya namun ia pun malu untuk melahirkannya. Ia tidak Sudi di bully, tapi ia pun menyadari tidak ada bangkai yang dapat disembunyikan. Beberapa hari Seruni bermuram durja, ia mengambil keputusan menggugurkan kandungannya tanpa sepengetahuan siapa pun termasuk Anwar.


Setelah mencari berbagai informasi, Seruni menjalani berbagai macam proses pengguguran kandungannya, namun selalu gagal. Ia bolos sekolah karena merasa perut buncitnya sedikit demi sedikit terlihat makin jelas. Anwar pun mulai menyadari perubahan pada Seruni. Ia mengelus-elus perut Seruni kemudian menciuminya


"Apakah sedang ada calon anak kita diperutmu?" tanya Anwar

__ADS_1


Seruni mengangguk, ia merasa tidak ada gunanya menutupinya. Anwar merasa senang, ia berjingkrak-jingkrak seperti anak kecil


__ADS_2