Melodi Cinta Aqila

Melodi Cinta Aqila
Bab 48 Hadiah Penghargaan


__ADS_3

Stevan duduk di kursi kebesarannya, ia dikelilingi beberapa orang yang tampak serius memberikan laporan secara bergantian. Beberapa kali mulutnya meneguk wine burgundy berusia tua dengan tangan kirinya.


"Bawa Anggun kesini!" Ucap Stevan


Dua orang pria berbadan kekar segera keluar ruangan kemudian kembali dengan membawa Anggun ditengah mereka. Beberapa orang yang belum pernah melihat Anggun membelalakkan matanya, mereka merasa takjub dengan kecantikan Anggun yang sangat luar biasa.


"Anggun, terima kasih karena selama ini kamu bekerja dengan sangat baik" ucap Stevan


"Saya banyak berhutang Budi, sehingga sudah selayaknya untuk membalas setiap kebaikan yang saya terima" ucap Anggun sambil tersenyum.


Senyuman yang terukir dari bibir indah milik Anggun sangat mempesona, lesung pipinya menambah kecantikannya, dan suaranya yang merdu seperti sedang bersenandung. Hal tersebut membuat beberapa pria hidung belang bergelora nafsu birahinya.


"Hendri, beri dia hadiah!" ucap Stevan

__ADS_1


Seorang pria tua bernama Hendri mendekati Anggun sambil membawa tiga buah kotak perhiasan yang berbentuk indah dan sebuah amplop. Hendri membuka amplop yang berisi ATM unlimited lalu menyerahkannya kepada Anggun. Hendri pun membuka satu persatu kotak perhiasan yang dibawanya dihadapan Anggun, mata indah Anggun nampak berbinar-binar setiap melihat isi dari kotak perhiasan yang ditunjukkan kepadanya.


Kotak yang pertama berisi perhiasan terbuat dari berlian yang sangat indah dan bernilai seni tinggi, kotak kedua berisi perhiasan yang terbuat dari dari permata berbentuk unik dan menarik, kotak ketiga yang berisi sebuah zambrut yang sangat langka dan sulit didapatkan.


Wajah Anggun nampak cerah secarah sinar matahari pagi, tangannya tidak kuasa untuk tidak menyentuh perhiasan-perhiasan indah tersebut. Setelah puas menyentuhnya, ia meminta salah seorang pengawal untuk mengirimkan barang-barang tersebut dirumahnya.


Robert mendekati Anggun selangkah demi selangkah seolah-olah ada beban berat dikakinya, wajahnya tampak kusut dan murung, tatapan matanya sulit dilukiskan, tangannya pun tampak gemetar.


"Terima kasih atas semua dukungan dan bantuan mu kepada saya" bisik Anggun ditelinga kiri Robert.


Tangan Robert segera menghapus air mata yang sempat membasahi pipinya, hatinya terasa sakit dan perih. Ia memejamkan matanya beberapa saat untuk menguatkan hatinya lalu mendorong tubuh Anggun dengan sekuat tenaga hingga Anggun terjatuh di lantai lalu menampar pipinya berulang-ulang.


"Apa.... yang.... kamu....lakukan? apakah...saya.. melakukan... suatu... kesalahan... kepada mu?" ucap Anggun sambil terisak

__ADS_1


Hati Robert melunak, ia tidak tega melihat air mata orang yang paling dicintainya mengalir deras, hatinya jauh lebih sakit dari yang dirasakan Anggun, batinnya terluka setiap kali ia menampar pipi Anggun.


Robert menggertakkan giginya, dadanya terasa sesak dan hatinya seperti terkoyak. Ia berusaha keras menahan segala gejolak perasaannya yang terluka parah, ia mengeluarkan botol dari saku bajunya, lalu membuka tutup botol tersebut kemudian menyiram wajah Anggun dengan air keras.


"Panas... panas... aduh.... sakit sekali.... " teriak Anggun sambil menutup wajahnya yang terasa panas dan perih


Tidak pernah sedikitpun terbersit dalam pikiran Anggun jika Robert akan berlaku kejam terhadapnya, bermimpi pun ia tidak akan percaya jika Robert tega menyakitinya sedemikian rupa.


Robert menembak kedua kaki Anggun yang mencoba mendekatinya, ia meninggalkan Anggun yang bergulingan di lantai sambil menjerit-jerit kesakitan


seluruh orang terpana dengan kejadian yang mereka saksikan, mereka merasa ngeri oleh kekejaman Robert sekaligus merasa iba kepada nasib Anggun yang malang. Namun hal tersebut tidak berlaku bagi Stevan, ia merasa senang, bahkan ia bertepuk tangan untuk menunjukkan kegembiraannya, ia seperti orang yang telah menonton pertunjukan teater yang menarik.


Robert menatap Stevan dengan penuh kebencian, ia seperti orang yang sedang terluka kemudian ditaburi garam pada lukanya. Jika ia diberikan pilihan antara dirinya atau Anggun yang disiksa pasti dengan senang hati ia akan memilih dirinya yang disiksa. Tapi ia hanya diberikan pilihan antara anaknya atau Anggun yang disiksa, dengan berat hati ia memilih untuk menyiksa Anggun.

__ADS_1


__ADS_2