
Senja tampak sayu membiasakan pesona kecantikannya, langit diselimuti kabut-kabut hitam, titik-titik gerimis turun membasahi bumi, lalu disusul dengan derasnya air hujan disertai angin kencang. Anwar sudah seharian duduk didepan nisan bertuliskan Seruni binti Setiawan, suaranya begitu rawan dan menyayat hati, air hujan mengguyur tubuhnya hingga gemetar menahan dingin. Segala bujuk-rayu Rangga agar Anwar pulang tidak digubrisnya, ia terus duduk bersimpuh seolah enggan berpisah dari tempat itu. Rangga kehabisan akal, ia memerintahkan orang-orangnya untuk membawa Anwar pulang. Anwar berontak dan memaki kalang kabut namun ia kalah tenaga. Anwar dimasukkan kedalam kamar lalu dikunci.
"Buka pintu... buka.... biarkan saya menemaninya" Rintih Anwar sambil menggedor-gedor pintu kamarnya.
" Tolong Ayah, buka pintu... saya masih ingin menemaninya..." ucap Anwar berulang-ulang. Setelah beberapa jam berteriak-teriak, suaranya melemah dan menghilang
__ADS_1
Rangga mengusap air matanya, ia merasa sangat terluka dengan sikap anaknya, ia menyadari semua yang terjadi adalah karena kegagalan dalam mendidiknya, ia membuka kamar dan melihat anaknya tergeletak dibalik pintu. Diangkatnya Anwar kemudian dibaringkan diatas kasur empuk. tubuhnya panas dan bibirnya bergetar menahan dingin. Dokter dan perawat terbaik didatangkan untuk merawat Anwar. Rangga pun ikut menemaninya, ia begitu khawatir kehilangan anaknya. Tiga hari tiga malam Anwar mengalami panas demam yang tinggi, mulutnya tidak henti-hentinya meracau dan air matanya turun disela-sela kedua matanya. Hari keempat panasnya mulai reda dan dinyatakan sehat
Anwar telah sehat secara fisik namun jiwanya masih sakit, ia masih berbaring ditempat tidur tanpa daya, ia tampak lesu dan lemah, matanya tampak kosong menatap langit-langit. Rangga terus-menerus mengajaknya berbicara dan menghiburnya tapi Anwar tidak meresponnya. Didatangkanlah teman-teman Anwar agar dapat memancingnya bicara atau sekedar tersenyum namun hal ini pun sia-sia. Psikiater terbaik pun ikut didatangkan oleh ayahnya namun sampai berminggu-minggu tidak ada perubahan.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh, apakah saya bisa bertemu dengan kiyai?" Ucap Rangga
__ADS_1
"Wa 'alaykumussalam warahmatullahi wabarokatuh, beliau ada didalam. silahkan masuk dan duduk dulu pak" Ucap seorang pemuda.
Rangga duduk diruang tamu, ia disuguhi teh hangat dan makanan ringan. Seorang sepuh menemui mereka, wajahnya nampak terlihat tenang dan bercahaya. Rangga mencium tangan kiyai penuh ta'dzim, ia pun menceritakan maksud kedatangannya yang menyangkut anaknya, sesekali air matanya mengalir tidak terbendung saat bercerita.
Seusai shalat Maghrib berjamaah, Anwar ditinggal pergi oleh ayahnya. Ia ditempatkan dikamar barunya. Selama satu tahun Anwar ditempa jiwanya, ia banyak berubah lebih tenang dan ceria. Ajaran-ajaran dari imam Al-Ghazali dan Ath-Tho'illah merubah cara pandangnya. Ia merasa malu pada dirinya sendiri yang begitu rapuh dan tidak bersyukur, ia pun menyadari dosa-dosanya yang begitu besar. Lantunan istighfar senantiasa ia ucapkan setelah shalat dan do'a-do'a untuk kebaikan orang terkasih selalu ia panjatkan terutama untuk almarhumah ibunya dan Seruni.
__ADS_1