Melodi Cinta Aqila

Melodi Cinta Aqila
bab 15 Lidah Tidak Bertulang


__ADS_3

Aqila duduk diantara Martin, tiga orang guru dan beberapa siswa, ia diminta kesaksiannya atas apa yang menimpanya agar dicocokkan dengan perkataan Martin.


"Aqila, coba ceritakan apa yang kamu alami sayang?" Ucap Bu Ratna.


Aqila sangat gugup dan malu untuk menjawab pertanyaan Bu Ratna, namun ia berusaha untuk tabah


"Dia berusaha menodai kesucian ku" Ucap Aqila.


"Benarkah itu Martin?" Ucap Bu Ratna, pandangannya beralih ke arah Martin


"Itu dusta Bu, ia yang berusaha menggodaku" Sanggah Martin


"menggoda bagaimana? tanya Bu Ratna


"Ia yang meminta saya untuk datang ke toilet perempuan saat sepi, ia pula yang memberikan ide kepada saya agar meminta teman-teman saya berjaga diluar. Mereka bisa menjadi saksi untuk itu" ucap Martin, ia berkata dengan penuh percaya diri


Aqila terkejut dengan jawaban Martin yang tidak terduga, ia menahan segala gejolak amarahnya.


"Bagaimana sanggahan mu, Aqila?" Ucap Bu Ratna pada Aqila


"Dia yang berdusta Bu, dia yang berusaha menodai saya" sanggah Aqila


"Kamu yang meminta dan merayu saya untuk bercinta, mereka yang menjadi saksi. Apakah kamu mempunyai saksi atas kebenaran ucapan mu?" Ucap Martin kepada Aqila


Aqila terdiam, ia merasa terpojok, suasana yang semula tentang menjadi gaduh, orang-orang saling ejek. Bu Ratna menenangkan mereka.


"Diantara kalian apakah ada yang mau menjadi saksi atas perkataan Aqila?" ucap Bu Ratna.

__ADS_1


Arif keluar dari rombongan siswa, lalu duduk disamping Aqila.


"Saya yang menjadi saksi jika Aqila tidak bersalah"


Ucap Arif


"silahkan jelaskan kesaksian mu" Ucap Bu Ratna


"Saat itu seluruh murid yang satu kelas dengan saya sedang melakukan pembahasan Karya ilmiah tentang lingkungan hidup, tidak ada satupun yang bolos karena khawatir mempengaruhi nilai kelulusan, ini ada bukti absennya" kata Arif sambil menyodorkan daftar absensi kehadiran kepada Bu Ratna.


"Aqila melewati kelas kami bersamaan selesainya tugas yang kami kerjakan. Saya melihat hp Martin tertinggal dan hendak mengembalikannya namun ia telah masuk ke toilet perempuan dan dijaga oleh Riki, Aldo,Fahmi dan Rino. Saya merasa curiga lalu menghubungi bapak Suryo sebagai guru BP, juga menghubungi teman-teman saya yaitu Irfan, Jaka, Irul dan Laras. Kejadian selanjutnya saya serahkan kepada bapak Suryo" Ucap Arif.


"Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, Martin yang berusaha menggagahi Aqila sedangkan Aqila berusaha mempertahankan kesuciannya." ucap Pak Suryo


Martin tidak mampu berkelit lagi atas perbuatannya setelah Arif dan pak Suryo bersaksi, ia harus menerima kekalahannya.


Laras mengajak Aqila berjalan-jalan mengelilingi taman. Ia ingin sahabatnya menikmati keindahan bunga yang beraneka warna dihiasi kupu-kupu cantik yang berterbangan, juga menikmati pohon-pohon rindang yang segar dihiasi langit biru diatasnya. Setelah serpihan-serpihan kedukaan itu menghilang dari wajah Aqila, Laras mengajak Aqila ke kantin sekolah, perutnya sudah minta diisi.


Didalam kantin terdapat lima orang perempuan yang sedang asyik bergosip sehingga mereka tidak menyadari kedatangan Laras dan Aqila.


"Menurut ku si Aqila aja yang kecentilan, minta digituin kali" ujar Dewi, ucapannya disambut gelak tawa teman-temannya


"Digituin apaan?" Ucap Risty, pura-pura tidak mengerti


" Ah, kamu gak usah berlaga pilon, dimasukin itunya lah" Ucap Chandra


Kembali mereka tertawa terbahak-bahak

__ADS_1


"itunya apaan sih, ngomong yang jelas" ucap Risty, sambil memasang wajah kebodoh-bodohan


"Burung nya si Martin lah" Ucap Dewi


Disambut kembali dengan tawa sampai mereka terpingkal-pingkal.


wajah Aqila pucat pasi sedangkan wajah Laras merah padam mendengar apa yang mereka bicarakan. Laras menghampiri mereka lalu menggebrak meja didepan mereka sekeras-kerasnya sampai mereka semua kaget, lalu menunjuk-nunjuk kearah wajah mereka satu persatu


"Dasar binatang kalian, ada yang kena musibah malah senang. Masih ditambahi pula banyak bumbu penyedap. Mau saya gampar satu-satu apa?" teriak Laras.


Nyali lima perempuan itu langsung ciut, tawa mereka hilang berganti dengan rasa khawatir. Mereka tahu siapa Laras, orang yang selalu membuktikan apa yang diucapkannya.


"Kami cuma bercanda kok, iya kan teman-teman" Ucap Dewi meminta persetujuan empat temannya.


Tapi teman-temannya hanya mematung, tidak ada yang menanggapi walaupun sebuah anggukan kepala.


Laras menumpahkan air es yang berada didepan mereka ke wajah Dewi kemudian menjambak rambutnya. Aqila memegang tangan Laras yang menjambak rambut Dewi


"sudahlah Laras, maafkan mereka. Mari kita ke kelas saja" ucap Aqila


Laras melepaskan jambakannya namun mulutnya masih gatal untuk diam


"Sekali lagi kalian mengatakan perkataan hina itu, habis kalian" ancam Laras.


Didalam kelas Aqila menundukkan kepalanya diatas meja beralaskan tas yang digenggamnya, percakapan lima perempuan di kantin tadi masih terngiang di telinganya, ia menahan tangisnya sedapat mungkin namun tetap saja air matanya mengalir membasahi tas yang digenggamnya.


Hari ini cukup lengkap sudah penderitaan Aqila, ia menghadapi pemaksaan perampasan kesuciannya dan penghinaan yang menyerang psikologisnya.

__ADS_1


__ADS_2