Melodi Cinta Aqila

Melodi Cinta Aqila
Bab 53 Cinta Suci Shinta


__ADS_3

Mengapa saya seolah-olah dibebani rasa kemunafikan?


Saya berusaha membohongi diri sendiri dari ketulusan cinta yang digenggamnya dengan erat.


Berkali-kali ku tolak cintanya dan ku hancurkan perasaannya.


Ketika ia pergi, kesadaran itu pun datang menghampiri.


Namun segalanya telah terlambat, menyesal pun tiada guna.


Semoga Allah memberikan pendamping hidup yang lebih baik dari saya Anwar.


Shinta kembali ke kamar Bagus Anugerah, langkah kakinya terasa lemas seperti tidak bertenaga, ia hampir ambruk saat seseorang memeluknya dari belakang.


"Kamu dari mana sayang?" ucap Gamal dengan suara yang halus.

__ADS_1


Shinta tidak sanggup berkata, ia sedang menyembunyikan gelombang besar dalam perasaannya, ia sedang berusaha tenang dan tegar dalam menghadapinya.


"Kamu nampak lelah, mau ku antar pulang sayang?" ucap Gamal sambil mengecup pipi kiri Shinta dengan lembut.


"Tidak, biarkan saya menemani ayah disaat-saat terakhir hidupnya" kata Shinta.


Shinta melepaskan pelukan Gamal, ia membalikkan tubuhnya, matanya yang jeli menatap wajah Gamal yang dipenuhi rasa kecemasan dan kekhawatiran, ia memeluk Gamal kemudian menangis keras di pelukannya untuk menumpahkan seluruh beban didalam jiwa nya.


"Sekarang saya adalah istri mu, saya bersedia menjadi makmum mu, saya siap mendampingi mu disaat susah dan senang. Jika suatu saat saya berbuat salah tolong jangan hujat saya, jangan hukum saya dan jangan tinggalkan saya, tetapi maafkanlah saya dengan segenap hatimu" kata Shinta.


"Oh, ya.. Saya membawa rendang kesukaan mu, dari tadi siang kamu belum makan, pasti sangat lapar bukan?" kata Gamal.


Shinta melepaskan pelukannya, tangannya digandeng Gamal memasuki kamar. Mereka makan dalam satu piring. Wajah Shinta memerah karena Gamal memintanya saling suap menyuap.


...*****...

__ADS_1


 


Malam merangkak perlahan-lahan mengokohkan kekuasaannya, lampu-lampu hias mempercantik rupa kota yang tidak pernah bosan untuk bersolek bersaing dengan para wanita malam yang tersebar di sisi bar.


Para pria hidung belang meramaikan permainan para wanita malam, segala senyum genit disertai bujuk rayu dan bualan-bualan kosong menghiasi mulut manis mereka.


Batin Stevan memberontak dalam diamnya, entah sudah berapa kali ia telah berhubungan intim dengan wanita yang berbeda, nafsu birahinya disalurkan tanpa harus menuntut sebuah cinta apalagi pernikahan. Namun anehnya ia selalu merasa marah setiap mendengar kabar Shinta didekati pria lain apalagi dinikahi, ada perasaan tidak terima dalam dirinya.


Stevan pernah menguji kesetiaan Shinta dalam mengarungi rumah tangganya bersama Ardian. Ia sengaja menculik Qeira untuk memancing amarah Anggun, ia sudah memprediksikan Anggun tidak akan mampu menyakiti Gamal, tapi ia mengetahui dengan pasti Anggun selalu membalas dengan setimpal setiap sakit hatinya, orang yang tepat menjadi sasaran adalah Ardian. Ia senang saat Ardian diusir tanpa uang sepeser pun. Ia juga sudah memperkirakan Ardian mampu membangun ekonominya dari nol, maka ia menyuruh orang untuk merusak usaha yang dirintis Ardian. Ia pun meracuni Ardian sedikit demi sedikit, ia ingin Shinta merasa tersiksa oleh kondisi Ardian yang jatuh miskin dan sakit-sakitan.


Cinta Shinta yang tulus, cinta yang tidak diiringi kalkulasi matematis dan tidak menuntut balas dari segi materi membuat Stevan kagum sekaligus benci.


"Cinta? Persetan....!" teriak Stevan sambil melempar gelas tepat di kepala seorang gadis penghibur yang berada didepannya.


Kepala gadis tersebut mengeluarkan darah segar, terasa sakit dan pusing tapi dia tidak berani menangis, ia sadar tangisannya akan menjadi akhir dari hidupnya.

__ADS_1


"Roy, bantu si tua bangka itu menemui ajalnya dan seret Shinta kehadapan ku!" perintah Stevan kepada orang yang disampaikannya.


__ADS_2