Melodi Cinta Aqila

Melodi Cinta Aqila
bab 18 Seorang Pembantu


__ADS_3

Aqila terbangun saat adzan subuh berkumandang, ia membereskan tempat tidurnya, membersihkan tubuhnya, shalat berjamaah, memasak, mencuci baju, membersihkan rumah kemudian mengulangi pelajaran yang dipelajari di sekolah. Ia tidak membiarkan Shinta mengerjakan pekerjaan rumah sekecil apapun karena ia tidak mau Shinta mengalami kelelahan apalagi sampai jatuh sakit.


Shinta mengajak Aqila ke rumah majikannya karena Aqila terus-menerus memintanya untuk ikut membantu pekerjaannya pada hari libur. Mereka berhenti di sebuah rumah minimalis yang diberikan cat warna abu-abu muda sehingga nampak manis. Shinta memencet bel yang terletak disamping pintu pagar, beberapa saat kemudian seorang gadis kecil seusia Aqila membuka pintu pagar. Aqila dan gadis kecil itu sama-sama terkejut


"Aqila, apakah kamu anaknya Bu Shinta?" tanya gadis kecil itu


"Iya" jawab Aqila sambil menganggukkan kepalanya.


Gadis kecil itu menyunggingkan senyuman, ia menutup pintu pagar setelah semuanya memasuki rumah, ia nampak gembira kemudian berlari-lari masuk kedalam kamarnya. Ia mengambil hp yang tergeletak diatas ranjangnya kemudian keluar kamar. Ia memphoto kegiatan Aqila secara diam-diam kemudian memphostingnya di grup Chatting dengan tulisan


"Anak babu gue", tidak lama kemudian banyak komentar yang menghujat Aqila. Gadis kecil itu merasa puas dengan berbagai komentar miring dari teman-temannya.


Pagi-pagi sekali Aqila menyusuri jalanan sempit menuju sekolah dengan kedua kaki mungilnya, setelah hampir tiba di sekolah matanya menangkap pemandangan yang membuatnya iba, ia berlari mendekati seorang ibu yang berjalan terpincang-pincang dan nampak kepayahan.

__ADS_1


"Ibu akan kemana? tanya Aqila.


Ibu itu menoleh, Aqila sangat terkejut melihat wajahnya yang mengerikan, ada bekas luka yang dalam dan amat lebar pada wajahnya. Aqila secepatnya menahan keterkejutannya agar ibu itu tidak tersinggung


"Mau ke Sekolah Dasar itu" Ucap ibu tersebut sambil tersenyum, jarinya menunjuk ke arah Sekolah tempat Aqila menimba ilmu


""Kebetulan saya juga sekolah di sana, kita bisa jalan bersama" ajak Aqila sambil membantu ibu tersebut agar berjalan lebih baik


"Terima kasih nak, engkau baik sekali" ucap ibu tersebut dengan dipenuhi rasa terima kasih.


"Siapa orang yang bersamamu, Aqila? Ucap Yusuf, teman sekelas Aqila


Aqila terdiam, ia pun belum menanyakan identitas wanita yang bersamanya.

__ADS_1


"Saya mencari Irfan anak kelas enam, untuk memberikan ini" Ucap ibu tersebut sambil menunjukkan rantang ditangannya.


Tidak berapa lama kemudian Irfan muncul, ia nampak marah dengan kehadiran ibu tersebut.


"Untuk apa kamu datang kesini" Ucap Irfan Ketus


"Kamu belum sarapan dan tidak membawa bekal makan siang mu, saya khawatir kamu sakit" ucap ibu tersebut sambil menyodorkan rantang ditangannya


"Tidak usah khawatirkan saya, pergi sana!" Ucap Irfan dengan nada suara tinggi. Tangannya menampik rantang dengan keras hingga makanan jatuh berserakan. Ibu tersebut pun kehilangan keseimbangan dan ikut terjatuh. Aqila cepat menolong ibu malang tersebut agar tidak terjatuh lebih parah.


"Siapa perempuan itu?" tanya Jaka kepada Irfan


"Pembantu saya" ucap Irfan

__ADS_1


Aqila merasa sakit hati atas sikap Irfan. Menurut pemikirannya pembantu juga manusia, apalagi perempuan tersebut berusia lebih tua maka harus dihormati, terlebih lagi perempuan tersebut juga bermaksud sangat baik.


Aqila mengusap air mata ibu tersebut yang mengalir deras kemudian membangunkannya. Ia memperhatikan kepergian wanita itu dengan mata nanar teringat ibunya yang juga seorang pembantu


__ADS_2