
Mata Gamal menangkap adanya titik hitam, instingnya memberitahu hal tersebut adalah senapan dari sniper handal yang mengarah tepat di kepala Shinta
"Praaaang................"
Peluru melubangi kaca jendela kemudian menembus bahu Gamal saat ia menubruk untuk menyelamatkan nyawa Shinta, darahnya muncrat, mengalir deras di wajah dan baju Shinta.
"Gamaaal" Shinta menjerit histeris saat terbebas dari keterkejutannya, ia menangis sangat keras melihat keadaan Gamal.
"Gamal... darahnya banyak sekali?" ratap Shinta, tangannya mencoba menutupi darah yang mengucur dari bahu Gamal.
"Ini hanya luka kecil" ucap Gamal, ia memaksakan dirinya tersenyum walaupun lukanya terasa panas dan perih.
Para pengawal datang dari balik pintu, dengan cekatan mereka memindahkan Gamal dan Shinta di tempat yang aman.
"Bawa pergi Shinta dari sini!" Perintah Gamal kepada salah satu pengawalnya.
__ADS_1
Shinta merasa berat meninggalkan Gamal, tangannya menepis pengawal yang hendak membawanya.
"Cepat, bawa dia pergi!"Perintah Gamal dengan menaikkan intonasi suaranya.
"Nyonya, mari ikuti saya" Ucap salah seorang pengawal kepada Shinta.
Shinta berjalan mengikuti pengawal didepannya, namun baru beberapa langkah ia berbalik, matanya menatap Gamal penuh permohonan.
"Tolong, jagalah dirimu baik-baik" Ucap Shinta pelan.
Shinta merasa lebih tenang, ia berbalik dan pergi mengikuti pengawal yang berjalan didepannya. Mereka berjalan cepat namun penuh perhitungan menyusuri lorong-lorong hotel. Shinta dituntun masuk dalam suatu tempat yang tampak buntu dan tersembunyi, pengawal tersebut menempelkan id card nya dibalik dinding paling bawah. Rupanya lantai tersebut adalah lift elevator tersembunyi yang terhubung dengan ruangan rahasia dibawanya. Ruangan yang sangat indah dan elegan namun tidak ada pintu yang melengkapinya.
Shinta membersihkan wajahnya yang dipenuhi oleh darah Gamal yang mulai mengering, lalu mengganti pakaiannya. Ia melihat dari CCTV ada beberapa orang hilir-mudik membawa senjata api.
Pengawal membuka permadani ruangan tersebut, lalu menekan tombol dibawah kaki meja. Rupanya ruangan mewah tersebut terhubung dengan area parkir khusus tamu VVIP.
Shinta diajak memasuki salah satu mobil yang terparkir lalu mereka meninggalkan gedung hotel. Shinta tidak ingin tempat tinggalnya diketahui Gamal, maka ia memberi tahu arah jalan
__ADS_1
yang berlawanan.
"Turunkan saya disini, tolong sampaikan rasa terima kasih saya yang besar kepadanya" Ucap Shinta, ia telah mempertimbangkan cara agar dapat kembali ke rumahnya tanpa dicurigai.
"Baik" ucap si pengawal sambil menghentikan mobil ditepi jalan.
Shinta menunggu hingga mobil yang dikendarai si pengawal menghilang, lalu bergegas menuju toko pakaian di pinggir jalan. Ia membeli satu stel pakaian sederhana kemudian mengganti pakaian yang dikenakannya. Menurut pemikirannya pakaian mahal tidak cocok dipakai ditempat tinggalnya sekarang, ia meninggalkan pakaian mewahnya begitu saja di ruang ganti. Ia lalu menuju halte bus Transjakarta berbaur dengan beberapa orang yang baru pulang bekerja.
...*****...
Gamal rebah di kasur spring air tipe essence disalah satu kamar hotel, peluru yang bersarang di bahunya telah dikeluarkan oleh dokter pribadinya. Ia enggan pergi ke Rumah sakit karena khawatir memancing perhatian wartawan. Tangannya meraih handphone yang tergeletak di lemari kecil sampingnya, lalu menelepon seseorang
"Apakah ini perbuatan mu, Anggun?" tanya Gamal
"Ya, hanya peringatan kecil untuk mu" jawab Anggun
Gamal tampak kesal, ia memukul dinding sekerasnya untuk melampiaskan kekesalannya.
__ADS_1