Melodi Cinta Aqila

Melodi Cinta Aqila
bab 36 Memberi Pertolongan


__ADS_3

Pemimpin gerombolan itu menggertak giginya, ia tampaknya sangat kesal karena Anggun tidak mau menyerahkan diri walaupun nasibnya sudah seperti tikus yang masuk perangkap.


" Seret si jalang itu kesini, cepat!" Perintah pemimpin gerombolan bertopeng kain hitam.


Seluruh anggota gerombolan itu segera berhamburan memasuki rumah, cahaya dari senter menerangi seisi rumah, mereka memeriksa setiap sudut ruangan dengan teliti namun Anggun tidak ditemukan, mereka pun menggeledah seluruh barang-barang yang berpotensi menjadi tempat persembunyian namun hasilnya tetap nihil. Dengan terpaksa mereka kembali, salah seorang anggota gerombolan mendekati pemimpin mereka untuk melaporkan hasil pemeriksaannya


"Bang Jabrig, dia tidak ada didalam rumah ini"


"Plaak" tamparan keras segera dilayangkan oleh si pemimpin.


"Cari dia lebih teliti, dia tidak mungkin bisa keluar dari rumah ini!!" perintah si pemimpin, kakinya melangkah memasuki rumah kemudian diikuti para anggotanya.


Namun baru beberapa langkah gerombolan orang bertopeng kain hitam itu berjalan, mereka diserang dengan clurit dan parang. Beberapa orang terluka berat bahkan ada yang tewas seketika. keadaan sangat kacau karena para penyerang itu sangat pandai menggunakan senjata dan tidak segan-segan melukai lawannya.


"Pasukan Gagak, mundur!" perintah seorang pria yang baru datang, ia diikuti oleh sepuluh orang dengan bersenjata pistol

__ADS_1


Para penyerang itu mundur dengan tertib, mereka meninggalkan korbannya dengan kondisi yang sangat mengenaskan.


"Berani sekali kalian mengganggu Anggun, siapa pemimpin kalian?" ucap pria yang baru datang tersebut


Para gerombolan bertopeng kain hitam bungkam semua, mereka merasa lebih baik mati daripada menjawab pertanyaan pria tersebut.


"Roy, potong kedua tangan dan kedua kaki mereka semua, dimulai dari yang paling kanan!" ucap Pria tersebut.


Seorang berambut gondrong dengan cepat memotong kedua tangan dan kedua kaki seorang anggota gerombolan bertopeng.


"Saya lah pemimpinnya, tolong jangan siksa mereka" ucapan penuh getaran keharuan meluncur dari mulut pemimpin gerombolan.


"Berani sekali kamu memerintah saya. Potong lidahnya!" ucap pria tersebut.


Pemimpin gerombolan itu diseret, mulutnya dibuka dengan paksa, kemudian lehernya dicekik, saat lidahnya hampir dipotong suara lembut seorang wanita menyelamatkannya.

__ADS_1


"Robert, bisakah kamu menghentikan permainan mu?" Ucap Anggun


Anggun muncul dari dalam rumah kosong, wajah nya nampak sangat cantik menawan, senyum dari mulut mungilnya seperti menggoda, suaranya sangat halus dan merdu juga penuh kelembutan, langkah kakinya begitu indah gemulai mengesankan sosok feminim dalam dirinya. Ia berjalan mendekati Robert yang tampak terpana melihatnya.


"Robert, mereka hanya orang-orang suruhan. Bisakah jika kamu membebaskan saja mereka?" ucap Anggun


"Jika itu kemauan mu, baiklah. Tapi apakah kamu tidak ingin mengetahui dalangnya?" ucap Robert


"Saya mempunyai banyak musuh, tapi itu adalah buah dari perbuatan saya sendiri. rasanya saya tidak perlu lagi memperpanjang masalah dengannya" ucap Anggun


Robert terdiam, ia sudah lama mengenal Anggun namun hingga kini ia belum bisa mengerti dengan jalan pikirannya. Robert memalingkan wajahnya, nampak gerombolan orang bertopeng kain hitam belum berani beranjak dari tempatnya.


"Mengapa masih belum pergi, apakah kalian benar-benar ingin merasakan hukuman?" ucap Robert


Gerombolan orang bertopeng kain hitam lari pontang-panting, mereka merasa ngeri dengan hukuman yang bisa ditimpakan pada mereka jika masih belum pergi

__ADS_1


__ADS_2