Melodi Cinta Aqila

Melodi Cinta Aqila
Bab54 Sudut Pandang


__ADS_3

Suara alarm yang mendengungkan telinga berbunyi tiada henti, asap hitam mengepul dari beberapa sudut rumah sakit, orang-orang nampak panik dan dipenuhi kecemasan, mereka berlari-lari meninggalkan kamarnya.


Salah seorang pengawal yang berjaga di luar memberitahu telah terjadi kekacauan akibat kebakaran, kemudian disusul dengan masuknya seorang perawat kedalam ruangan, perawat tersebut menyuntikkan cairan kedalam infus Bagus Anugerah. Setelah selesai dengan tugasnya, perawat tersebut mendekati Shinta kemudian membiusnya.


Gamal sangat marah, ia menyadari kesalahannya namun telah terlambat, sebuah peluru bersarang di kedua kakinya saat akan mengejar Shinta yang dibawa pergi, ia terjungkal dilantai namun tetap berusaha mengejar Shinta, walaupun logikanya memberi tahu hal tersebut sia-sia belaka, ia melihat seluruh pengawalnya telah dihabisi sebelum mereka menjalankan aksinya.


Orang-orang bertambah panik saat melihat peristiwa yang terjadi pada Gamal, mereka berteriak-teriak sambil berlari untuk menyelamatkan diri. Beberapa orang yang dianggap menghalangi jalan keluar ditikam beberapa kali dengan pisau oleh anak buah Stevan.


... *****...


Di sebuah tempat tidur mewah dan luas, Shinta tampak seperti seorang putri tidur dalam dongeng, jantung Stevan berdebar-debar, ia tidak kuasa untuk mencium bibir Shinta yang begitu mungil dan indah.


Shinta, terlalu lama saya menahan diri terhadap sikap congkak mu. Walaupun berulang kali kamu membuatku gusar namun saya tidak kuasa untuk membenci mu.

__ADS_1


Mata Shinta bergerak-gerak lalu kesadarannya pulih perlahan-lahan. Ia terkejut saat menyadari seorang pria begitu dekat dengan wajahnya, bahkan bibirnya dicium dengan penuh nafsu. Ia mendorong pria tersebut, perasaannya bercampur aduk antara marah dan benci.


"Selamat datang Shinta, apakah kamu pun menikmatinya juga?" tanya Stevan sambil membuka kemejanya, ia ingin memamerkan badannya yang tegap dan atletis.


"Pergi!" Perintah Shinta dengan suara keras.


"Hahaha..." Stevan tertawa renyah, ia merasa sangat senang melihat ekspresi wajah Shinta yang sedang marah, wajah itu nampak cantik dan menggoda dalam pandangannya.


tanya Stevan.


Stevan menghampiri Shinta kembali, ia membuka paksa pakaian Shinta, ia pandai bela diri dan ahli dalam mengunci lawan sehingga mudah baginya menundukkan perlawanan Shinta.


"Hentikan Stevan.... tolong... hentikan..." kata Shinta sambil menangis, ia merasa nasibnya sudah berada diujung tanduk. Ia tidak memiliki jalan keluar lagi selain memohon dan mengetuk hatinya.

__ADS_1


"Saya hanya perempuan biasa... yang ingin menjalani.... hidup apa adanya..., saya bukan siapa-siapa..., tolong.... maafkan saya jika telah berbuat salah kepada mu" ucap Shinta sambil terisak-isak.


Nafsu birahi Stevan padam seketika, hatinya luluh oleh air mata Shinta, ada rasa pilu yang menyusup di dadanya.


"Aaaaaaagh..." Teriak Stevan sekeras-kerasnya.


"Saya pun tidak mau seperti ini. Kamu lah penyebab dari semua ini. Telah lama saya merindukan sebuah rumah tangga yang harmonis, tenang, dan dipenuhi kedamaian bersama mu, tapi kamu menolaknya. Bahkan kamu memilih bunuh diri daripada hidup bersama saya" kata Stevan.


Wajah Shinta memucat, ucapan Stevan membuatnya tertekan, ia telah mengenal Stevan melebihi siapa pun, ia tahu kebenaran dari ucapannya.


"Maafkan saya" ucap Shinta.


"Saya lelah menjalani hidup tidak tentu arah, saya ingin mengakhiri petualangan ku segera, saya ingin menikah dengan mu. Ku mohon jangan membuat saya kecewa lagi, Shinta" ucap Stevan sambil berlutut, wajahnya melukiskan kesenduan dan penderitaan yang amat dalam.

__ADS_1


__ADS_2