
Sudah dua bulan Shinta tinggal dan bekerja di klinik bersalin. Aqila menggantikan ibunya saat Shinta kelelahan, ia sangat cekatan dalam pekerjaannya. Dokter Anwar dan para perawat memperlakukan mereka dengan baik.
Dokter Anwar mengajak Shinta dan Aqila berbelanja di pasar tradisional. Aqila sangat senang, matanya berbinar-binar, mulutnya tidak henti-hentinya berceloteh sambil menunjuk barang-barang yang menurutnya menarik. Dokter Anwar dan Shinta hanya tersenyum menyaksikan tingkah laku bocah itu.
Seorang remaja tanggung tiba-tiba menabrak Shinta, merebut tas dan membawanya kabur. Shinta tersungkur jatuh, air ketubannya pecah, wajahnya pucat.
Dokter Anwar terkejut ia membopong Shinta kedalam mobil, sambil berteriak-teriak kepada Aqila, memperingatkannya supaya tidak mengejar si pencuri, namun Aqila tetap mengejarnya.
"Pencuri... pencuri..." teriak Aqila sambil berlari-lari mengejarnya
Langkahnya dihadang dua orang dewasa. Aqila dipukuli dan ditendangi sampai mulutnya berdarah. Untung lah Dokter Anwar menyelamatkannya, Dokter Anwar menghajar kedua orang yang memukuli Aqila sampai babak belur kemudian lari terbirit-birit.
"Apakah sakit?" tanya dokter Anwar sambil membersihkan darah di mulut Aqila.
Aqila memeluk Dokter Anwar, kemudian tangisnya pecah. Dokter Anwar membelai rambut Aqila dengan lembut.
"menangis lah sepuas mu tapi jangan sampai terlihat ibu mu, jangan sampai membuatnya bertambah cemas" ucap Dokter Anwar
Sementara itu didalam mobil, Shinta sangat cemas terhadap putrinya. Mulutnya berulangkali menyebut nama anaknya. kecemasannya baru hilang setelah melihat Dokter Anwar menggandeng tangan anaknya.
__ADS_1
Aqila memeluk ibunya, ia ingin memberi kekuatan kepada ibunya agar tetap bertahan sampai adiknya dilahirkan
...*****...
Shinta tersenyum melihat bayi mungilnya,setelah berakhirnya perjuangan hidup dan mati, bayinya lahir dengan selamat. Dokter Anwar melantunkan adzan dan Iqamah dikedua telinga bayi mungil itu.
Aku belum bisa pulang, aku memutuskan untuk membesarkan anak-anakku sendiri, tanpa perlu meminta pertolongan mereka. Apakah kalian masih memendam dendam kepada kami?
Air mata Shinta meleleh, sejak kematian suaminya ia kehilangan tempat untuk bersandar, ia menarik nafas dalam-dalam teringat empat tahun setelah pernikahannya.
Gamal yang patah hati tiba-tiba memperkenalkan seorang gadis jelita, Anggun namanya. Shinta sangat senang Gamal mau membuka hatinya kembali, namun tidak dengan Ardian. Shinta tidak mengerti dengan sikap suaminya.
"Dia itu wanita ular!" ucap Ardian sinis sambil menunjuk jarinya ke wajah Anggun.
Wajah Anggun sangat pucat, isak tangisnya pecah seketika. Wajah Gamal merah padam, tinjunya telak memukul Ardian, Ardian pun membalasnya. Pertarungan sengit antara dua saudara pun terjadi.
"Berhenti berkelahi, kalian bersaudara... tolong berhenti" teriak Shinta
"Berhenti berkelahi... Kalian bersaudara" teriak Anggun
__ADS_1
Teriakan-teriakan Anggun dan Shinta membangunkan Aqila dari tidurnya, ia pun menangis sekeras-kerasnya. Suasana rumah sangat kacau dan gaduh.
Untunglah bapak dan ibu mertua datang menjenguk, sehingga suasana bisa kembali terkendali. Semuanya diperintahkannya untuk duduk
"Mengapa kalian berkelahi?" Ucap Bagus Anugerah
Ia memandangi kedua putranya secara bergantian. Ia hampir tidak percaya dengan apa yang disaksikannya
"Dia menghina calon istri saya, ayah. Dia menyebut Anggun dengan wanita ular" ucap Gamal sambil mengepal-ngepalkan tangan nya.
"Ardian, bisakah kamu jelaskan maksud dari ucapan mu?" tanya Bagus Anugerah kepada Ardian
"Mengapa tidak ditanyakan langsung padanya?, dia pasti mengerti" jawab Ardian, wajahnya diarahkan pada Anggun
"Apakah manusia tidak bisa bertaubat? saya mengakui....saya bukan wanita baik-baik, saya.... dijual oleh ayah tiri saya ditempat prostitusi setelah digagahinya selama dua tahun.... lalu ada seorang yang berbaik hati mengangkat dari lembah hina itu.....dididik dan diajarkan banyak keterampilan. Namun rupanya saya hanya dijadikan alat untuk membantu memuluskan ambisinya. Saya sudah kehilangan kebahagiaan dan lupa akan arti kasih sayang.....sampai saya bertemu mas Gamal.......Ia mengajarkan dan sekaligus memberikan arti kasih sayang pada saya....." ucap Anggun sambil terisak
Gamal memegang tangan Anggun untuk memberikan dukungan kepadanya. Shinta tak dapat membendung air matanya, Ardian terdiam, dan bapak mertua merestui hubungan mereka.
Kedatangan Aqila untuk menjenguk adiknya membuyarkan lamunan Shinta. Aqila tampak senang dengan kehadiran adiknya, ia mengelus-elus kepala adiknya dan menciumi pipinya.
__ADS_1