
Suara adzan Maghrib terdengar merdu menyejukkan kalbu, menggetarkan sukma, menembus relung-relung hati yang telah rindu untuk menemui penciptanya. Shinta dan Anwar bergegas menuju mushola, mereka tidak ingin tertinggal untuk menjalankan shalat berjamaah.
Anwar memperpanjang setiap sujudnya dalam shalat ba'diah Maghrib, air matanya mengalir membasahi sajadahnya, ia memanjatkan doa agar hubungannya dengan Shinta dikokohkan dalam tali pernikahan yang suci dan dijauhkan dari kemaksiatan, dosa, dan bala.
Anwar memandang Shinta yang sedang menunggunya, basuhan air wudhu membuat wajah Shinta menjadi lebih cerah dan segar.
"Anwar, ayah mertua saya adalah Bagus Anugerah" kata Shinta sambil menundukkan kepalanya, ia telah siap membuka sejarah kehidupannya kepada Anwar.
Anwar tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya, Bagus Anugerah adalah CEO dari perusahaan besar PT. Lion Gold Company, usahanya terdiri dari beberapa sektor industri dan asetnya sangat berlimpah. Kehidupan Shinta berbanding terbalik dengan kehidupan para konglomerat, ia sangat miskin dan penuh perjuangan dalam memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Ia dapat menduga ada suatu hal yang luar biasa terjadi pada Shinta.
"Ayah saya bernama Bambang Hadiwijaya....." ucapan Shinta terhenti karena dipotong Anwar
"Maksudmu Profesor Bambang Hadiwijaya?" tanya Anwar
"Benar" jawab Shinta
Anwar tidak menduga Shinta adalah putri dari profesor Bambang Hadiwijaya, seorang pria cerdas blesteran Indonesia dan Jerman. Kecintaan Bambang Hadiwijaya kepada tanah air membuatnya lebih memilih mengabdikan diri di Indonesia dibandingkan hidup mewah di Jerman. Anwar telah mengetahui peristiwa kematian istri Bambang Hadiwijaya yang disusul oleh kematiannya dari pemberitaan media massa beberapa tahun yang lalu.
"Persahabatan ibu telah mengantarkan saya menjadi istri almarhum mas Ardian, ibu telah..." ucapan Shinta kembali terhenti dipotong Anwar
"Ibumu jatuh dari tangga saat berlibur di Bali dan ayah mu meninggal dunia akibat serangan jantung" kata Anwar.
__ADS_1
"Benar" ucap Shinta.
"Shinta, mengapa kamu sampai terlunta-lunta dijalanan?" tanya Anwar.
Shinta melihat ada pancaran kemarahan yang tersorot dari mata Anwar namun ia pun tidak mampu menjawab pertanyaan Anwar. Ia hanya diam sambil menundukkan kepalanya.
"Bolehkah saya menemui tuan Bagus Anugerah?" tanya Anwar
Shinta memandang wajah Anwar lekat-lekat, ia khawatir Anwar akan mencari keterangan tentang penyebab kesulitannya kepada ayah mertuanya, ia tidak mau hal buruk terjadi pada Bagus Anugerah.
"Saya berniat melamar mu dan meminta restu dari nya" ucap Anwar.
Wajah Shinta memerah, ia tersipu malu, hal tersebut justru semakin menambah kecantikannya sehingga membuat jantung Anwar berdetak lebih kencang.
"Shinta, ayah ingin berbicara dengan mu" ucap Gamal, perhatiannya kemudian beralih kepada Anwar.
"Anwar, apa yang terjadi pada mu?" tanya Gamal, wajahnya dipenuhi dengan kecemasan.
"Saya mengalami kecelakaan, tapi sekarang sudah membaik" ucap Anwar sambil tersenyum.
"Jika kamu membutuhkan suatu bantuan, saya harap kamu tidak sungkan untuk mengatakannya" kata Gamal sambil membantu Anwar berjalan mendekati ayahnya.
__ADS_1
"Ayah, ini adalah orang yang telah menolong mu saat kecelakaan" ucap Gamal.
Shinta terkejut dengan ucapan Gamal, ia tidak menyangka orang yang telah menolong ayah mertuanya adalah Anwar, rasa suka dan kagumnya pun bertambah tanpa disadarinya.
Bagus Anugerah tersenyum kepada Anwar, ia sangat mengagumi sosok Anwar yang rela berkorban untuk orang lain.
"terima kasih atas pertolongan mu, nak Anwar" Kata Bagus Anugerah, kemudian dijawab dengan anggukan kepala Anwar.
"Shinta, maafkan ayah karena telah membuat mu menderita" ucap Bagus Anugerah
"Saya senang menjadi menantu ayah. Almarhum mas Ardian memperlakukan saya dengan baik, saya bersyukur telah menjadi istrinya" ucap Shinta.
"Ardian telah tiada, Gamal dicampakkan oleh istrinya, sedangkan saya bertambah tua dan lemah..." keluh Bagus Anugerah, ia memutuskan perkataannya karena nafasnya terasa sesak dan dadanya sakit.
"Shinta, ayah berterima kasih kepada mu yang telah menemukan Qeira, terima kasih pula sudah mengurus Aqila dan Tegar dengan baik. Mereka masih sangat kecil, masih membutuhkan figur dan kasih sayang orang tua yang lengkap. Sedangkan kamu dan Gamal membutuhkan pendamping hidup yang baik...." ucap Bagus Anugerah, ia mengatur pernafasannya kembali.
"Shinta, mau kah kamu mengabulkan permintaan ayah sebelum ayah meninggal?" tanya Bagus Anugerah
"Ayah.... katakanlah, insya Allah Shinta akan memenuhi permintaan ayah" ucap Shinta.
"Maukah kamu menikah dengan Gamal?" tanya Bagus Anugerah
__ADS_1
Kepala Shinta terasa berat, namun ia tetap menganggukkan kepalanya. Mata Anwar membulat sempurna, wajahnya berubah kelam, pikirannya terasa kacau, dadanya terasa sesak dan sempit, hatinya sangat sakit dan perih seperti disayat-sayat oleh belati, ia pergi meninggalkan ruangan tanpa disadari oleh semuanya, ia pergi meninggalkan luka yang amat dalam