
Shinta pulang ke rumahnya dengan wajah pucat, ia memenangkan dirinya sendiri sebelum mengetuk pintu, ia tidak mau Aqila merasa khawatir.
"tok..tok...tok.." Shinta mengetuk pintu
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh"
Ucap Shinta
"Wa 'alaykumussalam warahmatullahi wabarokatuh" jawab Aqila sambil membuka pintu.
Aqila mencium tangan ibunya lalu menuntunnya masuk. Setelah ibunya duduk, Ia menyiapkan dua buah piring, nasi, tempe goreng dan sambal untuk makan bersama.
Shinta melihat anak keduanya yang sedang tertidur pulas, ia mengelus-alus kepalanya kemudian mencium pipinya, timbul rasa rasa bersalah dalam hati kecilnya karena telah meninggalkannya seharian.
"Apakah Tegar rewel selama ditinggal bekerja?" tanya Shinta.
"Tidak Bu, ia sangat pintar. Tadi dia jadi rebutan Zainab dengan Adi" ucap Aqila dengan bangga.
"Apakah Tegar makannya susah?" tanya Shinta
"Tidak Bu, dia makannya banyak sekali" jawab Aqila
Shinta dan Aqila mencuci tangan mereka, berdoa, lalu menyantap makanan sederhana tanpa menggunakan sendok. Dengan cekatan Aqila membereskan piring yang telah dipakainya, lalu dicuci dan disimpan di dalam rak.
__ADS_1
"Aqila, ibu sudah tidak bekerja lagi. Besok ibu akan mencari pekerjaan baru" ucap Shinta
"Bu, Aqila telah belajar membuat pindang ikan dari ibunya Adi, dan katanya juga ia kesulitan dikarenakan pelanggannya semakin bertambah" Ucap Aqila
Mata Shinta berbinar, ia merasa telah menemukan jalan keluar dari permasalahannya. Ia menepuk-nepuk pundak Aqila.
"Terima kasih sayang, kita bisa membuatnya bersama" ucap Shinta.
Keesokan harinya Shinta dan Aqila mulai membuat pindang ikan, semula ia hanya menitipkan pada ibunya Adi, tapi seiring waktu para pelanggan memesan langsung padanya.
----------------------------------------------------------------------------------
Aqila merasa telah satu minggu Laras bersikap aneh. Laras menjadi lebih pendiam, selalu murung dan lebih senang menyendiri. Beberapa kali Aqila bertanya namun selalu dijawab "tidak ada apa-apa".
"Laras, Apakah kita bisa bicara berdua sepulang Sekolah?" Ucap Aqila sambil memperhatikan mimik wajah Laras
"Adakah yang ingin kamu bicarakan dengan saya?"
Ucap Laras, ucapannya sedikit ketus.
Dari jawaban Laras, Aqila merasa kekhawatirannya adalah benar.
"Banyak, sangat banyak. tolong jangan menolak ya.." ucap Aqila sambil memegang tangan Laras.
__ADS_1
"Baiklah" ucap Laras, ia menyerah.
Setelah bel pulang sekolah berbunyi, Aqila mengajak Laras di taman Sekolah. Mereka duduk berdampingan.
"Katakan Laras, ada apa dengan mu?" ucap Aqila
"Bukankah sudah saya katakan, tidak ada apa-apa" jawab Laras
"Lalu mengapa kamu seperti menjaga jarak dengan ku?" ucap Aqila
"Itu mungkin hanya sekedar perasaan mu saja" ucap Laras.
Aqila tersentak, ia tidak menyangka akan mendapatkan jawaban seperti itu dari Laras.
"Laras, saya meminta maaf jika saya telah berbuat salah" Ucap Aqila
"Memang salah mu apa?" jawab Laras.
Aqila terdiam, ia pun tidak tahu apa kesalahannya. Ia mencoba memutar waktu untuk mengingat kesalahan yang diperbuatnya kepada Laras, namun hasilnya nihil.
"Kamu tidak salah apa-apa pada saya, Aqila. Saya hanya merasa sedih. Saya mencintai kak Arif, tapi sepertinya cinta saya bertepuk sebelah tangan. Hati saya merasa perih dan hancur. Saya memang perempuan biasa, tidak cantik dan tidak pintar. Saya menyadari cinta tidak bisa dipaksa, namun saya tidak bisa menahan kebencian saya kepada orang yang berusaha dekat dengannya." Ucap Laras.
Tangis Laras meledak setelah sekian lama ditahan olehnya. Aqila pun ikut menitikkan air matanya, ia merasa hati sahabatnya ini sangat menderita tanpa disadarinya. Aqila merangkul Laras, mereka menangis saling berpelukan.
__ADS_1