Melodi Cinta Aqila

Melodi Cinta Aqila
bab 17 Dua Sisi


__ADS_3

Lima orang anak laki-laki dan satu orang anak perempuan mendatangi tempat tinggal Aqila


"Assalamualaikum, Kak Aqila" ucap anak-anak kecil


"Wa 'alaykumussalam warahmatullahi wabarokatuh, mari masuk" Ucap Aqila sambil tersenyum lebar.


Anak-anak kecil itu segera masuk kemudian mencium tangan Aqila dan Arif dengan sopan, kemudian duduk membentuk barisan dengan rapi


"Ini kak Arif, kakak kelas kak Aqila" ucap Aqila memperkenalkan Arif kepada mereka.


Arif tersenyum ramah, kemudian meninggalkan mereka agar lebih fokus berinteraksi.


"Sebelum belajar, seperti biasa kita membaca surat Al-fatihah terlebih dahulu" ajak Aqila.


Mereka membaca Ummul kitab dengan fasih dan lancar sehingga Aqila merasa sangat gembira.


"Sebelum memulai pelajaran baru, kakak ingin mengetahui seberapa banyak kalian menguasai pelajaran sebelumnya, apakah kalian siap?" ucap Aqila


"Siap kak" jawab anak-anak serentak

__ADS_1


"Zainab, jika ada lima kantong plastik dimeja kakak dan setiap kantong plastik berisi tiga buah jeruk. Berapa jumlah seluruh jeruk di meja kakak?" tanya Aqila


"Lima belas kak" jawab Zainab mantap


"Rama, berapa sisa jeruk jika diambil dua kantong?" tanya Aqila


"Sembilan" jawab Rama


"Adi, berapa yang didapat setiap orang jika sisa jeruk dibagikan kepada tiga orang?" tanya Aqila


"Tiga buah jeruk" Jawab Adi


Selama satu jam Arif terpana menyaksikan Aqila mengajari anak-anak didiknya, ia begitu takjub dengan metode yang digunakan Aqila. Ia seperti melihat sosok yang berbeda dari Aqila yang dikenalnya selama ini.


Aqila mengakhiri pelajarannya setelah ia yakin anak-anak didiknya menguasai apa yang disampaikan, kemudian meminta mereka berdoa sebelum meninggalkan ruangan. Anak-anak kecil itu pun berlari berhamburan setelah membaca doa, sambil membawa jajanan dari Arif.


"Sudah lama kah kamu mengajari mereka? tanya Arif


"Sudah tujuh bulan" Jawab Aqila

__ADS_1


"Mengapa kamu mau melakukan itu, apa motivasi mu?" tanya Arif kembali


"Ada banyak hal, pertama saya ingin hidup saya bermanfaat walaupun sekedar mengajar. kedua, saya ingin mereka kelak tidak putus asa dalam menuntut ilmu. Mereka hidup dalam kemiskinan. Apakah Kakak pernah merasakan lapar selama tiga hari? mereka pernah merasakannya. Memasuki universitas adalah perjuangan berat karena..." Aqila tidak dapat melanjutkannya


Mulut Aqila serasa tercekik dan nafas di dadanya terasa berat, Ia teringat dengan nasibnya sendiri. Untuk Sekolah Dasar saja, ibunya begitu bersusah payah membiayainya. Jangankan sepatu baru atau tas baru, buku bekas saja terasa mahal baginya. Kerap kali ia berfikir jika dirinya dan adiknya sama-sama bersekolah, apakah ibunya sanggup membiayai?


"Hari sudah sore, saya mau pulang dulu" Arif mengalihkan pembicaraan. Ia bangkit dan keluar ruangan.


"Tapi sebentar lagi Ashar" Ucap Aqila


"Saya shalat di rumah saja" Ucap Arif


"Kamu tidak perlu mengantarkan saya" Sambung Arif.


Arif melambaikan tangannya lalu pergi tanpa menoleh lagi. Berbagai perasaan berkecamuk didalam hatinya, ia merasa malu pada dirinya sendiri. Ia sekarang merasa sebagai manusia tidak berguna. Ia malu karena terkadang merasa bangga dengan pujian-pujian yang dialamatkan kepadanya atas prestasinya. Orang tuanya, guru-guru dan teman-temannya selalu menyanjungnya sebagai orang yang memiliki masa depan cemerlang.


Cih.. pujian kosong


Ia mencela, entah kepada dirinya sendiri atau yang memujinya.

__ADS_1


__ADS_2