Melodi Cinta Aqila

Melodi Cinta Aqila
bab 38 Buah yang manis


__ADS_3

Seorang pria berwajah tampan tampak serasi dengan kemeja lengan panjang warna biru yang dipakainya. Ia sedang termenung di dalam ruangan yang didesain penuh citra maskulin, tangannya menggenggam sebuah kalung emas, tergambar jelas guratan kekecewaan pada wajahnya. Dengan sangat hati-hati, pria itu meletakkan kalung yang dipegangnya kedalam kotak yang berbentuk unik dan berkelas lalu dimasukkan kedalam laci.


Pria tampan tersebut adalah Stevanus Audrey, seorang yang sangat piawai dalam mempermainkan hukum dan pintar dalam menjalankan roda ekonomi. Banyak tokoh terkenal yang dijadikan budaknya dan tidak sedikit perusahaan besar yang dijatuhkannya.


Seorang pria tua menghampiri Stevan dengan sopan, ia nampak segan untuk duduk sebelum dipersilahkan.


"Ada kabar apa Hendri?" ucap Stevan


"Tempat tinggal nona Shinta telah diketahui" ucap Hendri, ia jelas mengetahui jika Shinta telah menikah namun masih menyebut Shinta dengan nona, hal ini dilakukan untuk menyenangkan hati Stevan.


Ada pancaran kebahagiaan yang tiba-tiba muncul dihati Stevan, namun ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak menunjukkannya pada Hendri.


"Keadaan nona sangat baik, tapi sepertinya ada seorang pria yang sering mengunjunginya" ucap Hendri, ia mencoba memprovokasi Stevan

__ADS_1


"Braak" Meja dipukul oleh Stevan dengan keras


Hendri dapat menangkap sikap Stevan yang tidak mampu menahan emosinya, ia menundukkan kepalanya, namun senyum tipis muncul dari bibirnya. Ia mengirimkan photo Anwar melalui telepon genggamnya.


"Ia bernama Anwar, putra dari Rangga Sukmajaya, ia merasa percaya diri karena selama ini tidak sedikit perempuan yang tergila-gila oleh ketampanannya" ucap Hendri


"Beri pelajaran kepada bocah itu!!" ucap Stevan dengan menaikkan intonasi suaranya.


----------------------------------------------------------------------------------


Anwar sangat tersentuh dengan perbuatan mulia Aqila yang memberikan pendidikan pada anak-anak kurang mampu. Ia menyadiakan tempat yang lebih layak untuk anak-anak belajar, ditempat tersebut pun didirikan perpustakaan yang berisi berbagai macam buku, bahkan dilengkapi pula dengan WiFi. Anwar pun memberikan beasiswa kepada beberapa orang yang berprestasi diantara mereka.


Anwar mencoba membantu perekonomian masyarakat di perumahan kumuh tersebut dengan memberikan berbagai kursus dan pelatihan gratis untuk berwirausaha. Selain itu ia juga membentuk koperasi yang dikelola masyarakat sekitarnya untuk menjalankan usaha mereka. Anwar pun memperbaiki got dan jalan yang rusak, juga memperbaiki cara berpikir masyarakatnya agar memperhatikan kebersihan lingkungan.

__ADS_1


Perbuatan Anwar membuahkan hasil yang manis, perekonomian masyarakat membaik secara signifikan, lingkungan yang sebelumnya kumuh kini nampak asri dengan berbagai tumbuhan hijau, anak-anak pun mendapat pendidikan yang baik.


Seperti biasanya, Anwar berjalan menyusuri gang-gang sempit menuju tempat tinggal Shinta, ia mengajak dua orang karyawan untuk membantunya, mereka membawa kardus-kardus yang nampak berat. Berkali-kali dua orang karyawannya mengeluh, namun Anwar hanya tersenyum atas keluhan mereka


"Pak, apa sih isinya kok berat banget? rasanya seperti mengangkat gajah saja" ucap Agung


"Pak, kenapa saya yang diajak sih? bapak kan tahu kalau saya punya penyakit encok" ucap Rijal


"Masih jauh gak? kaki ku sudah pegel banget nih" ucap Agung sambil meringis


Beberapa pemuda yang sudah hafal dengan wajah Anwar segera membantu membawakan kardus-kardus yang dibawa Anwar, Agung dan Rijal.


"Itu tempatnya" ucap Anwar sambil tersenyum kepada dua karyawannya, tangannya menunjuk sebuah tempat yang sudah dipenuhi anak-anak kecil

__ADS_1


__ADS_2