
Shinta membuka jendela kayu dan mengikat gordennya, ia seolah sedang mempersilahkan cahaya matahari pagi untuk bertamu ditempat tinggalnya yang mungil. Suara tangisan bayi menuntun kakinya ke kamar, bagai terhipnotis ia meraih bayi mungil kepangkuannya lalu membuka kancing bajunya dan menyusuinya. Ia mengelus-elus wajah bayi mungilnya dengan penuh kasih sayang.
Bagaimana jika pria itu masih belum menyerah, apa yang harus kulakukan?
Wajah Shinta menegang, rasa ngeri dan takut menghantui pikirannya, bukan mustahil bila pria itu akan mendendam kepadanya, mendadak keringat dingin membasahi tubuhnya. Ia segera beranjak ke meja tulis, diraihnya sebuah pena mungil warna biru dan selembar kertas putih bersih. Tangan kanannya bergerak-gerak bagai tarian diatas kertas sedangkan tangan kirinya menimang bayi mungilnya didadanya. Setelah selesai menulis, ditatapnya kertas itu. Ada rasa ragu menyelimuti dadanya.
Kemana saya harus pergi.... bagaimana nasib anak-anak dikemudian hari....
Shinta menarik nafas dan mengeluarkannya dalam-dalam, perasaannya sangat tertekan. Ia memasukkan kertas kedalam amplop dan dirapikannya.
Mata Shinta memperhatikan Aqila yang tenggelam dalam pelajaran sekolahnya, entah mengapa bibirnya terasa berat untuk meluncurkan kalimat yang ada di dalam hatinya. Ia mendekati Aqila dan mengusap rambut hitamnya.
"Kamu sedang belajar apa sayang?" ucap Shinta halus
__ADS_1
"Menghafal beberapa rumus matematika, Bu." Jawab Aqila. Ia menutup bukunya lalu memasukkannya kedalam tas.
"apakah ibu sudah merasa baikan?" sambung Aqila sambil memperhatikan wajah ibunya. Ada rasa khawatir terpancar pada matanya.
Shinta hanya mengangguk, ia memegang tangan Aqila dengan lembut
"Nak, besok Ibu berencana pergi merantau.." ucap Shinta, ia terdiam beberapa saat kemudian melanjutkan kalimatnya
"Ibu juga tidak tahu akan kemana.. Kehidupan selanjutnya mungkin akan lebih sulit, maukah kamu bersabar untuk itu?" ucap Shinta, Air matanya meleleh membasahi pipinya .
Didalam Klinik bersalin berlantai dua terjadi keributan setelah Shinta menyerahkan surat pengunduran dirinya. tangis haru dan pelukan perpisahan mewarnai para pegawai klinik.
"Mengapa kamu mengundurkan diri?" Ucap Rosminah
__ADS_1
"Apakah ada yang kamu tidak sukai disini sayang?" Sambung bidan Erni
"Atau mungkinkah ada yang menyakiti mu?" Ucap Rudi sang Apoteker
"Tidak... bukan... saya hanya hendak kembali ke Jakarta, tempat orang tua ku" ucap Shinta setengah berbohong untuk menghentikan berondongan ucapan yang ditujukan kepadanya.
"O... ya... dimana Dokter Anwar? saya tidak melihatnya semenjak tadi" sambung Shinta
"Hari ini ia cuti" ucap Maya
Shinta tersentak, terselip rasa bersalah mengganggu hatinya. Anwar telah banyak melepas Budi padanya, ia merasa malu jika tidak berpamitan langsung padanya. Shinta mengambil hp dari kantongnya kemudian menelepon Anwar tapi tidak tersambung, ia mengulangi beberapa kali tapi tetap sama. Shinta memutuskan untuk mengirim pesan singkat kepadanya.
...****...
__ADS_1
Langit tampak cerah, burung-burung berkicau merdu, mereka terbang bergerombol menghiasi langit biru dan awan putih kemudian singgah di ranting-ranting pohon yang rindang disekitar pemakaman. Anwar duduk disamping makam Seruni, ia melantunkan berbagai do'a kebaikan untuk almarhumah, ia tenggelam dalam kekhusyukan. Ada rasa bersalah dan rasa malu bergelantungan dalam hatinya, ia termenung cukup lama untuk mengambil pelajaran dari masa lalunya, kemudian menaburkan bunga-bunga dan menuangkan air diatasnya. Ia mengucapkan salam kemudian pergi meninggalkan makam orang yang pernah mengisi hatinya.