Melodi Cinta Aqila

Melodi Cinta Aqila
bab 42 Sebuah Permintaan


__ADS_3

Anwar memperhatikan gerak-gerik pria tampan tersebut, ia menduga pria itu adalah putranya. Ia merasa tugasnya sudah selesai, ia melangkahkan kakinya untuk pergi meninggalkan Rumah Sakit. Namun baru beberapa langkah, pria tersebut menghampirinya.


"Tunggu sebentar" ucap pria tersebut


Anwar berhenti melangkah, ia membalikkan badannya sehingga berdiri berhadapan dengan pria tersebut


"Apakah kamu yang menyelamatkan nyawa ayah saya?" ucap pria tersebut sambil mengulurkan tangannya


"Saya hanya orang yang kebetulan lewat saat ayah mu mengalami Kecelakaan" ucap Anwar, ia tersenyum sambil menjabat tangan pria yang berada dihadapannya


Pria tersebut tersenyum, ia merasa kagum pada ucapan Anwar yang nampak sekali tidak mau menonjolkan jasanya. Ia dapat memperkirakan peristiwa tragis yang menimpa ayahnya dari bangkai mobil yang telah hancur terbakar.


"Saya Gamal, saya sangat berterimakasih atas pertolongan yang kamu berikan. Jika kamu membutuhkan sesuatu, kamu tidak perlu sungkan untuk mengatakannya pada saya" ucap Gamal

__ADS_1


"Saya Anwar, terima kasih banyak atas niat baik mu. Maaf, saya harus segera pulang karena ayah saya sedang sakit" ucap Anwar


"ok, silahkan" ucap Gamal


Anwar bergegas menuju halaman parkir, lalu masuk kedalaman mobilnya. Ia segera melajukan mobilnya meninggalkan Rumah Sakit.


----------------------------------------------------------------------------------


Setelah selesai shalat isya, Shinta mulai membuat pindang ikan yang merupakan pesanan dari pelanggan.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh" ucap seorang lelaki tua


"Wa'alaykumussalam warahmatullahi wabarokatuh" jawab Shinta

__ADS_1


Shinta melangkahkan kakinya ke pintu, lalu membukanya, enam orang lelaki berusia lanjut yang merupakan tokoh masyarakat sedang berdiri didepan rumahnya.


"Silahkan masuk ke dalam" ucap Shinta


Enam orang tokoh masyarakat tersebut masuk ke dalam rumah, lalu duduk dilantai. Shinta menyuguhkan teh dan makanan kecil, lalu duduk menemani mereka.


"Nak Shinta, Kedatangan kami kesini hendak menyampaikan dua hal. Hal pertama dari maksud kedatangan kami adalah untuk berterima kasih kepada mu, karena kamu telah melahirkan anak yang begitu baik. Aqila telah menyumbangkan tenaganya untuk memajukan pendidikan disini." ucap pak Suryo yang merupakan ketua RT


"Hal kedua dari maksud kedatangan kami adalah menyangkut nak Anwar. Dulu, hampir penduduk disekitar sini adalah warga miskin. Jangankan memikirkan pendidikan, untuk makan saja sulit, bahkan tidak sedikit warga yang mengalami busung lapar. Warga yang menjadi pengangguran pun semakin lama semakin banyak. Sebagian warga yang putus asa mengambil jalan pendek, mereka menjadi pengemis, pencopet, atau pencuri. Bahkan tidak sedikit gadis-gadis disini yang menjadi wanita malam. Kedatangan nak Anwar merupakan berkah yang sangat besar bagi kami, bantuannya bukan hanya menyelamatkan ekonomi kami tapi juga menyelamatkan iman dan kehormatan warga kami. Atas semua kebaikan hatinya, kami sangat berharap nak Anwar mendapatkan kebahagiaan" ucap ustadz Syarif, salah seorang ulama dan sesepuh masyarakat. Air matanya mengalir deras membasahi pipinya yang keriput.


"Anak saya sebulan yang lalu jatuh dari tebing, saya tidak memiliki uang untuk membayar biaya pengobatannya yang sangat besar. saya berusaha meminjam uang kesana-kemari namun tidak ada yang bersedia membantu, padahal ia adalah anak saya satu-satunya. Saat saya sudah menyerah, nak Anwar memberikan bantuannya tanpa diminta, ia benar-benar sangat baik" ucap pak Juli.


"Saat ini nak Anwar telah mencapai usia yang sudah cukup untuk memasuki gerbang pernikahan, kami berharap ia menyempurnakan sebagian agamanya. Nak Shinta, maukah kamu membantunya?" ucap ustadz Syarif

__ADS_1


Air mata Shinta mengalir deras, ia sudah lama mengetahui kebaikan hati Anwar, ia pun sangat berharap Anwar hidup dalam kebahagiaan, hatinya sangat perih seperti disayat-sayat setiap melihat duka yang terbaca dari wajah Anwar akibat penolakannya. Namun ada rasa malu dihatinya jika ia harus menggeser posisi almarhum suaminya.


__ADS_2