
Anwar masuk kedalam mobil, kemudian mengambil hp yang tersimpan didalam laci, ada beberapa telepon dari Shinta yang tidak terjawab dan ada pula pesan singkasingkat, ia kemudian membacanya
Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh
Mohon maaf karena mengabarimu lewat pesan singkat, saya memutuskan berhenti bekerja dan meninggalkan kota ini. Terima kasih yang tidak terhingga dari hati paling dalam atas semua pertolongan yang kamu berikan, semoga Allah memberikan balasan yang berlipat ganda.
Anwar terkejut setelah membacanya
Dia akan pergi? mengapa dia hendak pergi? kemanakah dia akan pergi?
__ADS_1
Tiba-tiba hati Anwar diserang rasa hampa dan pikirannya terasa kosong, Ia pun merasa cemas dan khawatir. Ia memutar mobilnya dan dilarikan dengan kencang, selama dalam perjalanan ia seperti disiksa berjam-jam, giginya bergemratak saat ada beberapa kali kemacetan, ia benar-benar kehilangan kesabaran dan ketenangannya. Ketika didalam jalan tol ia menyalip beberapa kendaraan yang dirasa sangat lambat namun ia kehilangan keseimbangan, mobilnya oleng kemudian menabrak pembatas jalan lalu terbalik. Kepala Anwar terbentur sangat keras, pelipisnya meluncurkan darah segar dan pecahan kaca mobil berhamburan diwajahnya, Ia tidak sadarkan diri saat itu juga.
...*****...
Pagi itu, pukul delapan lewat Lima belas menit Shinta telah bersiap untuk berangkat. Ia menggendong bayi mungilnya yang masih terlelap sambil menggandeng Aqila ditangan kirinya. Ia pun menenteng gembolan berisi baju-baju ditangan kanan dan pundaknya. Sungguh pemandangan yang mengharukan bagi siapapun yang memandangnya.Ia mempercepat langkahnya menuju jalan raya saat mobil Angkutan Kota menunggunya. Jarak antara terminal dan tempat kost Shinta tidak jauh hanya memerlukan waktu sekitar sepuluh menit. Setelah sampai terminal, Shinta memutuskan menaiki sebuah bis ekonomi agar lebih murah. Bis tersebut telah dipenuhi oleh penumpang, setelah sekian lama mengetem, mobil tersebut berjalan meninggalkan kota Jogjakarta, kota yang indah dan ramah.
"Bu, saya haus" ucap Aqila sambil memegang lehernya.
"Sabar ya nak, ibu lupa membawa air. Nanti kita beli jika ada penjual datang atau beli dipemberhentian bis" bujuk Shinta
__ADS_1
Aqila mencoba untuk memejamkan matanya, ia berpikir jika tidur maka ia tidak akan merasa haus. Namun usahanya tidak berhasil, ia membuka matanya lebar-lebar kemudian perhatiannya berselancar pada pemandangan indah lewat jendela bis. Deretan sawah, pepohonan rimbun dan perbukitan merupakan hal yang baru baginya, ia beberapa kali berdecak kagum.
Penjual minuman datang setelah dua jam Aqila tersiksa dengan rasa hausnya. Aqila mengambil sebotol air mineral dingin dan tahu goreng, Shinta mengambil tiga botol dan beberapa cemilan untuk selama diperjalanan, kemudian ia segera merogoh beberapa lembar rupiah dari dompetnya.
"kembaliannya kurang mbak" ucap penjual minuman
"tidak apa-apa mas, ini sudah cukup" ucap Shinta sambil memasukkan uang kembalian kedalam dompet.
Aqila nampak segar setelah meneguk beberapa kali tegukan air dingin kemudian ia memakan tahu goreng yang dibelinya. Tahu itu terasa sedap baginya, mungkin karena dia sedang lapar. Setelah menghabiskan makanan dan minumannya, matanya terasa berat. Ia pun terlelap dalam tidurnya
__ADS_1