
Anwar telah menjadi magnet pengikat hati para kaum hawa, setiap gadis tertarik pada pesonanya, semua yang ada pada dirinya selalu menjadi topik pembicaraan menarik. Mengapa tidak? ia muda, tampan, kaya, cerdas dan berwibawa. Namun perlombaan para gadis itu untuk meraih hatinya sia-sia belaka, dinding pertahanan didadanya terlalu kuat.
Anwar merasa bosan di ruangannya, ia pergi meninggalkan ruang kerjanya untuk melepaskan diri dari rutinitas yang membosankan. Ia berjalan kaki meninggalkan gedung, ia merasa takjub dengan aktivitas orang-orang yang beraneka macam. Matanya terbelalak melihat dua orang bocah yang berjalan beriringan karena salah satunya terasa tidak asing, kepaIanya tiba-tiba menjadi berat. Ia lalu membututi mereka.
...*****...
Terangnya sinar matahari berubah menjadi gelap, disusul dengan derasnya air hujan menimpa bumi. Arif dan Aqila berlari-lari mencari tempat perlindungan. Mereka berteduh di emperan toko, berdesakan dengan banyak orang.
Aqila memandang iba seorang anak berusia tujuh tahun yang kakinya memar akibat terjatuh saat mencari tempat berteduh. Ia memberikan Hansaplas untuk menutupi lukanya.
"ini untuk menutupi luka mu" ucap Aqila sambil tersenyum.
Anak itu menatap Aqila dengan bingung, ia tidak pernah mendapatkan perhatian dari orang lain sebelumnya. Aqila membersihkan luka memar itu dengan lembut lalu membuka Hansaplas ditangannya kemudian menempelkannya pada kaki anak itu yang memar.
"Saya Aqila, namamu siapa?" ucap Aqila
__ADS_1
"Saya Satrio" Ucap anak itu
Aqila meminta roti kepada Arif, lalu roti itu disodorkan kepada Satrio
"Ini untuk mu" Ucap Aqila
Satrio sangat senang, ia membuka bungkusnya lalu memakannya dengan lahap.
"Enak sekali, terima kasih" ucap Satrio dengan nada gembira.
Anwar memperhatikan setiap gerak-gerik Aqila dan Arif. Ia merasa kagum saat mereka membantu seseorang berusia lanjut yang kesulitan menyebrangi jalan, ia pun kagum pada saat mereka membagi-bagikan makanan pada beberapa anak kecil, ia pun kagum pada mereka saat menolong menemukan rumah seorang idiot yang tampak kebingungan mencari rumahnya.
Anwar merasa terenyuh saat melihat tempat tinggal Aqila yang begitu kumuh. Beberapa anak kecil mendatangi rumah itu, mereka berkumpul membentuk barisan yang sangat rapi. Arif membagi-bagikan roti yang dibelinya, anak-anak itu tampak sangat senang dan langsung memakannya.
Anwar tidak dapat menahan harunya menyaksikan Aqila mengajari mereka. Aqila mengajari dengan sabar dan teliti tata cara bersuci dan Shalat. Aqila begitu terampil membetulkan setiap gerakan yang belum tepat. Sesekali terdengar tawa ramai dari anak-anak itu saat ada gerakan yang salah dari teman mereka.
__ADS_1
"Adik-adik, kakak akan mengajukan pertanyaan yang pernah diajarkan sebelum mengakhiri pelajaran hari ini. Apakah kalian siap menjawab nya?" tanya Aqila
"Siap Kak" jawab mereka serentak
"Apakah syarat wajib Shalat?" tanya Aqila
"Islam, baligh dan berakal sehat" jawab Zainab
"Bisakah dijabarkan lebih jelas?" tanya Aqila
"Seorang non muslim, seorang anak, dan seorang yang akalnya tidak sempurna tidak memiliki kewajiban untuk Shalat" jawab Rama
"Apakah maksud dengan akal yang tidak sempurna itu?" tanya Aqila
"Orang yang tidak dapat menggunakan pikirannya dengan sempurna, seperti : orang gila, orang idiot, orang mabuk, orang yang sedang tidur dan orang yang sedang pingsan" Jawab Adi
__ADS_1
Aqila tampak puas dengan jawaban mereka, ia menutup pelajarannya dengan shalawat, surat Al-fatihah dan doa.