
Setelah para gerombolan orang bertopeng hitam pergi, Robert membubarkan anggota nya, ia mengajak Anggun meninggalkan tempat itu. Suasana malam yang romantis mendorong hasratnya untuk menggandeng tangan Anggun, namun ditepis dengan halus. Tampak Kekecewaan terlukis dari wajahnya dengan sangat jelas, ia harus puas hanya dengan berjalan beriringan
"Saya dengar mereka sudah menggeledah rumah kosong itu, tapi tidak ada yang menemukan mu. Sungguh aneh" ucap Robert
Anggun merasa lucu dengan ucapan Robert, ia menahan tawanya sehingga nampak manis mempesona.
"Saya hanya bersembunyi di atas plafon" ucap Anggun sambil menutupi mulutnya
Hembusan angin malam mempermainkan rambut hitam Anggun, sesekali tangannya menyingkirkan rambut nakal yang menutupi wajahnya. Suatu gerakan sederhana tapi sangat menarik bagi Robert, pancaran kekaguman tersorot dari sinar matanya.
"Saya sungguh tidak mengerti dengan jalan pikiran mu. Kamu menyadari jika mempunyai banyak musuh, tapi berani pergi tanpa pengawalan" ucap Robert.
"Bukankah kamu tahu jika seluruh pengawal ku itu hakikatnya adalah mata-mata Stevan?" jawab Anggun, desahan nafasnya terdengar dalam dan berat seolah ada beban yang menghimpit didadanya.
Robert sadar kesalahannya, ia pun tidak berkutik jika menyangkut Stevan. Orang yang dikagumi sekaligus ditakutinya
__ADS_1
Setelah sampai di depan jalan raya mereka menuju mobil Lamborghini warna merah, Robert membukakan pintu mobil untuk Anggun kemudian ia masuk melalui pintu sebelahnya, lalu masing-masing memasang sabuk pengamannya. Setelah puas menyusuri jalan kota, mobil berhenti di sebuah gedung.
Robert menuntun Anggun memasuki gedung, ia berhenti disebuah kamar nomor 12 lantai dua. Seorang laki-laki nampak sedang meringkuk di lantai, keadaannya sangat memprihatinkan, mukanya babak belur dan sekujur tubuhnya dipenuhi oleh luka-luka. Anggun mendekati laki-laki tersebut untuk melihat lebih jelas, kobaran api kemarahan seketika membakar dadanya.
"Tolong bebaskan saja dia" ucap Anggun
Laki-laki tersebut dan Robert merasa ucapan Anggun sangat aneh, bahkan senyum kemenangan terlihat jelas di wajah laki-laki tersebut.
"Apa?" tanya Robert, ia ingin memastikan jika dirinya tidak salah dengar
Laki-laki tersebut terkejut, kemarahan terpancar dari wajahnya, ia tidak menyangka Anggun tega menggunakan putrinya sebagai penggantinya
"Dasar Bintang tidak berprikemanusiaan, putri ku tidak ada sangkut pautnya dengan perbuatan ku, ia masih kecil dan tidak berdosa apa-apa kepada mu" teriak laki-laki tersebut
"Putri ku pun tidak ada sangkut pautnya dengan ku, dia pun masih kecil bahkan lebih kecil dari putrimu, dan dia pun tidak berbuat dosa kepada mu. Kenapa kamu tega menculiknya?" tanya Anggun, tangannya terkepal menahan amarahnya
__ADS_1
"Tolong... jangan ganggu putriku, saya hanya menjalankan perintah" ucap laki-laki tersebut, ucapannya melemah
"Saya tahu siapa yang memberi mu perintah, saya pun tidak ingin menyulitkan mu, saya hanya perlu mengetahui dimana kamu membuang anak saya" ucap Anggun
Laki-laki tersebut diam beberapa lama, ia nampak berfikir keras, sesekali ia melihat Anggun seperti akan mengatakan sesuatu tetapi diurungkannya.
"Robert--" ucapan Anggun dipotong
"Apakah ucapan mu dapat dipercaya?" tanya laki-laki tersebut, matanya menatap Anggun lekat-lekat
"Apakah saya pernah melanggar janji saya?"ucap Anggun, matanya yang bening menatap balik mata lelaki-laki tersebut.
"Anak mu saya titipkan di Kalijodo" ucap Laki-laki tersebut
"Plak" Anggun menampar laki-laki tersebut, hatinya terasa amat perih mendengarnya
__ADS_1