
Anwar tertunduk malu setelah mengungkapkan isi hatinya, ia meminum teh hangat dihadapannya seteguk demi seteguk sampai habis. Ia tampak menikmatinya namun sesungguhnya hal tersebut adalah untuk mengusir rasa cemasnya, cemas menanti jawaban dari Shinta.
"Dahulu, saya menikahi mas Ardian hanya karena ingin menyenangkan hati ibu. Saya tidak melayaninya dengan sepenuh hati, ada keterpaksaan dalam hati saya untuk menjalani peran sebagai seorang istri. Tetapi dia begitu sabar menghadapi saya, cintanya begitu tulus dan murni. Berpisah dengannya telah mengajarkan kepada saya untuk menghargai waktu...., setiap detik bersamanya...adalah anugerah yang sangat besar yang harus saya syukuri.....Setelah mas Ardian meninggal...., saya menyadari betapa penting kehadirannya dalam hidup saya..." Ucap Shinta terbata-bata, ia berusaha menahan Isak tangisnya namun air matanya mengalir deras di pipinya
Shinta menghapus air matanya dengan ujung bajunya. Ia merasa tidak tega menyakiti hati Anwar yang begitu baik dan berbudi luhur namun ia pun tidak tega jika ada yang menggantikan posisi almarhum suaminya didalam hatinya.
Anwar terdiam mendengar ucapan Shinta, ia tidak tahu penyebab sesak di dadanya, hatinya begitu perih seperti diiris-iris, harapannya hancur berkeping-keping, pikirannya pun kacau balau. Selama ini ia belum pernah ditolak wanita. Rasa sakit yang dialaminya sekarang baginya sangat luar biasa menyakitkan. Ia bersusah payah untuk tersenyum agar tidak membebani hati Shinta atas penolakannya, ia tidak ingin Shinta merasa bersalah kepadanya.
"Hari sudah mau Maghrib, saya pamit pulang dulu dan saya berharap kamu mau mempertimbangkannya lagi" ucap Anwar.
Mata Anwar tertuju pada bocah satu setengah tahun yang sangat lucu, ia menjadi rebutan anak-anak kecil untuk digendong
"Apakah bocah kecil itu Tegar?" tanya Anwar
__ADS_1
"Iya, sekarang dia sering jadi rebutan mereka" jawab Aqila
Anwar mendekati Zainab yang sedang menggendong Tegar
"Bolehkah paman menggendongnya sebentar?" ucap Anwar
"Boleh, tapi hati-hati ya, jangan sampai membuatnya menangis" ucap Zainab
Anwar mengambil Tegar dari Zainab, ia menggendongnya dengan hati-hati lalu diciumya. Tegar spontan tertawa geli. Hal tersebut justru tampak menggemaskan di mata Anwar dan memancing hasratnya untuk menciuminya kembali beberapa kali. Kesedihan dan luka hatinya seolah-olah terobati oleh gelak tawa Tegar yang renyah. Setelah puas bermain-main dengan Tegar, Anwar menyerahkan kembali kepada Zainab yang masih setia menantikan bocah kecil itu di pelukannya.
"Kak Aqila, dia itu siapa? mengapa saya baru melihatnya?" tanya Zainab kepada Aqila.
"Dia dokter Anwar, apakah kamu tertarik padanya?" ucap Aqila sambil mengedipkan matanya kepada Zainab
__ADS_1
"Huh.. Siapa yang terterarik" ucap Zainab
"kalau begitu untuk apa kamu bertanya tentang nya?" tanya Aqila dengan tersenyum
"Saya bertanya karena rasanya baru kali ini melihatnya" ucap Zainab
"Bukan karena ketampanannya?" ucap Aqila sambil menahan tawanya
"Dede Tegar jauh lebih tampan darinya" ucap Zainab sambil meninggalkan Aqila, ia kembali bermain bersama teman-temannya
Anwar merasa tingkah laku Aqila dan Zainab yang membicarakannya sangat kekanak-kanakan namun lucu. Ia melambaikan tangannya, lalu pergi menjauhi kediaman Shinta. Hatinya yang semula penuh luka telah terobati, semangat juangnya untuk merebut hati Shinta telah timbul kembali.
saya tidak boleh menyerah
__ADS_1
saya harus berusaha lebih keras
tapi apa yang harus saya lakukan?